183 Hari Menjadi Kekasih

183 Hari Menjadi Kekasih
58. Mau Makan Asalkan...


__ADS_3

Setelah selesai sholat magrib Rendi dan Rahma pergi menuju ke restaurant seafood. Namun, mereka hanya pergi berdua saja karena Ibu Claudia dan Pak Sultan tidak ikut dengan mereka. Pak Bobby akan datang ke rumah. Pak Sultan hendak main catur dengan Pak Bobby. Ini kesempatan Ibu Claudia agar tidak bertemu dengan Pak Bobby. Ia ikut dengan Rendi dan Rahma. Tapi dilarang oleh Pak Sultan.


“Nanti siapa yang membuatkan Ayah dan Pak Bobby kopi?” tanya Pak Sultan.


“Kan ada bi Wiwiek. Biasanya juga Ayah minta dibuatkan kopi sama bi Wiwiek,” jawab Ibu Claudia.


“Tidak, ah. Kopi buatan bi Wiwiek tidak seenak kopi buatanmu,” ujar Pak Sultan.


Mendengar perkataan Pak Sultan, Ibu Claudia langsung cemberut. Rahma mendekati Ibu Claudia. Ia merangkul punggung Ibu Claudia lalu mengusap punggung Ibu Claudia.


“Nanti Rahma bawakan oleh-oleh. Mama mau dibawakan apa?” tanya Rahma.


Ibu Claudia tersenyum memandang Rahma.


“Tidak usah. Kamu saja makan yang banyak. Biar janin di dalam perutmu bisa tumbuh dengan sehat.” Ibu Claudia megusap perut Rahma.


“Bawakan Kakek martabak,” sahut Pak Sultan.


“Siap, Kek,” jawab Rahma. Rahma da Rendi pun pamit kepada Ibu Claudia dan Pak Sultan.


Mereka sampai di restaurant seafood. Restaurant itu penuh dengan pengunjung. Kebanyakan pengunjung yang datang adalah dari kalangan para pegawai kantor. Terlihat dari pakaian yang mereka pakai, mereka masih menggunakan pakaian kerja.


Rahma dan Rendi mencari tempat duduk kosong. Di pinggir ruangan ada tempat yang kosong. Rahma dan Rendi duduk di sana. Seorang pelayan restaurant menghampiri Rahma dan Rendi lalu memberikan daftar menu kepada mereka.


“Kamu pilih apa yang kamu mau,” ujar Rendi.


Rahma membaca daftar menu. Lalu mencatat menu yang ingin ia makan. Rahma memesan banyak makanan. Rendi hanya memperhatikan istrinya sedang menulis makanan pesanannya. Setelah selesai ia memberikan daftar menu ke Rendi.


“Kamu pesan apa saja?” Rendi mengambil kertas untuk mencatat pesanan. Di kertas itu tertulis macam-macam menu yang Rahma pesan. Ia memilih makanan yang belum dipesan oleh Rahma. Ia mencatat menu yang ia pesan kemudian ia memberikan kertas dan daftar menu kepada pelayan restaurant.


Pelayan itu membaca pesanan Rahma dan Rendi yang jumlahnya sangat banyak. Sedangkan yang memesan hanya dua orang.


“Pak, ini dimakan di sini semuanya?” tanya pelayan itu.


“Iya, dimakan di sini semua,” jawab Rendi. Kemudian pelayan itu pun pergi meninggalkan meja Rahma dan Rendi.


Seperempat jam kemudian pelayan datang membawa pesanan Rahma dan Rendi. Makanan pesanan mereka datang satu persatu hingga meja mereka penuh dengan makanan. Pelayan terpaksa mengambil meja kosong dan ditaruh di sebelah meja Rahma dan Rendi karena mejanya sudah tidak muat untuk menyimpan makanan pesanan mereka.


Rahma memakan makanan pesanannya. Rendi diam tidak berkomentar apapun, ia membiarkan istrinya memakan semuanya. Pesanan Rahma terus saja berdatangan hingga kedua meja tersebut penuh dengan makanan pesanan Rahma.


Rahma memakan makanannya sedikit demi sedikit. Hingga Rendi lebih dulu selesai makan sedangkan Rahma masih belum selesai makan.


“Kok sudah makannya? Ini masih banyak.” Rahma menujuk ke makanan yang berada di atas meja.

__ADS_1


“Aa sudah kenyang. Kamu habiskan saja semuanya,” ujar Rendi.


“Mana bisa Rahma menghabiskan makanan sebanyak ini,” kata Rahma.


“Nanti kalau tidak habis dibungkus saja. Buat di rumah,” ujar Rendi. Rahma melanjutkan makan. Sampai akhirnya ia merasa kekenyangan.


“Sudah kenyang,” kata Rahma.


Rendi melambaikan tangannya memanggil pelayan.


“Tolong bungkus ini semua.” Rendi menunjuk makanan yang belum dimakan oleh Rahma.


“Baik, Pak.” Pelayan itu membawa makanan tersebut satu persatu untuk dibungkus.


