
Pukul dua siang Rahma pamit kepada orang tuanya untuk mengantar Rendi mencari hotel.
“Cari hotel yang bagaimana?” tanya Ibu Arini kepada Rendi.
“Yang mana saja, Tante. Yang penting dekat dengan rumah Rahma. Rendi tidak hafal jalan di Kuningan,” jawab Rendi.
“Oh, kalau biasa-biasa saja ada di dekat pusat kota. Rahma tahu tempatnya,” ujar Ibu Arini.
“Iya, Tante. Sekarang mau ke sana dulu untuk booking kamar. Mudah-mudahan ada kamar kosong,” kata Rendi.
“Ya sudah, cepat pergi ke sana! Nanti keburu penuh,” ujar Ibu Arini.
“Iya, Tante,” jawab Rendi.
“Ma Pa, Rahma anter Pak Rendi dulu.” Rahma mencium tangan orang tuanya.
“Kalau sudah dapat hotel langsung pulang!” ujar Pak Rendi.
“Iya, Pa,” jawab Rahma.
“Permisi dulu, Om Tante. Assalamualaikum,” ucap Rendi.
“Waalaikumsalam,” jawabPak Ferdi dan Ibu Arini.
Rahma dan Rendi berjalan keluar dari convention hall menuju ke mobil Rendi. Rendi membuka kunci pintu dengan remote. Rahma dan Rendi masuk ke dalam mobil.
“Panas!” kata Rahma ketika masuk ke dalam mobil Rendi. Mobil Rendi terasa panas karena sinar matahari. Mobil Rendi terkena langsung sinar matahari tidak diparkirkan ditempat yang tidak teduh. Rendi cepat-cepat menyalakan mesin mobil lalu menyalakan ac mobil. Rendi mengarahkan semua ac ke arah Rahma.
“Sudah. Jangan arahkan semua ac ke sini nanti saya masuk angin!” Rahma membalikkan kembali ac ke tempat semula.
“Tadi katanya panas,” kata Rendi.
“Sudah tidak panas lagi,” jawab Rahma.
Rendi menjalankan mobil keluar dari area parkir.
“Kasih tau jalannya. Saya tidak hafal jalan di sini,” ujar Rendi.
“Iya,” jawab Rahma.
Rahma memberi petunjuk arah jalan yang harus mereka lalui. Beberapa menit kemudian mereka sampai di hotel yang mereka tuju. Rendi memarkirkan mobil di halaman hotel. Lalu Rendi dan Rahma turun dari mobil. Mereka berjalan menuju lobby hotel.
Mereka menghampiri meja resepsionis. Seorang karyawan hotel menyambut kedatangan mereka.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya karyawan tersebut.
“Saya mau pesan kamar,” jawab Rendi.
“Sebentar saya chek dulu, Pak.” Karyawan itu memeriksa ketersediaan kamar melalui komputer. Ternyata hotel itu hampir penuh, namun masih ada kamar yang kosong. Ia memberitahu kamar-kamar yang kosong kepada Rendi. Ternyata kamar yang paling mahal yang masih kosong. Bagi Rendi tidak masalah karena dia mencari kamar yang nyaman untuk menginap.
Setelah selesai check in Rendi mengantar Rahma pulang ke rumah.
__ADS_1
“Hafal tidak jalan ke hotel?” tanya Rahma ketika mereka dalam perjalanan ke rumah Rahma.
“Mudah-mudahan hafal. Kalau tidak hafal tinggal tanya ke orang-orang,” jawab Rendi sambil fokus menyetir mobil.
“Nanti malam temani saya makan! Nanti saya jemput setelah sholat magrib,” ujar Rendi.
Rahma menoleh ke Rendi.
“Kenapa tidak makan di hotel saja? Biar tidak usah keluar dari hotel,” tanya Rahma.
“Males makan sendiri. Apalagi di tempat asing, rasanya tidak enak,” jawab Rendi.
“Nanti saya tanya orang tua saya dulu. Saya tidak tau papa akan mengijinkan keluar atau tidak,” kata Rahma.
“Iya, tidak apa-apa. Saya mengerti,” jawab Rendi.
Tidak lama kemudian mereka sampai di rumah Rahma. Rendi memarkirkan mobilnya di depan rumah Rahma. Rumah Rahma nampak sepi. Entahlah, orang tua Rahma sudah datang atau belum. Garasi mobil ditutup jadi mobilnya tidak terlihat.
Rahma dan Rendi turun dari mobil. Mereka berjalan menuju pintu pagar. Rahma membuka pintu pagar lalu mereka masuk ke halaman rumah. Mereka berjalan ke teras rumah. Rahma menekan bel. Mereka menunggu sampai pintu di buka. Tidak lama kemudian seorang wanita setengah baya membuka pintu. Ternyata bi Edah yang membukakan pintu.
