183 Hari Menjadi Kekasih

183 Hari Menjadi Kekasih
30. Pulang Ke Rumah Rendi


__ADS_3

Tiba-tiba ponsel Rahma berdering. Rendi mengeluarkan ponsel Rahma dari dalam saku celana. Tertulis di layar ponsel Papa calling.


“Papa kamu nelepon.”Rendi memberikan ponsel Rahma kepada Rahma. Rahma memegang ponsel tersebut dan memperhatikan ponsel tersebut.


“Ini ponsel saya. Kenapa bisa ada di tangan Pak Rendi?” tanya Rahma.


“Panjang ceritanya. Sekarang kamu jawab dulu telepon Papa kamu. Beliau sangat mengkhawatirkanmu,” ujar Rendi.


Rahma menjawab telepon dari papanya.


“Assalamualaikum,” ucap Rahma.


“Waalaikumsalam. Alhamdullilah kamu selamat.” Pak Ferdi merasa lega mendengar suara Rahma.


“Papa tahu kejadian yang menimpa Rahma?” tanya Rahma


“Tentu saja Papa tahu.” Pak Ferdi menceritakan apa yang terjadi.


Sekarang Rahma mengerti mengapa semua orang nampak khawatir ketika melihatnya.


“Papa mau bicara dengan Rendi,” ujar Pak Ferdi.


Rahma memberikan ponselnya kepada Rendi. Rendi mengambil ponsel Rahma dari tangan Rahma.


“Assalamualaikum,” ucap Rendi.


“Waalaikumsalam,” jawab Pak Ferdi.


“Bagaimana kamu bisa menemukan Rahma?” tanya Pak Ferdi.


Rendi menceritakan semuanya kepada Pak Ferdi. Pak Ferdi menghela napas berat setelah mendengar cerita yang menimpa Rahma.


“Apakah pelakunya sudah tertangkap?” tanya Pak Ferdi.


“Belum, Om. Tapi ada saksi mata yang mengetahui siapa pelakunya,” jawab Rendi.


“Semoga pelakunya segera tertangkap,” ujar Pak Ferdi.


“Terima kasih, kamu sudah menyelamatkan anak saya,” ucap Pak Ferdi.


“Sama-sama, Om,” jawab Rendi.


“Besok subuh saya dan keluarga akan pergi ke Bandung,” ujar Pak Ferdi.


“Om, apa boleh Rahma menginap di rumah saya? Ada mama saya yang akan menjaga Rahma,” tanya Rendi.

__ADS_1


Pak Ferdi menghela nafas. “Boleh. Saya titip Rahma kepadamu,” jawab Pak Ferdi. Terpaksa Pak Ferdi menitipkan Rahma kepada Rendi karena saat ini tidak punya keluarga dekat yang tinggal di Bandung.


“Terima kasih, Om. Nanti saya kirim lokasi rumah saya kalau saya sudah sampai rumah,” ucap Rendi.


“Sudah malam. Saya mau istirahat dulu. Assalamualaikum,” ujar Pak Ferdi.


“Waalaikumsalam,” jawab Rendi.


Rendi mematikan ponsel Rahma lalu dimasukkan ke dalam saku celananya.


“Kita pulang sekarang. Kamu pulang ke rumah saya. Saya sudah minta ijin kepada papamu,” ujar Rendi.


Rahma mengangguk tanda setuju. Rahma berusaha bangun dari tidur. Ibu Claudia membantu Rahma bangun dari tidur, namun Rahma masih ngantuk dan lemas. Rahma bersender pada headboard tempat tidur. Tiba-tiba ada yang membuka pintu kamar. Salah satu polisi berdiri di depan pintu kamar. Rahma menatap polisi itu dengan bingung. Mengapa ada polisi di tempat itu? Bagaimanapun juga ia belum sadar sepenuhnya.


“Apakah korban sudah siuman?” tanya polisi itu.


“Sudah, Pak. Korban akan saya bawa pulang,” jawab Rendi.


“Hem. Besok korban harus ke kantor untuk menjadi saksi. Dan bawa hasil visum dari rumah sakit,” ujar polisi itu.


“Baik, Pak,” jawab Rendi.


Pak Bobby menampakkan dirinya di pintu kamar. Ia melihat Rahma sudah sadar dan sedang menyandar pada headboard tempat tidur.


“Dia yang memberitahu saya keberadaan kamu. Ada dua orang laki-laki yang tidak dikenal telah menjualmu kepada Pak Bobby. Untung Pak Bobby masih ingat dengan wajah kamu, jadi beliau cepat-cepat menelepon saya,” kata Rendi.


“Terima kasih. Pak Bobby sudah menolong saya,” ucap Rahma kepada Pak Bobby.


“Hem,” jawab Pak Bobby.


Rendi menolejh ke Rahma.


