
Rendi membelokkan mobil ke halaman kantor Rahma. Ia menghentikan mobil tepat di depan gedung kantor.
“Pak Rendi, terima kasih atas tumpangannya,” ucap Pak Barli sebelum turun dari mobil.
Rendi dan Rahma menoleh ke belakang.
“Sama-sama, Pak Barli,” jawab Rendi.
“Rahma, terima kasih,” ucap Pak Barli.
“Iya, Pak Barli,” jawab Rahma.
Pak Barli turun dari mobil sambil membawa barang-barang bawaannya yang sangat banyak. Setelah turun dari mobil Pak Barli menutup pintu lalu melambaikan tangan ke Rahma, Rahma membalas lambaian tangan Pak Barli. Rendi menjalankan mobilnya meninggalkan kantor Rahma.
“Bagaimana dengan pelatihannya? Menyenangkan, tidak?” Rendi menoleh sebentar ke Rahma lalu fokus lagi ke depan.
“Mana ada pelatihan yang menyenangkan,” kata Rahma dengan wajah cemberut.
“Pelatihan itu sama saja seperti sekolah. Harus memperhatikan instruktur ketika sedang menerangkan. Setelah itu dikasih tugas, jadi terpaksa harus belajar,” lanjut Rahma.
“Tidak apa-apa, nanti jadi tambah pintar,” ujar Rendi.
“Nanti di kantor harus mengajarkan apa yang telah dipelajari kepada teman-teman. Pokoknya ribet, deh,” keluh Rahma.
“Tidak apa-apalah, jadi amal kebaikan untuk kamu,” ujar Rendi.
Rahma teringat kalau ia belum memberitahu Rendi tentang mess baru.
“Oh ya, Pak Rendi. Saya sudah mendapatkan tempat kost baru,” kata Rahma.
Rendi kaget mendengarnya. Ia menoleh ke Rahma.
“Oh, ya? Dimana?” tanya Rendi.
“Di kantor. Saya dapat mess dari kantor,” jawab Rahma.
“Tapi masih belum bisa ditempati karena sedang direnovasi,” lanjut Rahma.
Rendi lega mendengar perkataan Rahma.
“Baguslah. Jadi kamu masih bisa tinggal di rumah saya sampai mess itu selesai direnovasi,” ujar Rendi.
“Kok malah bagus, sih? Saya kan merasa tidak enak terlalu lama menumpang di rumah Pak Rendi,” kata Rahma.
“Mengapa merasa tidak enak? Mama senang kamu tinggal di rumah jadi mamah punya teman. Kakek senang juga senang kamu tinggal bersama kami karena punya teman main catur. Terlebih lagi saya, saya jadi punya teman untuk berbicara. Apalagi pekerjaan kita berbeda jadi bisa sharing pengalaman,” ujar Rendi sambil fokus menyetir.
Tidak terasa mereka sampai di depan rumah Rendi. Pak Atmo dengan tergopoh-gopoh membuka pintu pagar. Setelah pintu pagar dibuka Rendi memasuki mobilnya ke dalam garasi. Rahma turun dari mobil. Rendi turun dari mobil lalu membuka pintu bagasi. Rahma hendak mengambil barang-barang bawaannya, namun dilarang oleh Rendi.
__ADS_1
“Biar saya yang bawa,” ujar Rendi.
“Saya bawa ini saja.” Rahma mengambil kantong plastik yang berisi oleh-oleh lalu membawa ke dalam rumah. Rendi mengambil travel bag Rahma lalu membawa tas tersebut.
“Assalamualaikum,” ucap Rahma ketika masuk ke dalam rumah.
“Waalaikumsalam,” jawab Pak Sultan dan Ibu Claudia.
“Rahmaaaa.” Ibu Claudia beranjak dari tempat duduk lalu menghampiri Rahma. Rahma menyimpan kantong plastik di atas meja makan. Ibu Claudia langsung memeluk Rahma.
“Tante kangen sama kamu,” ujar Ibu Claudia.
“Rahma juga kangen sama Tante,” kata Rahma.
Ibu Claudia melepas pelukannya lalu memandangi Rahma dari kepala sampai kaki.
“Sepertinya kamu agak gendutan, deh,” ujar Ibu Claudia.
“Masa, sih?” Rahma memperhatikan bentuk tubuhnya. Memang bentuk tubuhnya lebih terlihat berisi daripada sebelumnya.
“Oh, iya ya. Mungkin karena selama di sana Rahma lebih banyak duduk sehingga kurang gerak,” kata Rahma.
Rahma menghampiri Pak Sultan yang dari tadi hanya memperhatikan Rahma dan Ibu Claudia. Ia mencium tangan Pak Sultan.
