183 Hari Menjadi Kekasih

183 Hari Menjadi Kekasih
46. Panggil Aa Aja, Ya.


__ADS_3

Selama mereka sedang makan tidak ada kata yang terucap di bibir mereka. Mereka makan dengan tenang. Setelah selesai makan barulah mereka berbincang-bincang kembali.


“Apakah Pak Rendi sudah merencanakan ini semua?” tanya Rahma.


Rendi yang sedang minum fresh orange juice langsung berhenti minum ketika mendengar pertanyaan Rahma.


“Ya. Aku sudah merencanakan semuanya sebelum aku pergi ke Jepang. Makanya aku melarang kamu pindah sebelum aku pulang dari Jepang. Agar aku bisa bekerja dengan tenang karena kamu dalam pantauan mama,” jawab Rendi.


“Tapi begitu mendengar kamu akan pelatihan ke Yogyakarta, aku terpaksa menyelesaikan urusan aku dengan cepat. Agar aku bisa cepat pulang ke Bandung untuk memastikan kalau kamu dalam keadaan baik-baik saja,” lanjut Rendi.


“Pak Rendi terlalu berlebihan. Saya tidak pergi sendiri, saya pergi dengan Pak Barli,” kata Rahma.


Rendi menghela napas.


“Rahma. Pak Barli sudah punya istri, dia tidak mungkin menjagamu sampai dua puluh empat jam. Nanti istrinya cemburu jika mengetahui suaminya memperhatikan perempuan lain,” ujar Rendi.


“Iya. Rahma mengerti Pak Rendi,” jawab Rahma.


“Jangan panggil Pak Rendi! Kedengarannya seperti kita teman kantor saja,” ujar Rendi.


“Harus panggil apa, dong?” tanya Rahma.


“Kamu mau panggil apa?” Rendi balik bertanya.


“Heemmm.” Rahma berpikir sejenak. Rendi menunggu jawaban Rahma.


“Panggil Pak Rendi,” jawab Rahma dengan polos.


“Rahmaaaaa!” ujar Rendi sambil melotot. Ia gemas dengan ulah Rahma.


“Iya, deh. Jangan panggil Pak Rendi. Panggil Akang saja,” kata Rahma.


“Jangan! Kedengarannya seperti aku jauh lebih tua dari kamu.” Rendi protes.


“Memang Pak Rendi lebih tua dari saya,” kata Rahma dengan polos.


“Tapi kan jaraknya tidak sampai sepuluh tahun,” ujar Rendi.


“Panggil apa, dong?” Rahma berpikir lagi.


“Bagaimana kalau panggil Abang?” tanya Rahma.

__ADS_1


“Jangan! Seperti manggil senior di kampus,” ujar Rendi.


Rahma kembali berpikir.


“Panggil Mas aja, ya?” tanya Rahma.


“Aku bukan orang Jawa. Aku orang Sunda,” ujar Rendi.


“Ya sudah, panggil Aa saja,” kata Rahma.


“Nah, kalau itu pantes,” ujar Rendi.


“Baiklah, Aa Rendi,” kata Rahma.


Rendi melihat jam yang melingkar di tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan kurang lima belas menit. Sudah waktunya mereka harus pulang. Walaupun mereka tinggal serumah, tetap saja mereka tidak boleh pergi sampai larut malam. Karena mereka belum resmi menjadi suami istri.


“Kamu mau makan apa lagi?” tanya Rendi.


“Tidak ada. Saya sudah kenyang,” jawab Rahma lalu ia menghabiskan fresh orange juice.


“Kamu tunggu di sini, aku mau bayar dulu.” Rendi beranjak dari kursi lalu berjalan menuju ke meja kasir. Ia hendak membayar makanan.


“Saya minta bill,” ujar Rendi kepada kasir.


“Rendi,” jawab Rendi.


Kasir tersebut mencari tagihan atas nama Rendi lalu ia memberikan tagihan tersebut kepada Rendi.


“Pak Rendi di meja sepuluh, ya Pak?” tanya kasir.


“Tidak tau. Meja saya yang itu. Yang ada perempuan menggunakan kerudung berwarna coklat muda.” Rendi menunjuk ke arah Rahma yang sedang duduk. Kasir menoleh ke arah Rahma.


“Benar, Pak. Itu meja nomor sepuluh,” jawab kasir.


