
Ibu Claudia baru selesai sholat magrib. Ia melipat mukena dan sajadah lalu ia simpan di rak khusus untuk menyimpan peralatan sholat. Ia mengambil ponsel yang ia simpan di atas nakas. Ia membuka layar ponsel untuk melihat pesan yang masuk.
Dari pagi sampai sore Ibu Claudia sibuk sekali sehingga ia belum melihat pesan yang masuk. Ia melihat ada pesan masuk dari Rendi. Ia membuka pesan tersebut lalu membaca pesan tesebut.
Rendi:
[Assalamualaikum, Bu Claudia.[
[Terima kasih atas makan siang yang Ibu Claudia kirim.]
[Rasanya lezat sekali. Saya belum pernah mencicipi makanan selezat ini. Membuat saya tidak ingin berhenti makan. ]
[Kue yang Ibu buatkan rasanya juga enak. Saya sampai menghabiskan setengahnya, ]
[Kalau Ibu tidak keberatan, kapan-kapan saya mau dikirimi makanan lagi (emot tersenyum manis). ]
[Rantang akan saya kembalikan sambil main ke rumah Ibu Claudia.]
[Sudah dulu, ya. Saya harus menandatangani dokumen, Salam ke Pak Sultan. Assalamualaikum. ]
[Ma, itu dari pesan dari Pak Bobby dikirim ke ponsel Rendi.]
Ibu Claudia menghela napas setelah membaca pesan tersebut. Ia berdoa mudah-mudahan saja ketika Pak Bobby datang ke rumah, ia sedang pergi keluar kota. Agar ia tidak melihat wajah Pak Bobby yang menyebalkan
***
Hari terus berlalu. Selama Rendi di Jepang, Rahma berangkat ke kantor diantar oleh Pak Sobir. Padahal ia sudah berulang kali menolak, tapi Ibu Claudia terus saja memaksa Rahma diantar Pak Sobir.
"Rendi bilang ke Tante kalau kamu pergi kemana-mana harus diantar Pak Sobir. Tidak boleh pergi sendiri.Lagipula Pak Sobir tidak ada kerjaan lain kecuali mengantar dan menjemput kamu, " ujar Ibu Claudia.
__ADS_1
Rahma menghala napas. Perintah Rendi memang harus selalu dituruti. Rahma jadi seperti anak kecil kalau pergi kemana-mana harus ada yang mengantar tidak boleh pergi sendiri.
Rahma sedang mengetik di ruang kerja Pak Barli menghampiri Rahma.
"Rahma. Senin kamu ikut pelatihan di Balai Diklat Yogyakarta!" ujar Pak Barli. Rahma menoleh ke Pak Barli.
"Berapa hari, Pak?" tanya Rahma.
"Lima hari. Hari Jum'at sudah pulang, " jawab Pak Barli.
Rahma berpikir sejenak. Hari Sabtu Rendi pulang dari Jepang, sedangkan Rahma pulang dari Yogyakarta hari jumat siang. Berarti aman, Rendi datang ia sudah sampai di rumah.
"Siapa, saja yang ikut pelatihan?" tanya Rahma.
"Cuma kita berdua saja. Kita berangkat senin pagi naik kereta api, " jawab Pak Barli.
"Baiklah, Pak. Saya bisa pergi, " kata Rahma.
Pak Barli keluar dari ruangan menuju ke ruangan tata usaha.
Rahma melanjutkan pekerjaannya agar cepat selesai. Biasanya sepulang dari pelatihan akan banyak pekerjaan yang menumpuk.
***
Rahma sedang memasukkan pakaiannya ke dalam. koper. Besok ia akan pergi ke Yogyakarta untuk mengikuti pelatihan. Tiba-tiba ponselnya berdering. Rahma mengambil ponsel yang di berada di atas nakas. Di layar ponselnya tertulis Pak Rendi calling. Ia menjawab panggilan tesebut.
"Assalamualaikum, " ucap Rahma.
"Waalaikumsalam. Kamu sedang apa?" tanya Rendi.
__ADS_1
"Sedang membereskan baju. Besok saya. ada pelatihan di Yogyakarta, " jawab Rahma.
"Berapa hari?" tanya Rendi.
"Sebulan, " jawab Rahma berbohong.
"Apa? Sebulan? Lama sekali. " Rendi kaget mendengarnya.
"Bohong, deng. Cuma lima hari, kok, " kata Rahma.
"Ah, kamu bercandanya keterlaluan. Saya sampai kaget mendengarnya, " ujar Rendi dengan kesal.
"Iya,, deh. Maaf, " ucap Rahma dengan menyesal.
"Naik apa ke Yogyakarta?" tanya Rendi.
"Naik kereta api Argo Wilis," jawab Rahma.
"Berapa orang yang pergi ke sana?" tanya Rendi.
"Dua orang. Cuma saya dan Pak Barli yang pergi, " jawab Rahma.
"Hati-hati selama dalam perjalanan. Jaga diri baik-baik. Kalau ada sesuatu beritahu saya!" ujar Rendi.
"Iya," jawab Rahma.
"Sudah dulu, ya. Selamat beres-beres baju. Kalau sudah selesai langsung tidur. Jangan nonton drama Korea!" ujar Rendi.
"Iya," jawab Rahma.
__ADS_1
"Assalamualaikum." Rendi mengakhiri pembicaraannya.
"Waalaikumsalam." Rahma menyimpan kembali ponselnya di atas nakas. Ia melanjutkan memasukkan pakaiannya ke dalam tas.