
Rendi menatap Rahma dengan tatapan yang teduh.
“Maukah kamu menikah dengan saya?” tanya Rendi.
Rahma kaget mendengar pertanyaan Rendi.
“Ini tidak ada hubungannya dengan permintaan kakek. Ini murni keinginan saya untuk menikah dengan kamu,” ujar Rendi.
Rahma mendengarkan semua perkataan Rendi.
“Apa yang membuat Pak Rendi ingin menikah dengan saya?” tanya Rahma. Tidak mungkin Rendi tiba-tiba melamarnya. Pasti ada alasannya.
“Karena saya sayang sama kamu. Saya selalu ingin di dekatmu dan melindungi mu,” ujar Rendi
Mendengar jawaban Rendi, Rahma langsung menundukkan kepalanya karena wajahnya tersipu malu. Ia takut Rendi melihat Rendi melihat rona merah di wajahnya.
“Tahukah kamu bagaimana perasaan saya ketika kamu diculik?” tanya Rendi.
Rahma mengangkat wajahnya lalu menggelengkan kepala.
“Saya sangat cemas dan bingung. Saya tidak tau harus mencari kamu kemana. Saya takut terjadi apa-apa sama kamu,” ujar Rendi.
“Saya menyesal karena datang terlambat menjemputmu,” lanjut Rendi.
“Maafkan saya sudah membuat Pak Rendi merasa cemas,” ucap Rahma sambil menunduk. Ia menyesal sudah membuat semua orang menjadi cemas.
Rendi menatap Rahma dengan tersenyum.
“Kini semuanya sudah berlalu. Sekarang kamu duduk di hadapan saya. Saya sudah senang,” ujar Rendi.
__ADS_1
“Jadi, bagaimana dengan lamaran saya? Diterima atau tidak?” tanya Rendi dengan serius.
Rahma menganggukkan kepalanya tanda ia menerima lamaran Rendi.
“Kok, cuma menganggu saja. Di terima atau tidak?” tanya Rendi sekali lagi.
“Iya, diterima,” jawab Rahma.
“Alhamdullilah,” ucap Rendi sambil mengusap wajahnya.
“Nah, begitu dong. Jadikan jelas kalau lamaran saya diterima,” ujar Rendi.
Rendi mengambil sesuatu dari saku celana. Rendi meletakkan barang tersebut di depan Rahma. Barang itu berupa sebuah kotak.
“Apa ini?” tanya Rahma.
“Itu adalah tanda, kalau kamu sudah menerima lamaran saya,” ujar Rendi.
Rahma mengambil kotak tersebut lalu membuka kotak tersebut. Di dalamnya ada sebuah cincin mutiara yang diikat dengan emas putih. Rahma memandangi cincin tersebut. Cincin itu bentuknya sederhana namun terkesan mewah.
“Cantik sekali,” puji Rahma.
Rendi tersenyum mendengar perkataan Rahma.
“Secantik pemiliknya,” ujar Rendi.
Rahma memegang kotak tersebut. “Boleh saya coba?” tanya Rahma.
“Tentu saja. Cincin itu milik kamu,” jawab Rendi.
__ADS_1
Rahma mengeluarkan cincin tersebut dari dalam kotak lalu ia memakai cincin tersebut. Cincin itu sedikit longgar. Rahma memperhatikan cincin yang melingkar di jari manisnya.
“Bagaimana? Cukup, tidak?” tanya Rendi.
“Sedikit longgar.” Rahma memutar-mutar cincin sehingga terlihat longgar.
“Nanti aku belikan yang baru. Biar sekalian jari kamu diukur. Sehingga bisa pas di jari manis kamu,” ujar Rendi. Rendi mengganti panggilannya dari saya menjadi aku.
“Tidak usah. Nanti cincin ini mubazir kalau beli cincin yang baru. Buang-buang uang saja.” Rahma melepas cincin itui lalu ia pasang di jari tengah.
“Nah, cukup kan kalau ditaruh di jari tengah.” Rahma memandangi cincin yang melingkar di jari tengahnya.
“Terserah kamu mau dipakai di jari yang mana,” ujar Rendi.
Seorang karyawan restaurant datang membawa makanan yang mereka pesan. Karyawan itu meletakkan makanan dan minuman di atas meja.
“Terima kasih,” ucap Rahma ketika karyawan itu selesai menghidangkan makanan. Karyawan restaurant hanya menganggukkan kepala lalu pergi meninggalkan meja mereka.
Rahma memandangi steak yang berada di depannya. Steak itu terlihat sangat enak. Perut Rahma sudah keroncongan. Padahal sewaktu di teater Rendi membelikan popcorn, roti dan minuman soda untuknya. Tapi sekarang perutnya sudah kembali keroncongan. Rahma melihat ke jam yang melingkar di pergelangan tangan, waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan. Pantesan saja perutnya sudah keroncongan kembali.
Rahma mengiris daging steak lalu memakan steak itu. Steak itu terasa lembut dan bumbunya cocok dengan lidah Rahma.
“Hmm, enak sekali,” puji Rahma sambil mengunyah steak.
“Alhamdullilah kalau enak,” ucap Rendi.
“Mau aku potongin steaknya, tidak?” tanya Rendi ketika melihat Rahma sedang mengiris daging steak.
“Tidak usah. Saya bisa potong sendiri,” jawab Rahma.
__ADS_1
Rahma melanjutkan makan. Rendi makan sambil memperhatikan Rahma. Gadis itu makan dengan tenang. Namun, terlihat raut bahagia di wajahnya.