183 Hari Menjadi Kekasih

183 Hari Menjadi Kekasih
53. Mengantar Rahma Berangkat Kerja.


__ADS_3


Mengantar Rahma Berangkat Kerja



Keesokan harinya pukul empat subuh Rendi menjemput Rahma di rumahnya. Mereka hendak kembali ke Bandung karena Rahma harus masuk kerja. Ibu Claudia, Pak Sultan beserta keluarga Rendi yang lain belum pulang. Mereka pulang nanti siang setelah check out dari hotel.


“Hati-hati menyetirnya, Ren. Kalau ngantuk berhenti dulu di rest area jangan dipaksa menyetir!” pesan Ibu Arini.


‘Iya, Tante,” jawab Rendi sambil memasukkan tas-tas milik Rahma ke dalam bagasi mobil.


“Kamu juga maksa pulang subuh-subuh. Kasihan Rendi yang harus menyetir dalam keadaan masih ngantuk dan capek,” ujar Ibu Arini dengan cerewet.


“Mau bagaimana lagi, Ma? Kalau saja Pak Dirjen tidak datang berkunjung ke kantor, Rahma akan ijin sehari untuk mencari wedding organizer dan mempersiapkan untuk pernikahan. Tapi karena Pak Dirjen mau memberikan pengarahan semua pegawai harus hadir kecuali yang sedang dinas luar,” kata Rahma.


“Ya sudah, tapi hati-hati di jalan!” ujar Ibu Arini.


Rahma menghampiri Pak Ferdi yang berdiri di depan mobil Rendi.


“Pa, Rahma berangkat dulu.” Rahma mencium tangan Pak Ferdi.


“Hmm, hati-hati di jalan!” pesan Pak Ferdi.


Rendi juga menghampiri Pak Ferdi.


“Om. Saya pulang dulu.” Rendi mencium tangan Pak Ferdi.


“Hati-hati menyetirnya. Jangan ngebut!” pesan Pak Ferdi.


“Iya, Om,” jawab Rendi.


Rahma menghampiri Ibu Claudia.


“Ma, Rahma berangkat dulu.” Rahma menciium tangan Ibu Arini.


“Hati-hati. Jaga diri baik-baik!” pesan Ibu Arini.


“Iya, Ma,” jawab Rahma.


Rendi juga menghampiri Ibu Arini.


“Tante, saya pulang dulu.” Rendi mencium tangan Ibu Arini.


“Titip Rahma, ya Ren,” pesan Ibu Arini.

__ADS_1


“Iya, Tante,” jawab Rendi.


“Assalamualaikum,” ucap Rendi dan Rahma. Mereka masuk ke dalam mobil.


“Waalaikumsalam,," jawab Pak Ferdi dan Ibu Arini.


Rendi menyalakan mesin mobilnya lalu memundurkan mobil hingga keluar dari halaman rumah Pak Ferdi. Rahma melambaikan tangan kepada orang tuanya lalu Rendi menjalankan mobilnya meninggalkan Pak Ferdi.


Rendi fokus menyetir menembus kegelapan dini hari meninggalkan kota Kuningan.


“Kalau Aa ngantuk bilang, ya. Jangan diam saja!” ujar Rahma.


“Iya,” jawab Rendi.


Perjalanan menuju ke kota Bandung sangat lancar tidak ada hambatan apapun. Jalan tol Cipali masih terlihat sepi hanya ada satu dua mobil yang lewat. Rendi mengendarai mobilnya dengan ngebut. Rahma melihat ke speedometer yang berada di belakang setir. Jarum speedometer menunjukkan mobil melaju dengan kecepatan seratus dua puluh kilometer perjam.


“Jangan ngebut jalannya!” seru Rahma.


“Ini tidak ngebut, sayang. Ini kecepatan sedang, lagi pula jalannya kosong,” jawab Rendi sambil fokus menyetir.


“Kurangi kecepatannya, A! Terlalu bahaya kalau ngebut,” ujar Rahma dengan lembut.


Rendi menghela nafas mendengar perkataan Rahma. Lalu ia mengurangi kecepatan mobil. Rahma melihat speedometer dibawah seratus.


“Nah, kalau begini kan aman,” ujar Rahma. Rahma baru merasa tenang setelah Rendi mengurangi kecepatan.


“Kita sholat dulu,” ujar Rendi sambil membuka seatbelt.


“Saya tidak sholat. Saya sedang halangan,” kata Rahma.


“Kalau begitu tunggu saja di mobil. Kunci pintu mobilnya! Kalau ada apa-apa langsung tekan klakson! Kunci mobil nempel di stop kontak,” ujar Rendi.


“Iya, A,” jawab Rahma. Rendi pun meninggalkan mobil. Ia berjalan menuju ke masjid.