“Bawa oleh-oleh buat Kakek, tidak?” tanya Pak Sultan.
“Banyak sekali oleh-olehnya,” ujar Pak Sultan.
“Kan untuk rame-rame,” jawab Rahma.
Rendi mendekati Rahma lalu memberikan tas kertas berukuran besar kepada Rahma.
“Apa ini?” Rahma menandangi tas kertas yang diberikan oleh Rendi.
“Itu oleh-oleh untuk kamu,” jawab Rendi.
“Terima kasih.” Rahma mengambil tas kertas dari Rendi.
“Coba buka, Ma. Tante mau lihat isinya,” ujar Ibu Claudia penasaran.
“Mama kan sudah dapat,” kata Rendi.
“Mama cuma ingin lihat isinya apa,” jawab Ibu Claudia.
Rahma membuka tas kertas ternyata isi tas kertas tersebut adalah dua buah tas. Rahma mengeluarkan kedua tas tersebut. Ia memperhatikan tas tersebut satu persatu. Kedua tas tersebut buatan Jepang dengan merek yang terkenal di Jepang. Yang satu berukuran sedang dengan model shoulder bag cocok untuk dipakai ke kantor. Yang satu lagi berukuran kecil dengan model sling bag cocok untuk jalan-jalan.
“Wah, bagus tasnya,” puji Ibu Claudia ketika melihat tas pemberian Rendi.
__ADS_1
Rahma memperhatikan label harga yang menempel di tas tersebut. Rahma diam sambil menghitung ke kurs rupiah, hasilnya membuat Rahma kaget.
“Pak, ini mahal sekali,” kata Rahma.
“Eh, biarkan saja! Merek ini tidak ada di Indonesia cuma ada di Jepang. Jadi jarangan yang akan menyamai,” ujar Ibu Claudia.
“Terima kasih banyak Pak Rendi,” ucap Rahma sekali lagi.
“Sama-sama, Rahma,” jawab Rendi.
Rahma melihat jam yang menempel di dinding waktu sudah menunjukkan pukul tujuh kurang. Ia baru sadar kalau ia belum sholat magrib.
“Ehk, saya belum sholat magrib.” Rahma langsung pergi ke kamarnya dan membawa masuk travel bag dan tas kerta.
***
Keesokan harinya dari subuh Rahma sibuk mencuci pakaian kotor yang menggunung. Sudah lima hari ia tidak mencuci pakaian. Ibu Claudia menghampiri Rahma di tempat cuci baju.
“Ayo sarapan dulu. Cuci bajunya dilanjutkan nanti!” ujar Ibu Claudia.
“Tanggung, Tante. Sedikit lagi,” kata Rahma sambil menggantungkan bajunya dengan menggunakan hanger.
“Tante sarapan duluan, ya,” ujar Ibu Claudia.
“Iya, Tante,” jawab Rahma. Ibu Claudia kembali ke tengah rumah.
Setelah selesai mencuci pakaian Rahma menuju ke kamarnya untuk mandi. Ketika melewati ruang makan Rendi, Ibu Claudia dan Pak Sultan sedang sarapan.
Rendi memanggil Rahma, “Ma, ayo sini sarapan dulu!”
“Nanti saja, Pak Rendi. Saya mau mandi dulu,” jawab Rahma. Ia terus berjalan menuju ke kamarnya.
Setelah selesai mandi, Rahma keluar dari kamarnya. Ia menuju ke ruang makan. Di ruang makan sudah tidak ada siapa-siapa lagi. Rahma duduk di meja makan. Ia menuangkan nasi goreng ke atas piring lalu memakan nasi goreng tersebut. Ketika Rahma sedang makan Rendi masuk ke dalam rumah. Ia dari taman belakang rumah.
“Makan Pak Rendi,” kata Rahma.
“Ya, silahkan. Tadi saya sudah makan.” Rendi berjalan menuju ke wastafel yang berada di ruang makan. Ia mencuci tangan di wastafel tersebut. Setelah selesai mencuci tangan Rendi menghampiri Rahma yang sedang makan. Ia duduk di sebelah Rahma.
“Nanti sore kita jalan-jalan, ya,” ujar Rendi.
“Kemana?” tanya Rahma sambil mengunyah makanan.
“Kita nonton terus makan malam. Sudah lama kita tidak jalan bareng,” jawab Rendi.
“Ya, baiklah,” kata Rahma tanda setuju.
“Oke, kalau begitu. Saya mau cuci mobil dulu.” Rendi mengambil kerupuk dari dalam toples lalu berjalan ke garasi sambil memakan kerupuk.
__ADS_1