“Aku bayar makanan dulu,” pamit Rendi. Rendi beranjak dari tempat duduk menuju ke kasir.


“Saya mau bayar,” ujar Rendi.


“Meja berapa, Pak?” tanya kasir.


“Meja sepuluh,” jawab Rendi.


Kasir mengambil bon meja sepuluh lalu diberikan ke Rendi.


Rendi membaca pesanan satu persatu.


“Iya betul,” jawab Rendi.


Kasir menyebutkan nominal yang harus dibayar oleh Rendi. Jumlahnya fantastis. Rendi tidak masalah harus membayar dengan nominal sangat besar. Bagi Rendi yang terpenting istri dan janin di dalam kandungan istrinya dalam keadaan sehat.


Rendi membayar dengan menggunakan kartu saktinya. Setelah selesai membayar ia kembali ke tempat duduknya. Pelayan tadi menghampiri mereka dan memberikan dua buah plastik besar. Rendi memegang plastik tersebut.


“Ayo kita pulang,” ajak Rendi. Rahma beranjak dari tempat duduk lalu mereka berjalan menuju ke mobil. Sebelum pulang ke rumah mereka mampir dulu ke tukang martabak. Mereka membeli martabak untuk Pak Sultan dan Pak Bobby. Sesampai di rumah Pak Sultan sedang asyik bermain catur dengan Pak Bobby.


“Mama mana?” tanya Rahma.


“Tadi masuk ke kamar untuk sholat Isya. Tapi sampai sekarang belum keluar lagi dari kamar. Mungkin dia ketiduran,” jawab Pak Sultan.


“Bangunin, sana! Bilang Pak Bobby mau tambah lagi kopinya,” ujar Pak Sultan kepada Rahma.


“Tidak usah, Pak Sultan. Kasihan Ibu Claudia pasti kecapean. Saya minum air putih saja,” ujar Pak Bobby.


“Kakek dan Pak Bobby mau makan, tidak? Rahma bawa seafood banyak,” tanya Rahma.

__ADS_1


“Tidak. Kakek sudah kenyang. Tadi sudah makan,” jawab Pak Sultan.


“Pak Bobby mau makan lagi, tidak?” tanya Pak Sultan.


“Tidak. Terima kasih. Saya sudah kenyang,” jawab Pak Bobby.


“Kalau begitu makan martabak saja,” ujar Pak Sultan.


“Bawa martabak, tidak?” tanya Pak Sultan kepada Rahma.


“Bawa, Kek,” jawab Rahma.


Rahma menempatkan martabak manis dan martabak telur di atas piring lalu ia taruh di atas meja sofa. Ia membawakan piring kecil dan sendok untuk tempat makan martabak.


“Ini piring dan sendoknya, Kek,” kata Rahma.


“Nah, ini baru enak.” Pak Sultan mengambil martabak dengan menggunakan sendok lalu ia taruh di atas piring kecil.


“Ayo, Pak Bobby. Dimakan martabaknya!” ujar Pak Sultan.


“Iya, Pak Sultan. Terima kasih.” Pak Bobby mengambil martabak lalu di taruh di atas piring kecil. Ia bermain catur sambil makan martabak.


Keesokkan paginya Rahma tidak ingin sarapan dengan makanan seafood yang kemarin. Ia ingin sarapan dengan nasi goreng kambing. Semua orang kebingungan karena pagi-pagi tidak ada yang berjualan nasi goreng kambing. Rendi mencari nasi goreng kambing di aplikasi ojek online dan markerplaces akan tetapi semuanya belum ada yag buka. Mereka berjualan sore ke malam.


“Kalau begitu Bibi ke pasar dulu, ya. Bibi beli daging kambing dulu,” kata bi Wiwiek.


“Saya mau nasi goreng kambing betawi bukan nasi goeng kambing biasa,” kata Rahma dengan kesal. Ia berdiri sambil menghentak-hentakkan kakinya. Ia kesal pada semua orang karena tidak ada yang mengerti keinginannya.


“Oh, iya. Mama baru ingat sekatang mall yang berada di jalan Gatot Subroto ada café yang mejual makanan Betawi. Di sana ada nasi goreng kambing, sop kambing Betawi dan semua makanan ciri khas Betawi,” kata Ibu Claudia.


“Mau, A,” kata Rahma dengan manja.


“Nanti siang kita ke sana. Sekarang kamu sarapan dulu. Kasihan anak kita kalau mamanya btidak mau makan,” ujar Rendi sambil mengusap kedua lengan Rahma.


“Kamu mau makan apa?” tanya Rendi.


“Rahma mau sarapan dengan martabak, jawab Rahma.


“Masih ada martabak sisa tadi malam. Mama panaskan dulu,” ujar Ibu Claudia.


“Rahma panaskan sendiri, Ma.” Rahma beranjak dari kursi.


“Tidak usah! Kamu duduk saja. Biar Mama yang memanaskanya,” ujar Ibu Claudia.

__ADS_1


.


__ADS_2