183 Hari Menjadi Kekasih

183 Hari Menjadi Kekasih
51. Lamaran Rendi Belum Diterima


__ADS_3

Pak Ferdi menghela napas. Beliau menoleh ke Ibu Arini.


“Ma, apa Mama mau mempunyai menantu pengangguran?” tanya Pak Ferdi.


“Tapi Rendi bukan pengangguran, Pa. Dia mengelola perusahaan milik kakeknya. Kalau dia tidak bisa mengelola perusahaan milik kakeknya, pasti perusahaan itu sudah bangkrut,” kata Ibu Arini.


“Mama tau darimana kalau perusahaan itu tidak bangkrut? Apa Mama tahu tentang perusahaan Rendi?” tanya Pak Ferdi.


“Tidak,” jawab Ibu Arini.


Pak Ferdi menatap Rahma.


“Apa kamu pernah dibawa ke perusahaan atau hotel milik kakek Rendi?” tanya Pak Ferdi Kepada Rahma.


“Belum pernah,” jawab Rahma.


“Mama dengar sendiri, Rahma belum pernah melihat perusahaan dan hotel milik kakek Rendi. Padahal dia sudah berapa lama tinggal di sana,” ujar Pak Ferdi.


Rendi menengahi PaK Ferdi, Ibu Arini dan Rahma.


“Maafkan saya, Om. Saya memang tidak pernah mengajak Rahma ke tempat saya bekerja karena Rahma juga bekerja. Sedangkan kalau libur, saya tidak pernah ke kantor, saya habiskan waktu libur saya dengan Rahma dan keluarga saya,” kata Rendi dengan penuh rasa bersalah.


Pak Ferdi memandang tajam ke arah Rendi. Rendi hanya bisa menundukkan kepala. Ia tidak berani menatap Pak Ferdi.


“Kapan orang tuamu akan ke sini untuk melamar Rahma? Kalau kamu hendak melamar Rahma, mengapa kamu datang sendiri ke sini, tidak bersama dengan kakek dan ibumu?” tanya Pak Ferdi.


Rendi langsung mengangkat kepalanya ketika mendengar pertanyaan Pak Ferdi. Wajahnya kembali berseri. Ibu Arini dan Rahma menoleh ke Pak Ferdi. Mereka bingung dengan pertanyaan Pak Ferdi.


“Segera, Om. Mungkin minggu depan kakek dan mama saya akan datang untuk melamar Rahma,” jawab Rendi dengan semangat.


“Kalau minggu depan terlalu lama. Besok suruh mereka datang ke sini! Niat baik harus disegerakan tidak boleh ditunda-tunda!” ujar Pak Ferdi.


“Baik, Om. Segera akan saya hubungi orang tua saya.” Rendi beranjak dari tempat duduk lalu berjalan menuju ke lorong  taman untuk menghubungi mamanya.


Ibu Arini menggeser duduknya agar lebih dekat lagi dengan Pak Ferdi.


“Jadi Papah setuju Rahma menikah dengan Rendi?” tanya Ibu Arini dengan berbisik agar Rendi tidak mendengar pembicaraan mereka.


“Kata siapa Papa tidak setuju?” tanya Pak Ferdi.


“Iiihhh. Papa bagaimana, sih? Tadi Papa seperti tidak setuju jika Rahma menikah dengan Rendi,” kata Ibu Arini.


“Papa tidak bilang begitu. Papa hanya ingin dia tahu kalau dia tidak boleh berleha-leha walaupun ia sudah kaya. Kekayaan akan habis kalau dia tidak mengelola usaha milik kakeknya dengan baik,” ujar Pak Ferdi.


Pak Ferdi menoleh ke Rahma.

__ADS_1


“Lalu bagaimana dengan kamu? Apa kamu akan keluar dari pekerjaanmu jika nanti kamu sudah menikah?” tanya Pak Ferdi.


“Sebagai pengusaha Rendi pasti sibuk dengan perusahaannya. Kamu juga sibuk dengan pekerjaan kamu. Lalu bagaimana kalian akan bertemu satu dengan lain? Salah satu dari kalian ada yang harus mengalah,” ujar Pak Ferdi.


“Jika Rahma sudah menikah, Rahma akan menuruti apa yang dikatakan oleh aa Rendi. Jika aa Rendi menyuruh Rahma berhenti bekerja, Rahma akan mengundurkan diri dari ASN,” kata Rahma.


“Kamu harus konsisten dengan keputusanmu! Jangan sampai kamu menyesal dengan keputusanmu,” ujar Pak Ferdi.


“Insyaallah Rahma akan konsisten dengan keputusan yang Rahma ambil,” kata Rahma.


Rendi kembali ke ruang tengah. Ia sudah menelepon mamanya. Ia duduk kembali di sebelah Rahma.


“Bagaimana, A?” tanya Rahma.


