183 Hari Menjadi Kekasih

183 Hari Menjadi Kekasih
36. Di Kantor Polisi


__ADS_3

Rahma dan Rendi menuju ke Polrestabes Bandung. Pak Bobby juga menuju ke sana. Ia dipanggil untuk mengidentifikasi para pelaku.


Sesampainya mereka di sana mereka menuju ke ruang pemeriksaan.


Di dalam ruang pemeriksaan sudah ada dua orang laki-laki yang kedua tangannya dalam keadaan diikat. Mereka sedang diinterogasi oleh polisi.


Rendi, Rahma dan Pak Bobby menghampiri kedua orang tersebut. Mereka memandangi kedua pelaku.


"Apakah benar ini pelakunya?" tanya polisi kepada Pak Bobby.


Kedua orang tersebut menoleh ke arah Pak Bobby.


"Betul, Pak, " jawab Pak Bobby.


Rahma mengerutkan keningnya ketika sedang memandangi kedua orang tersebut.


Sepertinya ia tidak asing dengan kedua orang tersebut.


"Ini kan yang sering duduk-duduk di warung depan tempat kost," ujar Rahma sambil menunjuk kedua orang tersebut.


Rendi memandang tajam kepada kedua orang tersebut.


"iya,, benar. Saya pernah melihat mereka beberapa kali di warung depan kost kalau saya sedang menjemput atau mengantar Rahma, " kata Rendi.


"Ternyata mereka duduk-duduk di sana untuk mencari mangsa, " lanjut Rendi.


"Kami menculik perempuan itu karena disuruh Pak Bobby, " kata salah satu di antara mereka yang mencoba membela diri.


"Saya menyuruh kalian mencari perempuan yang masih bersegel. Bukan disuruh menculik perempuan!" seru Pak Bobby dengan kesal. Seolah-olah dia yang menyuruh mereka menculik Rahma.

__ADS_1


"Susah mencari perempuan seperti itu," kata salah satu diantara mereka.


"Kalau susah tinggal bilang ke saya, " ujar Pak Bobby.


Tiba-tiba Ibu Claudia masuk ke dalam ruangan tersebut bersama dengan Pak Sultan. Mereka ingin melihat orang yang menculik Rahma. Mata Pak Bobby langsung berbinar ketika melihat siapa yang baru datang.


"Selamat siang Ibu Claudia-Pak Sultan, " ucap Pak Bobby dengan ramah.


"Eh." Ibu Claudia kaget melihat ada Pak Bobby di situ.


"Siang, Pak Bobby," jawab Pak Sultan.


Pak Bobby menghampiri Pak Sultan dan Ibu Claudia.


"Apa kabar, Pak Sultan?" Pak Bobby menyalami tangan Pak Sultan.


"Alhamdullilah, baik, " jawab Pak Sultan.


" Apa kabar Ibu Claudia?"


Ibu Claudia hanya menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.


"Baik, " jawab Ibu Claudia dengan sedikit judes.


Ibu Claudia mendekati Rendi dan Rahma.


"Mana orang yang menculik Rahma?" tanya Ibu Claudia.


"Ini, Tante. " Rahma menunjuk kepada kedua orang tersebut.

__ADS_1


"Oh ini. Seenaknya saja menculik anak orang." Ibu Claudia bertolak pinggang di sebelah kedua orang tersebut.


"Untung papa dan kakak Rahma tidak ada di sini kalau tidak bisa habis kalian dipukuli oleh mereka. Atau kalau perlu mereka jual organ tubuh kalian," ujar Ibu Claudia dengan kesal.


"Sudah, Tante. Tante jangan marah-marah! Biar polisi selesaikan semuanya," kata Rahma yang berusaha menenangkan Ibu Claudia.


Setelah mengidentifikasi pelaku Rahma dan Pak Bobby diperbolehkan pulang. Namun, sebelum pulang Pak Bobby mengajak makan siang bersama.


"Pak Rendi bagaimana kalau kita makan siang bersama?" ujar Pak Bobby.


"Makan siang bersama?" tanya Rendi dengan tidak percaya.


"iya, makan siang dengan suasana kekeluargaan," ujar Pak Rendi.


"Kamu mau ikut makan siang bersama? " tanya Pak Rendi kepada Rahma.


"Terserah Pak Rendi," jawab Rahma.


"Kakek mau ikut makan siang bersama?" tanya Rendi.


"Mau, dong. Sesekali Kakek traktir jangan Kakek terus yang traktir, " ujar Pak Sultan.


"Ayah bagaimana, sih? Claudia kan sudah masak makanan kesukaan Ayah, " kata Ibu Claudia dengan kesal.


"Simpanan saja. Itu untuk makan malam. Sekarang Ayah mau mencicipi rasa di traktir sama Pak Bobby, " kata Pak Sultan.


"Ibu Claudia bisa masak?" tanya Pak Bobby.


"Oh, bisa. Menantu saya pinter masak dan pintar membuat kue" jawab Pak Sultan.

__ADS_1


"Saya jadi mau mencicipi masakan Ibu Claudia." ujar Pak Bobby.


__ADS_2