
Keesokan harinya setelah selesai sarapan pagi Rahma dan Rendi pulang ke Bandung. Mereka pulang dengan menggunakan mobil Ibu Claudia yang dikemudikan oleh Pak Sobir. Sedangkan Pak Sultan dan Ibu Claudia pulang dengan menggunakan mobil Pak Bobby.
Sebetulnya Ibu Claudia ingin Ikut bersama Rendi dan Rahma karena ia tidak ingin semobil bersama Pak Bobby. Tapi Ibu Claudia tidak ingn mengganggu kemesraan putranya dan menantunya yang baru saja menikah. Terpaksa ia naik mobil Pak Bobby.
Pukul tiga sore mereka sampai di rumah Rendi. Mereka di sambut oleh para pembantu dan penjaga rumah itu. Mereka memberikan selamat kepada Rahma dan Rendi.
“Selamat ya, Non Den. Semoga sakinah mawadah warohmah,” ucap bi Wiwiek.
“Terima kasih, Bi,” jawab Rendi dan Rahma.
Rendi mengajak Rahma menuju ke kamarnya. Mulai sekarang Rahma tidak tidur di kamarnya lagi tapi tidur di kamar Rendi. Rahma masuk ke kamar Rendi sambil memperhatikan sekeliling kamar Rendi. Ini pertama kalinya ia masuk ke dalam kamar Rendi. Kamar Rendi terlihat rapih tidak berantakan seperti kamar laki-laki kebanyakan. Kamar Rendi ada televisi dilengkapi audio sound system. Lengkap juga dengan video home system, laser disc, vcd dan dvd. Rahma terkagum-kagum melihat isi kamar suaminya. Di kamar itu juga ada meja kerja yang lengkap dengan PC , laptop dan printer.
Rendi masuk ke dalam kamar sambil membawa koper miliknya dan koper Rahma.
“Kenapa?” tanya Rendi sambil menaruh koper ke pojok kamar.
“Kamar Aa rapih,” jawab Rahma.
Rendi duduk di atas tempat tidur lalu menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya.
“Duduk sini,” ujar Rendi. Rahma duduk di sebelah Rendi.
“Kita tinggal di sini saja. Bukan karena aku tidak ingin membelikanmu rumah, tapi keadaanlah yang membuat kita harus tinggal di sini. Kamu tahu kan kalau mama seorang janda ditambah kakek yang sudah sangat tua jafi tidak mungkin kalau aku meninggalkan mereka begitu saja. Aku adalah satu-satunya orang yang harus menjaga mereka,” ujar Rendi.
“Iya, A. Rahma mengerti,” jawab Rahma.
“Atau kalau kamu menginginkan rumah sendiri akan aku belikan,” ujar Rendi.
“Untuk apa?” tanya Rahma bingung.
“Ya terserah kamu mau diapakan. Mau kamu kosongkan begitu saja atau mau kamu kontrakkan terserah kamu,” jawab Rendi.
“Tidak usah. Nanti rusak kalau dibiarkan kosong,” jawab Rahma.
“Kan bisa dikontrakkan,” ujar Rendi.
“Takut rusak juga. Kalau penyewa rumah tidak menjaga baik-baik nanti jadi rusak,” kata Rahma.
“Atau mau aku belikan tanah?” tanya Rendi.
“Tidak usah, A. Rahma tidak perlu itu semua,” jawab Rahma.
“Atau mau Aa belikan ruko? Buat investasi? Nanti Rukonya bisa kamu kontrakkan,” ujar Rendi.
__ADS_1
“Nanti saja, A. Rahma pikir-pikir dulu,” kata Rahma.
Rendi mendekati Rahma lalu mengecup bibir Rahma.
“Bisanya berapa lama kamu h*id?” tanya Rendi.
“Hemm.” Rahma berpikir sejenak.
“Tidak tentu. Bisa cuma lima hari, bisa sampai seminggu. Tidak tentu,” jawab Rahma.
“Kenapa?” tanya Rahma.
“Aku mau,” jawab Rendi dengan wajah memelas.
Rahma memeluk suaminya lalu mengecup pipi suaminya.
“Sabar, ya A. Mudah-mudahan cepat bersih,” kata Rahma.
Rendi menjawab dengan mengangguk.
Hari terus berlalu Rahma menjalankan perannya sebagai istri Rendi. Ia menikmati perannya menjadi istri, menantu dan cucu menantu. Tapi ia tidak bisa fokus pada suami, mertua dan kakek mertua karena ia harus bekerja di kantor.
