183 Hari Menjadi Kekasih

183 Hari Menjadi Kekasih
28. Kemana Rahma Pergi?


__ADS_3

Ketika mereka sampai di rumah yang akan diassesment, di rumah tersebut sudah banyak orang. Mereka di sambut oleh para tetangga pemilik rumah. Bahkan pak RT dan pak RW turut hadir pula di rumah tersebut. Mereka ingin tahu maksud dan tujuan Pak Barli dan Rahma datang ke rumah warga mereka. Tanpa berbincang terlalu lama Pak Barli dan Rahma langsung assessment disabilitas calon penerima manfaat.


Setelah selesai assessment mereka pamit pulang. Mereka kembali ke kota Sragen. Sesampai di kota Sragen mereka mampir ke rumah makan untuk makan siang. Mereka makan sambil berbincang-bincang dengan pegawai kantor dinas dan pembimbing. Setelah selesai selesai makan Rahma dan Pak Barli berpamitan dengan pegawai kantor dinas dan pembimbing. Karena besok pagi mereka akan pulang ke Bandung.


***


Rendi sedang tidur-tiduran di kamarnya. Sambil menatap langit-langit di kamarnya. Ia merasa bosan karena tidak ada yang bisa ia kerjakan. Ia mau tidur tapi belum mengantuk. Iseng –iseng ia menelepon Rahma. Ia mengambil teleponnya di atas nakas lalu menelepon Rahma. Ia menunggu lama karena teleponnya tidak diangkat oleh Rahma.


Beberapa detik kemudian teleponnya baru diangkat oleh Rahma.


“Hallo. Assalamualaikum,” ucap Rahma.


“Waalaikumsalam,” jawab Rendi.


“Ma, kamu sedang apa?” tanya Rendi.


“Saya sedang di kantor, Pak. Sedang menyiapkan untuk pemeriksaan besok. Besok ada pemeriksaan dari BPK,” jawab Rahma.


Rendi melirik ke jam yang menempel di dinding kamarnya. Waktu menunjukan pukul setengah sembilan malam.


“Masih lama kerjanya?” tanya Rendi.


“Masih lama, Pak. Soalnya masih banyak yang harus disiapkan,” jawab Rahma.


“Nanti kalau sudah selesai beri tahu saya! Biar saya jemput kamu,” kata Rendi.


“Tidak usah, Pak Rendi. Saya bisa pulang sendiri. Lagi pula tempat kos saya dekat dari kantor,” jawab Rahma.


“Saya jemput saja. Ini sudah larut malam. Tidak baik perempuan jalan sendiri malam-malam,” ujar Rendi.


Terdengar suara Rahma menghela nafas.


“Baiklah, Pak Rendi,” jawab Rahma.


“Jangan lupa telepon saya kalau mau pulang!” kata Rendi.


“Baik, Pak Rendi,” jawab Rahma.

__ADS_1


“Assalamualaikum,” ucap Rendi.


Rendi mengakhiri percakapannya. Rendi mengambil remote televisi yang berada di atas nakas lalu ia menyalakan televisi dengan menggunakan temote. Ia memutuskan untuk menonton televisi sambil menunggu Rahma menelepon.


Waktu terus berlalu. Tanpa disadari waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh kurang lima belas menit. Namun, belum ada telepon sama sekali dari Rahma. Rendi mengambil ponselnya lalu ia menelepon Rahma. Ia menunggu lama namun teleponnya tidak juga dijawab oleh Rahma. Ia mencoba lagi menelepon Rahma namun Rahma tidak menjawab teleponnya.


Rendi merasa khawatir, ia takut terjadi apa-apa dengan Rahma. Ia beranjak dari tempat tidur. Ia mengganti celana pendeknya dengan celana panjang lalu memakai jaket. Kemudian ia mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja kerja. Rendi keluar dari kamarnya, ia memutuskan untuk menjemput Rahma.


Rendi mengendarai mobilnya menuju ke kantor Rahma. Sesampai di depan kantor Rendi bertanya kepada satpam yang bertugas jaga.


“Pak. Apa Ibu Rahma masih ada di dalam?” tanya Rendi.


“Ibu Rahma sudah pulang dari tadi,” jawab satpam.


Rendi kaget mendengarnya.


“Jam berapa Ibu Rahma pulang?” tanya Rahma.


“Sekitar jam setengah sepuluh. Waktu Ibu Rahma mau pulang, dia menyapa saya,” jawab satpam.


