183 Hari Menjadi Kekasih

183 Hari Menjadi Kekasih
32. Orang Tua Rahma Datang


__ADS_3

Pukul delapan mereka menuju ke rumah sakit Melisa yang letaknya dekat dengan kantor Rahma. Ketika menuju ke rumah sakit Rahma menggunakan baju Ibu Claudia karena ia tidak memiliki baju ganti. Letak rumah sakit tidak  jauh dari rumah Rendi hanya saja jalannya harus memutar karena jalannya satu arah. Ibu Claudia dan Pak Sultan ikut mengantar Rahma ke rumah sakit. Mereka memberikan support kepada Rahma agar Rahma mau menjalankan prosedur yang diminta oleh pihak kepolisian sebagai barang bukti.


Sesampai di rumah sakit Rendi langsung mendaftar untuk visum. Selesai mendaftar Rahma diantar ke sebuah ruangan untuk di visum. Rahma masuk ke dalam ruangan tersebut sedangkan Rendi, Ibu Claudia dan Pak Sultan menunggu di ruang tunggu.


Satu setengah jam kemudian Rahma keluar dari ruangan tersebut. Ibu Claudia menghampiri Rahma lalu memapah Rahma ke tempat duduk.


“Kamu tidak apa-apa, kan?” Ibu Claudia mengusap punggung Rahma. Rahma tersenyum lalu mengangguk.


“Syukurlah kalau kamu tidak.” Ibu Claudia merasa lega.


Tiba-tiba ponsel Rahma berdering. Rahma mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Di layar ponsel tertulis Mama calling. Rahma menjawab panggilan tersebut.


“Assalamualaikum,” ucap Rahma.


“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Arini.


“Kamu sedang dimana? Mama dan papa datang ke rumah Rendi tapi kamu tidak ada. Kata penjaga rumah kamu sedang ke rumah sakit,” tanya Ibu Arini.


“Rahma sedang berada di rumah sakit Melisa. Letaknya di dekat kantor Rahma. Tidak jauh dari rumah Pak Rendi,” jawab Rahma.


“Ya sudah. Mama dan papa ke sana sekarang.” Ibu Arini mengakhiri pembicaraannya.


Lima belas menit kemudian Ibu Arini dan Pak Ferdi sampai di rumah sakit. Rasyid juga ikut menemani kedua orang tuanya. Mereka langsung menuju ke ruang tunggu tempat Rahma visum. karena Rahma sedang menunggu hasil visum. Ketika mereka sampai di ruang tunggu,


“Mama!” teriak Rahma ketika melihat mamanya datang. Rahma langsung menghampiri mamanya dan memeluknya. Ibu Arini memeluk Rahma dan mengusap-usap punggung putrinya. Lalu ia mengecup pipi Rahma.


“Kamu baik-baik saja, sayang?” tanya Ibu Arini dengan khawatir.


“Rahma baik-baik saja, Ma,” jawab Rahma.


Ibu Arini melepas pelukannya. Ia menatap wajah putrinya yang terlihat agak pucat. Ia Arini mengusap wajah Rahma.


“Anak Mama jadi pucat begini,” Ibu Arini begitu khawatir dengan keadaan putrinya.


Pak Ferdi dan Rasyid berdiri di belakang Ibu Arini. Mereka memberi ruang kepada ibu dan anak itu. Rahma tersenyum melihat Pak Ferdi dan Rasyid.

__ADS_1


“Papa Aa,” kata Rahma.


Rahma menghampiri papa dan kakaknya. Ia mencium tangan Pak Ferdi dan Rasyid. Pak Ferdi memandang wajah Rahma lalu menghela napas berat.


“Masih pusing?” tanya Pak Ferdi.


“Masih, Pa. Tapi tidak terlalu,” jawab Rahma.


“Sekarang kamu duduk lagi. Jangan terlalu banyak berdiri!” Ibu Arini memapah Rahma menuju ke tempat duduk.


Rendi menyalami orang tua dan kakak Rahma. Kemudian ia memperkenalkan mama dan kakeknya kepada orang tua Rahma.


“Om Tante. Ini mama dan kakek saya.” Mereka saling bersalaman satu dengan lain. Mereka pun duduk sambil berbincang-bincang.


Tidak lama kemudian pegawai rumah sakit memanggil nama Rahma.


“Rahma Sasmita.”


“Iya.” Rendi beranjak dari tempat duduk dan menghampiri pegawai itu. Pegawai itu memberikan hasil visum kepada Rendi. Kemudian Rendi memberikan hasil visum kepada Pak Ferdi. Pak Ferdi membaca hasil visum.