Jika Rahma dinas luar Rendi menemaninya. Tapi sekarang masalahnya ia terlalu sering pergi keluar kota. Seminggu bisa dua kali ia pergi keluar kota. Bahkan saat akhir pekan dia harus keluar kota. Namun, tidak masalah buat Rendi selama ia dijinkan menemani Rahma. Belum lagi Rahma sering membawa pulang pekerjaan kantor. Sehingga malam hari Rahma harus mengerjakan pekerjaan kantor Dan suaminya terabaikan.
Hari terus berlalu tidak terasa sudah sebulan Rahma menikah dengan Rendi. Rahma dan Rendi sujud syukur setelah selesai sholat subuh. Selama sebulan mereka menjadi suami istri hidup mereka terasa indah saja. Mereka lalui dengan penuh kata cinta dan rasa sayang satu dengan yang lain. Tidak pernah sedikitpun mereka cekcok satu dengan lain.
Rahma melipat mukenah dan sajadah setelah selesai sholat. Ia memutuskan untuk mencuci mukenahnya karena sudah sebulan ia pakai dan belum dicuci. Mukenah itu ia pakai setelah beberapa hari mereka menikah. Berpikir tentang mukenah Rahma jadi teringat akan sesuatu.
Cepat-cepat Rahma menuju ke sofa dan mengambil tas yang ditaruh di atas sofa. Rahma membuka tasnya lalu ia mencari sesuatu dari dalam tas. Rendi menghampiri Rahma lalu duduk di samping Rahma.
“Kamu cari apa?” tanya Rendi.
“Cari agenda.” Rahma mengeluarkan agenda dari dalam tas. Lalu ia membuka agenda. Ia mencari catatan di agenda tersebut. Sampai akhirnya ketemu apa yang ia cari. Ia membaca tulisan di agenda tersebut. Ia langsung kaget ketika melihat tulisan di agenda tersebut.
“Sekarang tanggal berapa?” tanya Rahma. Saking paniknya ia sampaI tidak ingat sekarang tanggal berapa.
“Tanggal dua puluh tiga,” jawab Rendi.
Rahma bertambah panik mendengar jawaban Rendi.
“Kamu kenapa?” tanya Rendi. Wajah Rahma terlihat panik.
Tenang-tenang mungkin hanya kecapean, kata Rahma di dalam hati.
__ADS_1
Rendi menjadi penasaran. Ia melihat ke agenda Rahma.
“Kamu cari catatan apa?” Rendi berusaha membaca catatan Rahma.
“Catatan jadwal h*aid,” jawab Rahma.
“Kenapa dengan jadwal h*id kamu?” tanya Rendi.
“Bukan ini Rahma belum h*id,” jawab Rahma.
“Terus kenapa kalau belum h*id?” tanya Rendi.
“Tidak kenapa-kenapa. Mungkin Rahma kecapean,” jawab Rahma.
Rendi memandang wajah Rahma.
“Apa maksud kamu , kamu hamil?” tanya Rendi.
“Belum tentu, A. Bisa saja Rahma kecapean. Buktinya Rahma baik-baik saja tidak mual dan muntah seperti ibu-ibu yang sedang hamil,” jawab Rahma.
“Kalau begitu kamu istirahat saja di rumah,” ujar Rendi.
“Mana bisa? Nanti tunkin Rahma dikurangi,” kata Rahma.
“Dipotong berapa tunkin kamu kalau kamu tidak masuk kerja?” tanya Rendi.
“Nanti Aa gantikan sepuluh kali lipat. Asal kamu bisa istirahat di rumah,” ujar Rendi.
“Bukan soal tunkin saja. Tapi Rahma sudah kebanyakan ijin,” kata Rahma.
Rendi menghela nafas mendengar perkataan Rahma.
“Terserah kamu, deh. Tapi ingat pesan aku, jaga kesehatanmu!” ujar Rendi.
“Iya, A,” jawab Rahma.
Namun, ketika di kantor Rahma jadi kepikiran. Ketika sedang di kantor diam-diam ia pergi ke apotik yang dekat dengan kantornya untuk membeli testpack. Setelah membeli testpack.ia membaca aturan pakai.
“Berarti besok subuh baru bisa ditest,” kata Rahma kepada diri sendiri.
Rahma keluar dari apotek dan kembali ke kantornya.
__ADS_1