Kasir memberikan tagihan kepada Rendi. Rendi mengeluarkan kartu sakti dari dalam dompet lalu diberikan kepada kasir. Kasir menerima kartu tersebut lalu memproses pembayaran. Setelah selesai ia mengembalikan kartu kepada Rendi. Rendi kembali ke meja tempat ia duduk. Ia berdiri di sebelah Rahma.


“Ayo, kita pulang,” ujar Rendi kepada Rahma.


Rahma beranjak dari kursi lalu berjalan keluar dari restaurant. Rendi mengikuti Rahma dari belakang. Mereka berjalan menuju ke pintu liff. Rahma menekan tombol liff, tidak lama kemudian pintu liff terbuka. Di dalam liff sudah ada beberapa orang. Mereka nampak sedang berangkulan dengan mesra dengan pasangan mereka. Rahma dan Rendi masuk ke dalam liff. Pintu liff pun tertutup dan liff bergerak turun ke lantai bawah.


Di dalam liff orang-orang tersebut nampak bermesraan dengan pasangan mereka, membuat Rahma merasa tida nyaman. Beruntung mereka berdiri di belakang Rahma dan Rendi sehingga Rahma tidak terlalu terlihat oleh Rahma. Pandangan Rahma lurus ke depan. Rendi tau Rahma tidak nyaman dengan situasi di dalam liff. Sehingga ia mengajak Rahma berbicara agar Rahma tidak fokus dengan situasi di dalam liff.

__ADS_1


“Bagaimana dengan hotel tempat kamu menginap sewaktu di Yogyakarta, nyaman tidak?” tanya Rendi.


“Alhamdulilah dapat hotel yang bagus dan nyaman. Makanannya juga enak,” jawab Rahma.


“Syukurlah kalau dapat hotel yang nyaman,” ujar Rendi.


“Hotelnya jauh tidak ke balai diklat?” tanya Rendi.


“Lumayan jauh. Jadi harus naik taksi untuk menuju ke balai diklat,” kata Rahma.


“Kalau tau hotel tempat kamu menginap jauh dari balai diklat, aku sewakan mobil untuk kamu pergi kemana-mana selama di Yogyakarta,” ujar Rendi.


“Tidak usah! Lagipula dikasih uang oleh kantor untuk naik taksi,” kata Rahma.


Tak terasa liff berhenti di basement Rahma dan Rendi keluar dari dalam liff termasuk para pasangan mesra tersebut. Rendi dan Rahma berjalan menuju ke mobil. Rendi membuka kunci mobil dengan remote, Rahma membuka pintu lalu langsung masuk ke dalam mobil. Rendi juga masuk ke dalam mobil.


“Pacaran, kok tidak tahu tempat,” gerutu Rahma sambil memasang seatbelt.


“Sudah, biarkan saja. Kalau ada yang seperti itu acuhkan saja, tidak usah dipedulikan,” ujar Rendi sambil menyalakan mesin mobil. Rendi menjalankan mobilnya keluar dari tempat parkir.


Rahma menguap sambil ditutupi mulutnya dengan telapak tangan. Rendi menoleh sebentar ke Rahma.


“Tidur saja kalau sudah mengantuk. Nanti kalau aku bangunkan kalau sudah sampai,” ujar Rendi.


“Tidak ah. Sebentar lagi juga sampai,” kata Rahma sambil menguap.


Hotel tempat mereka makan malam tidak begitu jauh dari rumah Rendi. Sehingga dalam beberapa menit saja mereka sudah sampai di rumah Rendi. Pak Tile penjaga rumah Rendi langsung membuka pintu rumah ketika melihat mobil Rendi berhenti di depan rumah.


Rendi langsung memasukkan mobilnya ke dalam garasi mobil. Kemudian Rendi matikan mesin mobil.


“Terima kasih sudah mengajak saya nonton dan makan malam,” ucap Rahma sebelum turun dari mobil.


“Sama-sama, Rahma,” jawab Rendi.


Rahma membuka pintu mobil dan hendak turun dari mobil, namun tiba-tiba Rendi memanggilnya.


“Rahma.”


Rahma tidak jadi turun dari mobil, Ia menoleh ke Rendi.


“Selamat malam. Tidur yang nyenyak, ya,” ucap Rendi.

__ADS_1


Rahma tersenyum lalu mengangguk. Kemudian ia turun dari mobil Rendi dan berjalan menuju ke kamarnya.


__ADS_2