183 Hari Menjadi Kekasih

183 Hari Menjadi Kekasih
35. Bermain Golf


__ADS_3

Hari terus berlalu Rahma bagaikan orang yang sedang dipenjara. Ia tidak bisa kemana-mana. Di kantor ia tidak boleh kemana-mana. Makanan dikirim oleh Ibu Claudia tidak boleh beli di luar, bahkan beli online pun dilarang oleh Rendi. Bahkan sholat di masjid juga dilarang oleh Rendi. Ia terpaksa sholat di dalam ruangan kerja.


Ia hanya boleh pergi keluar bersama Rendi. Benar-benar menyebalkan. Rendi dan keluarganya terlalu over protektif.


Hari ini hari sabtu, seperti biasa Rendi mengajak Rahma bermain golf dengan teman-teman Rendi. Mereka berangkat pagi-pagi sekali agar bisa menghirup udara segar.


Rendi dan teman-temannya janjian bertemu di club house. Ketika mereka sedang berbincang-bincang Pak Bobby datang menghampiri meja mereka.


“Selamat pagi,” ucap Pak Bobby.


“Pagi.Pak Bobby apa kabar?” Rendi dan teman-temannya menyalami Pak Bobby. Rahma juga ikut menyalami Pak Bobby.


“Rendi, kamu hanya  mengajak Rahma saja?” tanya Pak Bobby.


“Biasanya juga saya hanya mengajak Rahma saja,” jawab Rendi.


“Kamu tidak ajak mamamu?” tanya Pak Bobby.


Rendi mengerut kening, ada apa Pak Bobby tiba-tiba menanyakan mamanya.


“Mama tidak pernah bermain golf,” jawab Rendi.


“Sesekali ajaklah mamamu bermain golf, biar mamamu tidak bosan di rumah terus!” ujar Pak Bobby.


“Wah-wah, ada apa ini? Kok tiba-tiba Pak Bobby menanyakan mamanya Rendi?” tanya Gana curiga.


“Tidak ada apa-apa. Saya hanya menanyakan saja,” jawab Pak Bobby.

__ADS_1


Pak Bobby menoleh ke Rahma.


“Rahma. Saya titip salam untuk Ibu Claudia,” ujar Pak Bobby.


“Baik, Pak. Nanti saya sampaikan,” jawab Rahma.


“Saya permisi dulu.” Pak Bobby meninggalkan tempat tersebut.


“Apa gue nggak salah dengar? Si casanova kepincut mamanya Rendi,” seru Iwan sambil berbisik takut kedengaran oleh Pak Bobby.


“Ha ha ha ha ha ha.” Teman-teman Rendi tertawa terbahak-bahak.


“Sepertinya Rendi bakalan punya papa baru,” celetuk Gana.


Rahma hanya senyum-senyum dikulum mendengar percakapan teman-teman Rendi.


“Ayo kita ke lapangan sekarang! Nanti keburu siang.” Rendi beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan teman-temannya. Rahma langsung berdiri lalu mengikuti Rendi. Teman-teman Rendi langsung beranjak dari tempat duduk dan menyusul Rendi.


Ketika mereka hendak menaiki mobil golf ada pemandangan yang membuat mereka tidak percaya. Pak Bobby tidak membawa caddy perempuan tapi ia membawa caddy laki-laki.


“Lihat, tuh! Pak Bobby sekarang caddy nya laki-laki.” Iwan menunjuk ke mobil golf yang ditumpangi oleh Pak Bobby. Semua orang menoleh ke arah yang ditunjuk Iwan.


“Mungkin Pak Bobby ingin menujukkan ke Rendi kalau beliau sudah berubah. Ia setia dengan mamanya Rendi,” kata Gana.


“Huss, biarkan saja. Jangan ingin tau dengan urusan orang tua!” ujar Ibram. Ibram pun menjalankan mobil golf.


Rahma seperti biasa main golf. Namun, kali ini ia tidak didampingi caddy. Terpaksa Rahma harus bermain golf sendiri. Ia juga tidak boleh berada jauh dari Rendi. Ia hanya boleh bermain di dekat Rendi.

__ADS_1


Ketika Rahma sedang asyik bermain golf tiba-tiba ponselnya berdering. Rahma mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana. Di layar ponselnya tertulis nomor yang tidak ia kenal. Rahma menatapi layar ponselnya sambil mengerut kening. Rendi yang sedang bermain golf menoleh ke Rahma. Ia melihat Rahma menatap layar ponsel. Cepat-cepat Rendi menghampiri Rahma.


“Ada apa?’ tanya Rendi.


“Ada telepon dari nomor yang tidak dikenal,” jawab Rahma.


Rendi mengambil ponsel Rahma lalu menjawab telepon itu.


“Hallo,” ucap Rendi.


“Selamat siang, Pak,” ujar penelepon.


“Siang. Ada apa, ya?” tanya Rendi.


“Apa Ibu Rahma bisa datang ke kantor polisi sekarang? Pelaku penculik Ibu Rahma sudah kami tangkap. Sekarang kami minta Ibu Rahma datang ke sini untuk melihat si pelaku, barangkali Ibu Rahma mengenal si pelaku,” ujar penelepon.


“Baik, Pak. Kami akan segera ke sana,” jawab Rendi.


Rendi mengembalikan ponsel Rahma.


“Ada apa?” tanya Rahma bertanya-tanya.


“Kita harus ke kantor polisi sekarang. Pelakunya sudah tertangkap,” jawab Rendi.


Rendi pamit kepada teman-temannya karena ia harus mengantar Rahma ke kantor polisi. Rendi dan Rahma langsung naik ke mobil golf dan meninggalkan lapangan golf.


Ketika mereka hendak kembali ke club house mereka bertemu dengan Pak Bobby. Ternyata Pak Bobby juga hendak meninggalkan lapangan golf.

__ADS_1


__ADS_2