183 Hari Menjadi Kekasih

183 Hari Menjadi Kekasih
49. Makan Siang Bersama


__ADS_3

Rendi membiarkan mama yang sedang kesal. Ia fokus mengendarai mobilnya mengikuti mobil Pak Bobby.


Pak Bobby mengendarai mobilnya menuju ke sebuah restaurant sunda yang berada di dekat lapangan Gasibu. Ketika Pak Bobby membelokkan mobilnya ke halaman restaurant Rendi juga ikut membelokkan mobilnya ke halaman restaurant tersebut. Ia memarkirkan mobilnya di depan restaurant. Setelah mematikan mesin mobil Rendi membuka pintu belakang, namun Ibu Claudia enggan untuk keluar dari mobil.


Rahma turun dari mobil lalu menghampiri Ibu Claudia.


“Tante. Kita turun, yuk!” Rahma mengajak Ibu Claudia.


“Tante malas turun. Tante mau menunggu di sini saja,” ujar Ibu Claudia sambil menekukkan wajahnya.


“Nanti Tante sakit kalau telat makan,” kata Rahma.


Pak Sultan dan Pak Bobby menghampiri mereka. Pak Sultan melihat Claudia masih duduk di dalam mobil dikelilingi Rahma dan Rendi.


“Kamu kenapa Claudia? Kamu sakit?” tanya Pak Sultan dengan khawatir.


“Claudia tidak apa-apa, Yah,” jawab Ibu Claudia.


“Claudia hanya cape,” lanjut Ibu Claudia.


Ibu Claudia turun dari mobil dibantu oleh Rahma.


“Apa Ibu Claudia tidak apa-apa? Apa perlu dibawa ke dokter?” tanya Pak Bobby dengan raut wajah yang  cemas melihat keadaan Ibu Claudia.


“Tidak usah! Saya tidak sakit,” jawab Ibu Claudia dengan ketus.


Ibu Claudia merangkul pinggang Rahma, kemudian Rahma merangkul bahu Ibu Claudia. Mereka berjalan sambil merangkul satu sama lain. Mereka seperti ibu dan anak. Pak Bobby mengikuti mereka dari belakang. Ia nampak khawatir dengan keadaan Ibu Claudia.


Pak Sultan dan Rendi berjalan paling belakang.


“Mama kamu kenapa?” tanya Pak Sultan dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh Pak Bobby.


“Mama tidak mau makan bareng dengan Pak Bobby,” jawab Rendi sambil berbisik.


Pak Sultan menghela napas.


“Mama kamu selalu saja begitu. Padahal Pak Bobby bersikap baik kepada mamamu,” ujar Rendi.


“Rendi tahu, Kek. Biarkan saja daripada nanti mama bertambah marah,” kata Rendi,


Restaurant penuh dengan orang yang sedang makan siang mereka kesulitan untuk mencari meja yang kosong. Mereka berkeliling restaurant mencari meja yang kosong. Akhirnya mereka menemukan saung yang kosong hanya saja mejanya sedang dibersihkan oleh karyawan restaurant. Mereka menunggu sampai saung itu selesai dibersihkan.


Setelah saung selesai dibersihkan mereka duduk di saung tersebut. Seorang karyawan restaurant datang memberikan buku menu kepada mereka.

__ADS_1


“Apa Ibu Claudia mau minum obat dulu? Agar badan Ibu lebih enakan?” tanya Pak Bobby kepada Ibu Claudia.


“Saya tidak sedang sakit, Pak Bobby. Saya hanya cape saja,” jawab Ibu Claudia dengan kesal. Sudah berulang ia mengatakan kalau ia tidak apa-apa tetapi Pak Bobby tetap saja mengkhawatirkan keadaannya.


“Syukurlah kalau Ibu Claudia tidak apa-apa. Saya takut Ibu Claudia jatuh sakit,” ujar Pak Bobby dengan perasaan lega.


Mereka pun memilih menu makanan yang mereka inginkan. Karyawan itu mencatat semua pesanan mereka. Setelah selesai mencatat pesanan mereka karyawan itu meninggalkan tempat mereka.


“Saya dengar dari Pak Sultan kalau kalian akan menikah,” ujar Pak Sultan kepada Rendi dan Rahma.


“Betul, Pak,” jawab Rendi.


“Kapan kalian menikahnya?” tanya Pak Bobby.


“Belum tau. Saya ingin menikah secepatnya. Minggu depan saya baru mau minta restu kepada orang tua Rahma,” jawab Rendi. Pak Bobby mengangguk tanda mengerti.


“Kalian mau hadiah apa dari saya?” tanya Pak Bobby.


“Tidak usah, Pak Bobby. Kami minta doanya saja agar rumah tangga kami langgeng sampai akhir hayat. Menjadi keluarga sakina, mawadah, warohmah,” kata Rendi.


