
“Waalaikumsalam. Siapa kamu? Mengapa ponsel anak saya ada sama kamu?” tanya Pak Ferdi dengan tegas.
“Saya Rendi, Om. Saya menemukan ponsel Rahma di trotoar depan kantor Rahma,” jawab Rendi.
“Jangan main-main sama saya! Kamu apakan anak saya?” ujar Pak Rendi dengan tidak percaya.
“Saya tidak apa-apakan Rahma, Om. Saya juga sedang mencari Rahma.” Rendi menceritakan semua apa yang ia ketahui.
“Jika Om tidak percaya, saya ubah menjadi video call agar Om tahu saya sedang berada dimana.” Rendi merubah menjadi video call lalu ia video di sekelilingnya. Terdengar suara Pak Ferdi menghela nafas ketika melihat sekeliling Rendi.
“Baiklah. Kalau memang kamu tidak apa-apakan anak saya, saya minta kamu buat laporan orang hilang ke kantor polisi. Lalu kamu kirim foto hasil kamu lapor ke polisi kepada saya!” ujar Pak Ferdi dengan tegas.
“Baik, Om. Saya akan ke kantor polisi sekarang,” kata Rendi.
“Assalamualaikum.” Pak Ferdi mengakhiri percakapan.
“Waalaikumsalam.” Rendi menyimpan ponsel Rahma di saku celananya lalu ia kembali menyusuri trotoar menuju ke tenda kaki lima di tempat lain.
***
Sementara itu di sebuah villa di Lembang. Pak Bobby turun dari mobil lalu berjalan menuju pintu villa. Ia mengetuk pintu villa. Seorang laki-laki berjaket kulit kira-kira berusia empat puluh tahun membuka pintu villa.
“Mana pesanan saya?” tanya Pak Bobby.
“Ada di kamar, Bos,” jawab laki-laki tersebut.
Pak Bobby masuk ke dalam villa. Seorang laki-laki lain yang sedang duduk di sofa langsung berdiri ketika melihat Pak Bobby.
“Selamat malam, Bos,” sapa laki-laki itu.
“Hmm.” Pak Bobby mengangguk kepala.
Kemudian Pak Bobby membuka pintu kamar. Di dalam kamar ada seorang perempuan sedang tidur di atas tempat tidur. Perempuan menggunakan kerudung. Pak Bobby memandang perempuan itu dari pintu kamar.
“Apa bener dia masih bersegel?” tanya Pak Bobby.
“Bener, Bos. Lihat saja dia pakai kerudung,” jawab laki-laki yang satu.
“Bisa saja berkerudung tapi segelnya sudah rusak,” ujar Pak Bobby.
“Dijamin ini masih bersegel, Bos. Pokoknya Bos pasti puas,” kata laki-laki itu.
“Kalian dapat darimana?” tanya Pak Bobby.
“Dapat dari tempat kost. Tempatnya rahasia. Di tempat kost itu anak-anak kostnya cantik-cantik. Pokoknya bos mau model yang seperti apa di tempat kost itu ada. Nah, kalau yang ini paling unik. Dia jarang terlihat bersama dengan laki-laki,” jawab laki-laki itu.
__ADS_1
“Iya sudah.” Pak Bobby mengeluarkan amplop coklat dari sakunya.
“Nih upah kalian.” Pak Bobby memberikan amplop coklat itu kepada laki-laki tersebut.
Laki-laki itu menerima amplop tersebut lalu mencium amplop pemberian Pak Bobby.
“Terima kasih, Bos,” ucap laki-laki itu.
“Hmm,” jawab Pak Bobby.
“Kami pergi dulu Bos. Selamat bersenang-senang.” Kedua laki-laki itu pergi meninggalkan villa. Pak Bobby mengunci pintu villa. Lalu ia kembali menuju ke kamar. Ia mendekati perempuan itu dan memandangi wajah perempuan itu. Tiba-tiba keningnya langsung berkerut ketika melihat wajah perempuan itu. Ia mengenali wajah perempuan itu.
“Ini kan teman perempuan Rendi,” ujar Pak Bobby sambil memandangi wajah perempuan itu.
Perempuan itu adalah Rahma.
“Si*lan gue ditipu! Pantasan saja ini perempuan dalam keadaan tidur. Rupanya mereka menculik perempuan,” kata Pak Bobby.
Pak Bobby menelepon kedua lelaki tadi dengan menggunakan ponselnya. Namun, teleponnya tidak diangkat.
“Si*lan telepon gue tidak mereka angkat! Mereka pasti sudah kabur,” kata Pak Bobby dengan kesal.
“Bisa gawat kalau Rendi tau. Dia pasti marah besar sama gue. Apalagi teman perempuannya mengenali gue,” ujar Pak Bobby kepada dirinya sendiri.