“Insyaallah besok Mama dan Kakek akan datang ke Kuningan. Kemungkinan mereka akan sampai antara jam sepuluh atau jam sebelas,” jawab Rendi.


“Alhamdullilah,” ucap Rahma dan Ibu Arini.


Tiba-tiba Ibu Arini menjadi kebingungan.


“Aduh. Papa ini bagaimana, sih? Mama belum pesan catering. Mana ada catering yang mau menerima pesanan dengan mendadak. Mereka menerima pesanan dua hari sebelumnya,” kata Ibu Arini.


“Kalau susah pesan makanan ke catering, pesan ke restaurant saja!” ujar Pak Ferdi dengan tenang.


Tinggallah Pak Ferdi, Rahma dan Rendi di ruang keluarga. Pak Ferdi kembali fokus ke layar televisi.


“Om. Terima kasih sudah menerima lamaran saya,” ucap Rendi.


Pak Ferdi menoleh ke Rendi.


“Saya belum menerima lamaran kamu. Orang tua kamu belum datang ke sini untuk melamar Rahma,” ujar Pak Ferdi.


“Papa, ihhh.” Rahma merajuk dengan kesal. Papanya masih saja jual mahal.


Ibu Arini keluar dari kamar sambil membawa ponsel.


“Ada teman Komala yang punya café. Makanannya enak dan harganya tidak mahal,” ujar Ibu Arini.


“Apa kita pesan di sana saja, ya?” tanya Ibu Arini.


“Terserah Mama. Mama atur saja bagaimana bagusnya,” jawab Pak Ferdi.


Ibu Arini menoleh ke Rendi.


“Kira-kira berapa orang keluargamu yang akan ikut ke sini?” tanya Ibu Claudia.

__ADS_1


“Rendi tidak tau, Tante,” jawab Rendi.


“Mama belum tau siapa saja yang akan ikut ke Kuningan. Soalnya acaranya mendadak,” lanjut Rendi.


“Sudah dikira-kira saja! Keluarga kita berapa orang, dari keluarga Rendi berapa orang. Pesan makanannya sejumlah itu!” ujar Pak Ferdi.


“Mama takut tidak cukup makanannya,” kata Ibu Arini.


“Kalau begitu saya tanyakan dulu ke mama saya.” Rendi membuka layar ponselnya. Ia hendak menelepon mamanya.


“Eh, tidak usah! Biar Tante kira-kira saja. Nanti kalau kurang bisa pesan lagi,” sahut Ibu Arini. Rendi tidak jadi menelepon mamanya.


Ibu Arini dan Rahma membicarakan persiapan untuk acara besok. Pak Ferdi mengajak Rendi berbicara. Beliau menanyakan banyak tentang perusahaan milik kakek Rendi kepada Rendi. Bagaimanapun juga beliau harus tau semua tentang Rendi. Jangan seperti membeli kucing dalam karung. Beliau tidak tau apapun tentang perusahaan Rendi.


Pukul dua siang, Rendi permisi untuk check in ke hotel. Sekalian ia hendak istirahat karena sudah sangat lelah menyetir mobil dari pagi.


“Hafal jalan ke hotelnya, tidak?” tanya Rahma ketika mengantar Rendi sampai ke mobil.


“Hafal, dong. Kalau tidak hafal kembali lagi saja ke sini.” Rendi membuka pintu mobil. Ia hendak masuk ke dalam mobil, tapi ia teringat dengan sesuatu, ia tidak jadi masuk ke dalam mobil. Rendi berjalan menuju ke pintu pagar. Ia membuka pintu pagar. Setelah itu ia masuk ke dalam mobil.


Rendi membuka kaca jendela mobil lalu menyalakan mesin mobilnya.


“Aku ke hotel dulu, ya,” ujar Rendi.


“Iya,” jawab Rahma.


“Ingat, kamu akan dilamar. Jangan menerima telepon dan tamu laki-laki!” ujar Rendi dengan wanti-wanti.


“Bagaimana kalau teman-teman kantor yang menelepon?” tanya Rahma.


“Kalau urusan pekerjaan boleh. Tapi kalau cuma iseng nelepon tidak boleh!” ujar Rendi.


“Baik, Aa Rendi,” jawab Rahma.


“Ingat, tidak boleh nakal!” ujar Rendi.


“Aa Rendi juga tidak boleh nakal lirik-lirik perempuan!” kata Rahma.


“Baik, Ibu Rahma,” jawab Rendi.


“Sudah, ya. Aku ke hotel, sudah cape mau istirahat. Assalamualaikum.” Rendi memundurkan mobil keluar dari halaman rumah Rahma.


“Waalaikumsalam,” jawab Rahma.


Setelah mobil keluar Rendi membunyikan klakson mobil dan melambaikan tangan ke Rahma. Rahma membalas lambaian tangan Rendi. Mobil Rendi pun meluncur meninggalkan rumah orang tua Rahma.

__ADS_1


__ADS_2