“Aamiin,” ucap Ibu Claudia.


“Bagaimana kalau saya yang membiayai pernikahan kalian?” tanya Pak Bobby.


“Tidak usah berlebihan, deh,” gumam Ibu Claudia dengan kesal.


“Tidak usah, Pak Bobby! Saya sanggup untuk membiayai pernikahan saya,” kata Rendi.


“Tidak apa-apa. Saya hanya ingin memberi hadiah untuk pernikahan kalian. Kalian tinggal atur ingin pernikahan yang seperti apa, nanti saya yang akan membayar semuanya,” ujar Pak Bobby.


“Pak Bobby! Saya masih sanggup membiayai pernikahan anak saya. Jadi Pak Bobby tidak usah repot-repot hendak membiayai pernikahan anak saya!” kata Ibu Claudia kesal.


“Tidak apa-apa, Ibu Claudia. Saya hanya ingin memberi mereka hadiah,” ujar Pak Bobby yang tetap dengan pendiriannya.


Akhirnya Rendi mengambil jalan tengah. Agar Pak Bobby masih bisa memberi hadiah pernikahan Rendi dengan Rahma, tanpa harus ikut campur membiayai pernikahan tersebut.


“Begini saja. Pak Bobby berikan kami hadiah apa saja untuk pernikahan kami, pasti akan kami terima,” kata Rendi.


“Baiklah kalau kalian mau begitu,” ujar Pak Bobby.


Ibu Claudia mendengar suara pesan masuk di ponselnya. Ia mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Ia membuka layar ponselnya. Ia melihat jam di layar ponsel menunjukkan pukul setengah satu. Ia teringat kalau ia belum sholat dzuhur.


“Rahma, kita belum sholat dzuhur,” kata Ibu Claudia kepada Rahma.

__ADS_1


“Iya, Tante,” jawab Rahma. Rahma langsung berdiri dari duduk.


“Ayo, Tante. Kita sholat dulu,” kata Rahma. Ibu Claudia ikut berdiri.


“Rendi, Mama sholat dulu,” ujar Ibu Claudia kepada Rendi.


“Iya, Mah. Nanti Rendi sholat setelah Mama selesai sholat,” kata Rendi.


Ibu Claudia dan Rahma meninggalkan saung menuju ke mushola.


“Kakek juga mau sholat.” Pak Sultan pun berdiri.


“Ayo Pak Bobby, kita sholat dulu! Biar Rendi yag menunggu di sini,” ujar Pak Sultan. Pak Bobby pun berdiri, kemudia ia berjalan bersama Pak Sultan menuju ke mushola.


Setelah selesai sholat Ibu Claudia dan Rahma kembali ke saung tempat mereka duduk. Ternyata makan pesanan mereka sudah tersedia. Rendi sedang menunggu mereka sambil bermain ponsel.


“Rendi. Sana sholat dulu!” ujar Ibu Claudia.


Rendi langsung berdiri dan memasukkan ponsel ke dalam saku celana.


“Aku sholat dulu,” kata Rendi kepada Rahma.


“Iya,” jawab Rahma.


Rendi pun meninggalkan saung menuju ke mushola. Tidak lama kemudian Pak Sultan dan Pak Bobby kembali dari mushola. Mereka duduk di saung.


“Wah makanannya sudah tersedia,” ujar Pak Sultan.


“Ayah mau makan sekarang?” tanya Ibu Claudia.


“Iya. Ayah sudah lapar,” jawab Pak Sultan.


Ibu Claudia menuangkan nasi ke atas piring Pak Sultan. Lalu menaruh lauk pauk yang diinginkan Pak Sultan. Pak Bobby memperhatikan Ibu Claudia yang sedang melayani Pak Sultan.


“Ayo Pak Bobby. Kita makan duluan.” Pak Sultan pun mulai makan.


“Iya, Pak,” jawab Pak Bobby. Pak Bobby memandangi Ibu Claudia yang sedang menuangkan nasi ke atas piring Ibu Claudia sendiri. Ibu Claudia terlihat acuh kepadanya. Pak Bobby menghela napas.


Pak Bobby mengambil tempat nasi lalu menuangkan nasi ke atas piring. Ia juga mengambil lauk pauk lalu diletakkan ke atas piring. Kemudian ia pun mulai makan.


Ketika mereka sedang makan Rendi datang dari mushola. Rendi duduk di sebelah Pak Sultan. Dengan cekatan Rahma mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Rendi. Pak Bobby memperhatikan Rahma yang sedang melayani Rendi. Lalu ia menoleh ke Ibu Claudia yang duduk di hadapannya. Wanita itu acuh kepadanya tapi ia berharap banyak kepada wanita itu.


Pak Bobby menghela napas.

__ADS_1


Sabar Bobby, sabar. Biar waktu yang akan membuktikan semuanya, ujar Pak Bobby di dalam hati.


__ADS_2