“Alhamdullilah Rahma tidak kenapa-kenapa,” ucap Pak Ferdi. Kemudian mereka meninggalkan rumah sakit menuju ke Polrestabes kota Bandung.


Sesampai mereka di sana sudah ada Pak Bobby di ruang pemeriksaan. Ia sedang dimintai keterangan. Rahma masuk ke ruang pemeriksaan untuk dimintai keterangan. Mereka menunggu Rahma di ruang tunggu. Pukul dua belas Pak Bobby sudah selesai dimintai keterangan. Ia sudah diperbolehkan pulang. Sebelum pulang Pak Bobby menghampiri Rendi dan menyalami Rendi.


Rendi memperkenalkan Pak Bobby kepada orang tua dan kakak Rahma.


“Om Tante. Ini Pak Bobby yang memberitahu Rendi tentang keberadaan Rahma malam itu,” kata Rendi.


Orang tua dan kakak Rahma menyalami Pak Bobby dan mengucapkan terima kasih. Mereka meminta Pak Bobby untuk duduk sebentar karena mereka ingin tahu bagaimana Pak Bobby bisa menemukan Rahma.


Namun, sebelum Pak Bobby memulai bercerita ia menghampiri Pak Sultan. Ia menyalami Pak Sultan. Lalu ia menghampiri Ibu Claudia. Ia tersenyum kepada Ibu Claudia lalu mengulurkan tangan mengajak Ibu Claudia bersalaman. Namun, Ibu Claudia ragu untuk bersalaman dengan Pak Bobby. Ia hanya menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada. Pak Bobby cukup senang Ibu Claudia membalas salamannya walaupun dengan cara seperti itu. Setelah itu Pak Bobby pun kembali duduk di sebelah Pak Ferdi. Ia mulai menceritakan apa yang ia ketahui.


Setelah mendengar cerita Pak Bobby, Ibu Arini langsung shock. Tubuhnya menjadi lemas. Ia menoleh ke Pak Ferdi.


“Pa, anak kita koban penjualan manusia,” kata Ibu Arini dengan sedih. Pak Ferdi merangkul Ibu Arini.

__ADS_1


“Sudahlah. Yang penting anak kita sudah selamat,” ujar Pak Ferdi sambil mengusap lengan istrinya.


Pak Bobby menoleh ke arah Ibu Claudia, tanpa sengaja mata mereka bertemu. Ibu Claudia langsung memalingkan wajahnya. Pak Bobby tersenyum melihat tingkah Ibu Claudia.


“Pak Bobby,” Pak Ferdi memanggil Pak Bobby. Pak Bobby langsung menoleh ke Pak Ferdi.


“Iya,” jawab Pak Bobby.


“Sudah berapa kali Pak Bobby memesan perempuan melalui mereka?” tanya Pak Ferdi.


“Sudah tiga kali dengan yang kemarin,” jawab Pak Bobby.


“Dan sepertinya mereka sudah mengincar anak-anak yang kost di sana. Bahkan mereka tahu kalau putri Bapak jarang jalan dengan laki-laki,” lanjut Pak Bobby.


Mendengar perkataan Pak Bobby, Ibu Arini bertambah lemas. “Pa, Rahma harus segera pindah tempat kost,” kata Ibu Arini.


“Iya. Nanti kita urus kepindahannya,” ujar Pak Ferdi.


“Pak Bobby,” Rasyid memanggil Pak Bobby.


Pak Bobby menoleh ke Rasyid. “Ya,” jawab Pak Bobby.


“Bagaimana Pak Bobby tahu kalau Rahma adalah teman dekat Rendi? Apakah Pak Bobby mengenal Rahma?” tanya Rasyid.


“Saya sering melihat Rahma ikut bermain golf bersama Pak Rendi,” jawab Pak Bobby.


Orang tua dan kakak Rahma kaget mendengar perkataan Pak Bobby. Setahu mereka Rahma belum pernah bermain golf. Walaupun Pak Ferdi dan Rasyid sering bermain golf, Rahma tidak pernah ikut dengan mereka.


“Rahma bisa bermain golf?” tanya Ibu Arini dengan tidak percaya.


“Iya, Bu. Permainannya cukup lumayan,” jawab Pak Bobby.


“Saya yang mengajak Rahma bermain golf,” sahut Rendi.


“Oh.” Mereka mengangguk tanda mengerti.

__ADS_1


Setelah selesai berbincang-bincang Pak Bobby pamit karena ia harus ke kantor. Ia menyalami semua orang termasuk Ibu Claudia. Ia tersenyum kepada Ibu Claudia sebelum pergi dari tempat itu. Ibu Claudia merinding ketakutan melihat Pak Bobby tersenyum kepadanya.


__ADS_2