“Kita pulang sekarang. Kamu masih pusing?” tanya Rendi.


“Sedikit,” jawab Rahma.


“\Kalau begitu saya gendong saja,” kata Rendi.


“Ma, tolong bukakan pintu mobil.” Rendi memberikan kunci mobil kepada Ibu Claudia.


“Biar saya yang bantu buka pintu mobil,” ujar Pak Bobby sambil mengulurkan tangannya meminta kunci mobil Rendi.


Rendi memberikan kunci mobil kepada Pak Bobby.


“Mobilnya ada di depan pintu pagar villa,” kata Rendi.

__ADS_1


“Iya. Saya masih ingat mobil kamu.” Pak Bobby mengambil kunci mobil dari tangan Rendi lalu ia berjalan keluar villa. Rendi pun menggendong Rahma.


“Haduh badan kamu kurus tapi berat juga,” kata Rendi ketika menggendong Rahma. Rendi membawa Rahma keluar kamar. Ibu Claudia membawa tas Rahma dan keluar dari kamar tersebut. Kedua polisi itu mengikuti mereka.


Di depan villa Pak Bobby sudah berdiri di samping mobil. Mesin mobil sudah menyala, pintu sebelah kanan bagian belakang sudah terbuka. Rendi mendekati mobil. Dengan hati-hati ia mendudukkan Rahma di kursi penumpang.


Ibu Claudia hendak masuk ke dalam mobil melalui pintu belakang sebelah kiri. Cepat-cepat Pak Bobby menghampiri Ibu Claudia dan membukakan pintu belakang untuk Ibu Claudia.


“Terima kasih,” ucap Ibu Claudia. Ibu Claudia masuk ke dalam mobil.


“Sama-sama Ibu,” jawab Pak Bobby sambil tersenyum.


Melihat senyum Pak Bobby, Ibu Claudia langsung merasa geli. Pak Bobby menutup kembali pintu mobil. Setelah Rahma duduk Rendi menutup pintu mobil. Lalu ia pamit kepada polisi dan Pak Bobby.


“Terima kasih Bapak-Bapak. Maaf, saya sudah merepotkan Bapak-Bapak,” ucap Rendi. Rendi menyalami kedua polisi itu dan Pak Bobby.


“Sama-sama, Pak Rendi,” jawab Pak Bobby.


Rendi masuk ke dalam mobil lalu ia menjalankan mobilnya meninggalkan villa tersebut. Setelah mobil Rendi pergi kedua polisi itu pamit kepada Pak Bobby.


“Kami permisi, Pak,” ujar Polisi. Kedua polisi itu masuk ke dalam mobil dinas polisi lalu mobil itu meninggalkan villa. Tinggal Pak Bobby sendiri. Ia berjalan menuju villa lalu mengunci villa tersebut dari luar. Ia memutuskan untuk kembali ke rumah karena tidak ada yang menemaninnya di villa tersebut. Pak Bobby masuk ke dalam mobil, kemudian mobilnya meluncur meninggalkan villa.


Sesampai di rumah, Rendi menggendong Rahma menuju ke kamar tamu lalu Rendi menidurkan Rahma di atas tempat tidur. Rendi menutupi tubuh Rahma dengan selimut.


“Istirahatlah! Kamu aman di sini. Besok pagi kita ke rumah sakit dan ke kantor polisi untuk melapor atas kasus yag menimpa kamu,” ujar Rendi.


Tiba-tiba pintu kamar tamu terbuka Ibu Claudia masuk sambil membawa nampan yang berisi tempat air, gelas serta toples snack. Ia menaruh nampan di atas nakas yang berada di sebelah tempat tidur.


“Terima kasih. Saya sudah merepotkan Pak Rendi dan Tante,” ucap Rahma,


Ibu Claudia tersenyum lalu mengusap kerudung Rahma.


“Sama-sama, Rahma,” jawab Ibu Claudia.


Lalu Ibu Claudia beranjak menuju ke lemari pakaian. Ia mengambil mukenah dari dalam lemari.


“Ini mukenahnya. Tante taruh di sini. Supaya kamu mudah mengambilnya.” Ibu Claudia menaruh mukenah di atas tempat tidur.


“Iya, Tante,” jawab Rahma.


“Sekarang kamu tidur! Supaya tidak kesiangan sholat subuh,” ujar Ibu Claudia.


Ibu Claudia dan Rendi beranjak keluar kamar meninggalkan Rahma sendirian di kamar tamu. Rahma menghela napas, kalau saja waktu itu ia menelepon Rendi pasti kejadiannya tidak seperti ini.


Bagaimanapun juga kejadian ini memang sudah cobaan yang harus ia hadapi. Yang patut ia syukuri ia masih bisa selamat dan tidak kurang apapun juga. Ia bersyukur karena masih berada di lingkungan orang-orang baik.

__ADS_1


__ADS_2