“Assalamualaikum,” ucap Rahma.
“Waalaikumsalam,” jawab bi Edah
“Mama sudah pulang belum, Bi?” tanya Rahma.
“Sudah, Neng. Belum lama sampai. Sekarang sedang ada di kamar sama bapak,” jawab bi Edah.
“Saya pamit ke hotel, ya. Jangan lupa beritahu saya kalau kamu diijinkan pergi oleh orang tuamu!” ujar Rendi.
“Baik, Pak Rendi,” jawab Rahma.
Rendi berjalan menuju ke mobilnya. Rahma mengantar Rendi sampai depan pagar. Sebelum masuk ke mobilnya Rendi menoleh ke Rahma.
“Assalamualaikum,” ucap Rendi.
“Waalaikumsalam,” jawab Rahma.
Rendi masuk ke mobilnya lalu menyalakan mesin mobil. Rendi melambaikan tangannya ke arah Rahma lalu mobil Rendi meluncur meninggalkan rumah Rahma.
***
Rahma baru selesai sholat magrib. Ia membuka mukenahnya lalu melipat mukenahnya. Ia teringat ajakan Rendi untuk makan malam bersama. Ia harus meminta ijin kepada orang tuanya. Rahma keluar dari kamar untuk menemui orang tuanya.
Ketika ia keluar dari kamar, ruang keluarga masih sepi. Orang tuanya masih berada di kamar belum keluar dari kamar. Rahma berjalan ke kamar orang tuanya lalu mengetuk pintu kamar. Tidak lama kemudian Ibu Arini membuka pintu.
“Mah, Pak Rendi mengajak Rahma makan malam di luar. Boleh, tidak?” tanya Rahma.
“Kenapa harus makan di luar? Makan di sini saja! Bi Edah sudah masak banyak. Sayang kalau tidak ada yang makan,” jawab Ibu Arini.
“Pak Rendi boleh makan di sini, Ma?” tanya Rahma.
__ADS_1
“Boleh. Kenapa tidak boleh,” jawab Ibu Arini.
“Boleh tidak sama papa?” tanya Rahma ragu,
“Boleh. Cepat suruh Rendi datang ke sini sekarang!” ujar Ibu Arini.
“Baik, Ma. Rahma suruh Pak Rendi datang ke sini.” Rahma langsung berjalan ke kamarnya untuk menelepon Rendi.
Tiga puluh menit kemudian Rendi datang ke rumah Rahma. Rahma mengajak Rendi masuk ke dalam rumahnya. Pak Ferdi sedang menonton televisi di ruang keluarga. Ibu Arini sedang menyiapkan makanan di meja makan.
“Assalamualaikum,” ucap Rendi.
“Waalaikumsalam,” jawab Pak Ferdi dan Ibu Arini.
“Silahkan duduk!” ujar Pak Ferdi. Rendi duduk di sofa.
“Mau minum apa?” tanya Rahma.
“Air putih saja,” jawab Rendi.
“Tidak mau kopi?” tanya Rahma.
“Tadi sudah minum kopi di hotel,” jawab Rendi.
Rahma berjalan menuju ke ruang makan untuk mengambilkan minum untuk Rendi. Ibu Arini duduk bergabung dengan Pak Ferdi dan Rendi.
“Tadi tidak kesasar?” tanya Ibu Arini.
Rendi nyengir kuda ketika ditanya oleh Ibu Arini.
“Kesasar, Tante. Rendi salah belok, padahal sudah pakai goggle map,” jawab Rendi.
“Tapi akhirnya bisa sampai ke sini, kan?” tanya Ibu Arini.
“Iya, Tante. Itu pun tanya-tanya ke orang,” jawab Rendi.
Rahma datang membawa segelas air putih untuk Rendi. Ia letakkan gelas itu di atas meja.
“Terima kasih,” ucap Rendi kepada Rahma.
“Ayo Pah makan dulu! Makanannya sudah siap,” ajak Ibu Arini.
Pak Ferdi beranjak dari sofa lalu menuju ke meja makan.
“Ayo Rendi, kita makan dulu!” Ibu Arini mengajak Rendi. Ibu Arini berjalan menuju ke meja makan.
“Iya, Tante.” Rendi berdiri. Rahma menemani Rendi menuju ke meja makan. Rendi dan Rahma duduk di kursi makan. Di atas meja makan tersaji berbagai macam makanan. Rahma mengambil piring Rendi lalu diisi nasi lalu ia taruh di meja. Rendi mengambil lauk pauk sendiri. Mereka pun menikmati makan malam.
.
.
__ADS_1