
Rahma sedang mengetik dokumen di laptop tiba-tiba Yani cleaning service di kantornya masuk ke dalam ruang kerja Rahma.
"Bu Rahma. " Yani memanggil Rahma.
Rahma menoleh ke Yani.
"Dipanggil sama Ibu Maryam," kata Yani.
Ibu Maryam adalah kepala Centra tempat Rahma bekerja.
"Ya, sebentar. Lagi tanggung, nih, " jawab Rahma sambil melanjutkan mengetik.
"Kata Ibu Maryam penting sekali," kata Yani.
"Iya." Rahma mematikan laptop lalu menyimpan laptop di dalam lemari meja kerja dan mengunci kemari tersebut. Di kantor Rahma rawan dengan pencurian sehingga ia harus berhati-hati menyimpan barang berharga. Terkadang para pencuri suka berpura-pura menjadi tamu.
Setelah menyimpan laptop di tempat yang aman barulah Rahma beranjak dari tempat duduk lalu keluar dari ruangannya. Rahma menaiki tangga menuju ke ruang kerja kepala Centra. Rahma mengetuk pintu ruang kerja kepala Centra.
"Masuk! " Terdengar suara Ibu Maryam dari dalam ruangan. Rahma membuka pintu lalu masuk ke dalam ruangan Ibu Maryam.
"Silahkan duduk! " ujar Ibu Maryam. Rahma duduk di kursi yang berada di depan meja kerja Ibu Maryam.
"Saya dengar kamu sedang mencari tempat kost, " ujar Ibu Maryam.
"Apa benar?" tanya Ibu Maryam.
"Benar, Bu, " jawab Rahma.
Ibu Maryam merubah posisi duduknya.
"Ada mess yang kosong. Mess bekas Pak Sugeng. Pak Sugeng pindah ke Jakarta jadi mess nya dikembalikan ke kantor. Tapi sekarang mess nya, sedang direnovasi. Jadi kamu belum bisa langsung menempati mess, " ujar Ibu Maryam.
"Tidak apa-apa, Bu, " kata Rahma. Kerena Rahma belum bisa pindah sebelum Rendi pulang dari Jepang.
"Ya sudah, saya mau memberitahu itu saja, " ujar Ibu Maryam.
"Terima kasih, Bu " Rahma beranjak dari tempat duduk lalu meninggalkan ruang kerja Ibu Maryam.
Rahma merasa senang karena masalah mencari tempat kost sudah dapat di atasi. Ia kembali ke ruang kerja.
***
Akhirnya, sudah waktunya Rendi pergi ke Jepang. Rahma, tidak bisa mengantar Rendi ke bandara Internasional Soekarno-Hatta karena ia harus bekerja. Rendi berangkat dari Bandung pukul tiga sore karena pesawat berangkat pukul setengah sepuluh malam.
Rendi berangkat lebih awal untuk mengantisipasi jika macet di jalan. Perjalanan dari Bandung ke Jakarta bisa menghabiskan waktu dua atau tiga jam. Apalagi menjelang sore jalan di Jakarta sangat macet baik jalan biasa ataupun jalan tol. Rendi tidak ingin telat sampai bandara.
Sebelum keberangkatan Rendi ke Jepang ia sempat diri untuk mengantar Rahma berangkat ke kantor.
"Ingat pesan saya, jangan pindah ke tempat kost dulu sebelum saya pulang dari Jepang! " ujar Rendi ketika Rahma hendak turun dari mobil.
__ADS_1
"iya, " jawab Rahma.
"Sampai ketemu dua minggu lagi. Assalamualaikum, " Rahma turun dari mobil lalu berjalan menuju kantor.
"Waalaikumsalam, " jawab Rendi.
Rendi pun menjalankan mobilnya dan meninggalkan kantor Rahma.
Rahma sama sekali belum mengatakan rencana kepindahannya ke mess kantor kepada Rendi dan Ibu. Claudia. Ia baru akan mengatakan kepada Ibu Claudia dan Rendi jika mess kantor sudah selesai diperbaiki.
***
Ibu Claudia turun dari mobil sambil membawa rantang dan kantong plastik yang berisi kontak kue. Ia berdiri di depan sebuah gedung perkantoran yang sangat megah. Ia berjalan memasuki lobby gedung tersebut.
Ibu Claudia menghampiri seorang petugas operator yang merangkap menjadi resepsionis.
"Selamat siang, " ucap Ibu Claudia. Melihat ada tamu yang datang resepsionis itu langsung berdiri.
"Siang, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis.
"Saya mau bertemu dengan Pak Bobby, " jawab Ibu Claudia.
"Tunggu sebentar, Bu. Saya bilang dulu ke sekretaris Pak Bobby, " kata resepsionis itu.
"Iya,. Saya, tunggu," jawab Ibu Claudia.
Beberapa detik kemudian resepsionis itu selesai berbicara, dengan sekretaris Pak Bobby.
"Ibu silahkan langsung naik ke atas. Ruangan Pak Bobby ada, di lantai delapan. Pintu lift ada di sebelah sana. " Resepsionis itu menunjuk ke arah pintu liff.