“Terima kasih, Pak,” ucap Rendi. Rendi memundurkan mobil keluar dari halaman kantor. Lalu ia menjalankan mobinya menuju ke tempat kost Rahma.


Sesampai di dekat gang menuju kost Rahma, Rendi memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Lalu ia turun dari mobil dan berjalan menuju ke tempat kost Rahma.


Rendi berhenti di depan tempat kost. Tempat kost terlihat ramai, anak-anak kost sedang makan mie instant di ruang tamu sambil menonton drama korea.


“Assalamualaikum,” ucap Rendi.


Anak-anak kost menoleh ke pintu.


“Waalaikumsalam,” jawab anak-anak kost.


“Rahma ada?” tanya Rendi.


“Rahma belum pulang, Pak,” jawab Ineh.


“Belum pulang? Kemana, ya? Tadi saya ke kantornya kata satpam dia sudah pulang dari jam setengah sepuluh,” ujar Rendi.

__ADS_1


“Masa, sih?” Ineh beranjak dari tempat duduk. Ia berjalan menuju tangga lalu naik ke lantai atas. Beberapa menit kemudian dia turun lagi ke bawah.


“Belum pulang. Sudah diketuk beberapa kali tapi tidak di buka,” kata Ineh.


Mendengar perkataan Ineh, Rendi langsung merasa cemas. Ia takut terjadi apa-apa dengan Rahma.


Kemudian Ineh berjalan menuju depan tempat kost. Ia melihat ke jendela lantai atas.


“Gorden jendelanya juga belum ditutup.” Ineh menunjuk ke jendela kamar Rahma.


“Pergi kemana Rahma? Ini sudah larut malam,” tanya Rendi dengan cemas.


“Coba Pak Rendi cari dia di tenda-tenda pinggir jalan. Mungkin dia sedang makan di tenda-tenda di pinggir jalan,” kata Eka.


“Baiklah akan saya cari di depan.” Rendi langsung pergi dari tempat kost menuju ke tenda-tenda kaki lima di pinggir jalan. Rendi berjalan menyusuri warung-warung tenda yang ada di pinggir jalan. Namun, hasilnya nihil ia tidak menemukan Rahma.


Rendi melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih lima belas menit. Rendi bertambah cemas.


“Rahma, kamu kemana?” tanya Rendi sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


Rendi memutuskan mencari di warung tenda yang berada di dekat kantor Rahma. Ia berjalan menyusuri trotoar sambil terus menelepon Rahma. Namun, ketika ia melewati trotoar yang sepi dan minim penerangan ia mendengar suara dering telepon. Rendi menoleh ke belakang tapi tidak ada orang di belakangnya. Rendi terus berusaha menghubungi Rahma dan suara telepon masih terus terdengar.


Sampai akhirnya ia melihat cahaya di atas trotoar. Rendi mendekati cahaya itu ternyata sebuah ponsel yang tergeletak di atas trotoar. Permukaan trotoar tidak rata sedikit amblas ke dalam sehingga orang yang lewat tidak melihat ada ponsel di situ.


“Ponsel milik siapa?” Rendi mengambil ponsel tersebut.


Di layar ponsel tersebut tertulis Pak Rendi calling. Rendi langsung kaget melihat tulisan itu. Ia kembali menelepon Rahma dan ponsel tersebut kembali berbunyi. Wajah Rendi langsung pucat ketika mengetahui ponsel itu adalah milik Rahma.


“Rahma kamu dimana? Kenapa sebelum pulang kamu tidak hubungi saya terlebih dahulu,” ujar Rendi dengan putus asa.


Ketika ia sedang kebingungan tiba-tiba ponsel Rahma berdering. Di layar ponsel tertulis Papa calling. Wajah Rendi bertambah pucat ketika mengetahui siapa yang menelepon Rahma.


Rendi bingung apakah ia harus menjawab telepon Rahma atau tidak. Ia takut orang tua Rahma akan salah paham terhadapnya. Apalagi sekarang ini sedang marak kasus pembunuhan yang dilakukan oleh teman dekat atau pacar. Tapi jika ia tidak segera menjawab telepon tersebut orang tua Rahma akan merasa cemas, apalagi sekarang ini sudah larut malam.


Akhirnya Rendi memberaniikan diri untuk menjawab telepon tersebut.


“Assalamualaikum,” ucap Rendi.

__ADS_1


__ADS_2