Setelah selesai sholat subuh Rendi kembali ke mobil. Rahma membuka kunci mobil lalu Rendi masuk ke dalam mobil.


“Kamu tidak mau ke kamar mandi?” tanya Rendi.


“Mau. Saya mau pipis,” jawab Rahma.


“Ayo aku antar.” Rahma dan Rendi turun dari mobil. Mereka berjalan menuju ke toilet umum. Rahma masuk ke dalam toilet wanita. Rendi menunggu di depan toilet. Lima menit kemudian Rahma keluar dari toilet lalu mereka kembali ke mobil.  Rendi menjalankan mobilnya meninggalkan rest area.


Pukul enam lewat dua puluh menit mereka sampai kota Bandung. Mereka langsung menuju ke rumah Rendi. Ketika Rendi menghentikan mobil di depan pintu pagar. Pak Tile langsung membuka pintu pagar begitu melihat mobil Rendi berhenti di depan pintu pagar. Rendi memasukkan mobil ke halaman rumah dan menghentikan mobilnya di depan pintu garasi.


Rendi dan Rahma turun dari mobil, Rendi membuka pintu bagasi dan mengeluarkan tas travel miliknya dan milik Rahma dari dalam bagasi mobil. Rendi dan Rahma masuk ke dalam rumah melalui pintu di sebelah pintu garasi

__ADS_1


“Assalamualaikum,” ucap Rendi dan Rahma.


“Waalaikumsalam,” jawab bi Wiwiek.


“Bi, siapkan sarapan untuk saya dan Rahma! Sebentar lagi Rahma mau berangkat ke kantor,” ujar Rendi.


“Siap, Den,” jawab bi Wiwiek.


Rendi masuk ke dalam rumah menuju ke kamar Rahma. Rahma membuka kunci pintu kamarnya. Rendi menaruh tas Rahma di depan kamar.


“Saya mandi dulu, ya A,” kata Rahma.


“Hem.” Rendi mengangguk. Rahma masuk ke dalam kamar. Lalu Rendi berjalan menuju ke kamarnya.


Setelah selesai mandi Rahma keluar dari kamarnya lalu berjalan menuju ke ruang makan. Di atas meja makan sudah tersedia makanan untuk sarapan. Rahma duduk di meja makan lalu ia makan sendiri. Tidak lama kemudian Rendi keluar dari kamar. Ia terlihat sudah mandi. Ia sudah menggunakan pakaian untuk ke kantor. Rendi duduk di sebelah Rahma.


“Aa mau sarapan dengan apa? Roti atau nasi goreng?” tanya Rahma sambil mengunyah makanan.


“Dua-duanya,” jawab Rendi.


“Hah?” Rahma kaget mendengar jawaban Rendi.


“Perutku lapar sekali,” kata Rendi.


“Mau makan apa dulu?” tanya Rahma.


“Nasi goreng,” jawab Rendi.


Rahma menuangkan nasi goreng ke atas piring lalu di taruh di atas meja Rendi.


“Terima kasih, sayang,” ucap Rendi. Kemudian Rendi memakan nasi goreng tersebut. Rahma makan sambil mengolesi roti untuk Rendi. Setelah selesai  Rahma taruh di dekat piring nasi goreng milik Rendi. Setelah itu ia baru melanjutkan makan.


Selesai makan Rendi mengantarkan Rahma ke kantor.


“Nanti kita makan siang bersama, ya,” ujar Rendi sambil menyetir mobilnya.


“Sepertinya tidak bisa, A. Sepertinya nanti Rahma makan siang di kantor karena ada pengarahan dari Dirjen,” jawab Rahma.


“Ya, Tidak apa-apa. Kita masih bisa makan malam bersama di rumah,” ujar Rendi.


Akhirnya sampailah mereka di kantor Rahma. Rendi membelokkan mobil menuju ke halaman kantor. Ia menghentikan mobil tepat di depan gedung kantor.


“Sampai ketemu nanti sore, ya. Assalamualaikum,” ucap Rahma. Rahma keluar dari mobil.


“Waalaikumsalam,” jawab Rendi. Rahma menutup pintu lalu melambaikan tangan ke Rendi. Rendi membalas lambaian tangan Rahma. Rahma berjalan menuju kantornya. Rendi menunggu sampai Rahma masuk ke dalam kantor. Setelah itu barulah ia menjalankan mobilnya menuju ke kantornya.

__ADS_1


Malam hari Rahma dan Rendi duduk di ruang keluarga. Mereka sedang mencari wedding organizer untuk pernikahan mereka. Mereka juga sedang mencari gedung untuk pernikahan mereka. Namun, tidak mudah mencari wedding organizer dan gedung karena mereka harus mencari yang ada di Kuningan. Karena pernikahan mereka akan diadakan di Kuningan.


__ADS_2