“Ponselnya hilang. Apa mereka ambil, ya?” tanya Rendi kepada dirinya sendiri.
Pak Bobby memutuskan untuk menelepon Rendi. Ia memiliki nomor ponsel Rendi. Sewaktu sedang berkumpul di club house lapangan golf mereka bertukar nomor ponsel. Tanpa harus menunggu lama ia langsung menelepon Rendi. Panggilannya langsung dijawab oleh Rendi.
“Hallo. Assalamualaikum,” ucap Rendi.
“Waalaikumsalam,” jawab Pak Bobby.
“Sedang sibuk, Ren?” tanya Pak Bobby.
“Ada sedikit kerjaan. Ada apa Pak Bobby menelepon saya?” tanya Rendi.
Tidak biasanya Pak Bobby menelepon Rendi. Walaupun mereka memiliki nomor ponsel satu sama lain, namun mereka tidak pernah saling menghubungi. Mereka hanya berbicara ketika mereka sedang bertemu di lapangan golf.
“Begini, Ren.” Pak Bobby menceritakan apa yang terjadi kepada Rendi. Mendengar cerita Pak Bobby, Rendi menjadi marah.
“Brengsek! Berani-beraninya mereka menculik Rahma,” seru Rendi dengan kesal.
“Tolong kirim lokasinya sekarang, Pak! Saya sangat khawatir dengan keadaan Rahma,” kata Rendi.
“Baik. Akan segera saya kirim lokasinya,” ujar Pak Bobby.
__ADS_1
“Terima kasih, Pak Bobby,” ucap Rendi.
Pak Bobby mengakhiri percakapannya. Lalu ia mengirimkan lokasi keberadaannya kepada Rendi. Pak Bobby kembali memandangi Rahma. Rahma belum siuman juga. Entah berapa banyak obat bius yang digunakan untuk membius Rahma.
Pak Bobby menghela nafas. Tadinya ia hendak bersenang-senang bersama perempuan tapi malah terlibat masalah. Pak Bobby keluar dari kamar dan menunggu ke datangan Rendi di ruang tengah.
Setengah jam kemudian ada yang mengetuk pintu villa. Pak Bobby beranjak dari tempat duduk dan membuka pintu. Ketika pintu dibuka Rendi langsung menerobos masuk ke dalam villa.
“Rahma dimana?” tanya Rendi.
“Ada di kamar. Ia masih belum sadar,” jawab Pak Bobby.
Rendi langsung berjalan menuju ke kamar. Ibu Claudia menyusul Rendi masuk ke dalam villa. Pak Bobby terkesima ketika melihat Ibu Claudia.
“Rahma mana?” tanya Ibu Claudia.
“Di kamar.” Pak Bobby menunjuk ke arah kamar. Ibu Claudia berjalan menuju ke kamar. Pak Bobby memperhatikan Ibu Claudia dari belakang.
Dua orang polisi datang menghampiri Pak Bobby.
“Selamat malam, Pak,” sapa salah satu polisi.
“Bapak yang bernama Pak Bobby?” tanya polisi itu.
“Iya. Saya yang bernama Bobby,” jawab Pak Bobby.
“Bisa kami minta keterangan Bapak sebagai saksi penculikan Rahma?” tanya polisi itu.
“Bisa. Silahkan masuk.” Pak Bobby duduk di kursi tamu. Kedua polisi tersebut masuk ke dalam villa dan duduk di ruang tamu. Polisi mulai menginterogasi Pak Bobby.
Sementara itu di dalam kamar Ibu Claudia membangunkan Rahma. Rahma masih belum sadar.
“Rahma, bangun Rahma.” Ibu Claudia menepuk-nepuk pipi Rahma. Namun, Rahma tidak bangun juga. Ibu Claudia menghela nafas melihat Rahma yang belum sadar juga. Ibu Claudia memegang telapak tangan Rahma lalu menepuk punggung telapak tangan Rahma dengan sedikit kencang. Merasa ada yang menepuk tangannya Rahma membuka matanya. Ia memandangi ke arah Ibu Claudia dan Rendi bergantian. Ibu Claudia dan Rendi bernafas lega melihat Rahma membuka matanya.
“Alhamdullilah akhirnya kamu bangun juga,” ucap Ibu Claudia dengan gembira.
Rahma melihat sekeliling kamar tersebut. Ia merasa asing dengan kamar itu.
“Saya dimana, Tante?” tanya Rahma dengan suara yang lemah.
“Kamu berada di sebuah villa di Lembang,” jawab Ibu Claudia.
“Kenapa saya bisa berada di sini?” tanya Rahma.
“Panjang ceritanya. Nanti Rendi yang akan menceritakan kepadamu. Sekarang yang penting kamu dalam keadaan selamat,” ujar Ibu Claudia.
__ADS_1