"Terima kasih, " ucap Ibu Claudia.
Ibu Claudia berjalan menuju ke arah pintu liff. Ia menekan tombol lift, pintu liff langsung terbuka. Ibu Claudia masuk ke dalam liff dan menekan tombol delapan. Pintu liff langsung tertutup dan liff pun bergerak ke lantai atas.
Sesampai di lantai delapan pintu liff pun terbuka. Tiba-tiba Ibu Claudia terkejut melihat Pak Bobby berdiri di depan pintu liff sambil tersenyum ke arahnya. Ibu Claudia menghela lalu keluar dari dalam liff.
"Selamat siang, Ibu Claudia, " ucap Pak Bobby.
"Siang, " jawab Ibu Claudia.
"Mari silahkan, Bu. " Pak Bobby mengajak Ibu Claudia ke ruangannya.
"Tidak usah Pak Bobby. Saya hanya mengantarkan makan siang yang saya janjikan untuk Pak Bobby, " kata Ibu Claudia.
Ibu Claudia memberikan rantang dan kantong plastik kepada Pak Bobby.
"Kenapa terburu-buru? Kita ngobrol dulu sambil minum teh," ujar Pak Bobby setelah menerima rantang tersebut
"Saya harus kembali lagi ke rumah. Sore ini Rendi akan berangkat ke bandara Soekarno Hatta. Dia, akan pergi ke Jepang, " kata Ibu Claudia.
__ADS_1
"Dia pergi ke Jepang dengan Rahma?" tanya Pak Bobby.
"Tidak. Dia berangkat sendiri. Rahma kan harus masuk kerja, " jawab Ibu Claudia.
"Nanti rantangnya saya antarkan ke rumah Ibu Claudia, " ujar Pak Bobby.
"Tidak usah dikembalikan! Untuk Pak Bobby saja, " kata Ibu Claudia.
"Kenapa, tidak usah dikembalikan? Bagaimana kalau nanti Ibu Claudia memerlukan rantang? " tanya Pak Bobby.
"Nanti saya beli rantang lagi, " jawab Ibu Claudia.
"Sudah, ya. Saya pamit pulang, " kata Ibu Claudia.
"Tunggu sebentar! " Pak Bobby berjalan menuju meja sekretaris lalu menaruh rantang dan plastik di atas meja sekretaris. Setelah itu ia kembali menghampiri Ibu Claudia.
"Saya antar sampai depan," ujar Pak Bobby.
"Tidak usah, Pak. Saya, bisa jalan sendiri. Lagipula Pak Bobby pasti sedang sibuk bekerja, " kata Ibu Claudia.
"Tidak apa-apa. Sekali-sekali saya mengantar Ibu Claudia, " ujar Pak Bobby.
Pak Bobby menekan tombol liff. Lalu pintu liff terbuka. Pak Bobby mempersilahkan Ibu Claudia lebih dulu masuk ke dalam liff setelah itu baru Pak Bobby masuk ke dalam liff. Pak Bobby menekan tombol lantai dasar dan pintu liff pun tertutup. Liff bergerak turun ke lantai dasar.
Di dalam liff Pak Bobby memandangi Ibu Claudia dari samping sambil tersenyum simpul.
"Terima kasih sudah mengantarkan makanan siang untuk saya," ucap Pak Bobby.
"Sama-sama Pak Bobby, " jawab Ibu Claudia.
"Sering-seringlah mampir ke kantor saya. Pintu kantor saya selalu terbuka untuk Ibu Claudia," ujar Pak Bobby.
"Saya sibuk, Pak. Saya harus masak untuk mertua saya, Rendi dan Rahma. Jadi saya tidak ada waktu untuk pergi kemana-mana, " kata Ibu Claudia.
"Kalau sudah selesai masak baru datang ke sini. Syukur-syukur kalau Ibu Claudia mau membawakan makan siang untuk saya, " ujar. Pak Bobby.
Sorry, ya. Aku tidak mau datang ke sini lagi, kata Ibu Claudia di dalam hati.
Liff pun berhenti di lantai dasar. Pintu liff terbuka. Pak Bobby mempersilahkan Ibu Claudia keluar lebih dulu. Mereka pun berjalan menuju lobby gedung.
"Ibu Claudia ke sini diantar siapa?" tanya Pak Bobby.
" Diantar Pak Lilih," jawab Ibu Claudia.
"Tunggu sebentar." Pak Bobby menghampiri meja operator lalu ia berbicara dengan operator. Setelah itu ia kembali menghampiri Ibu Claudia. Mereka berdiri di depan lobby gedung.
"Pak Lilih sedang dipanggil," ujar Pak Bobby.
Tidak lama kemudian mobil Ibu Claudia pun datang dari tempat parkir. Mobil itu berhenti di depan lobby gedung. Pak Bobby membuka pintu mobil untuk Ibu Claudia. Ibu Claudia masuk ke dalam mobil lalu Pak Bobby menutup pintu mobil. Mobil pun berjalan meninggalkan kantor Pak Bobby. Pak Bobby memperhatikan mobil Ibu Claudia sampai mobil itu meninggalkan halaman kantor.
__ADS_1