
Setelah selesai bermain golf Rendi mengajak Rahma ke rumahnya. Ibu Claudia berpesan agar Rendi mengajak Rahma makan siang di rumah mereka. Rahma menerima ajakan Rendi. Tapi, ada tapinya.
“Antarkan saya pulang dulu! Saya mau mandi, bau keringat. Tidak enak sama kakek dan tante kalau saya datang dalam keadaan bau keringat,” kata Rahma.
“Iya. Saya antar ke tempat kost,” ujar Rendi.
Rendi mengarahkan mobilnya ke tempat kost Rahma. Sesampai di tempat kost Rahma langsung menuju ke kamarnya untuk mandi. Rendi menunggu Rahma di ruang tamu. Dua puluh menit kemudian Rahma keluar dari kamarnya dan menghampiri Rendi. Rahma nampak lebih segar.
“Ayo kita berangkat sekarang!” Rahma keluar dari tempt kost. Rendi beranjak dari kursi lalu menyusul Rahma.
Sesampai di rumah Pak Sultan. Ibu Claudia menyambut Rahma dengan gembira.
“Apa kabar? Sudah lama tidak pernah datang ke rumah,” ujar Ibu Claudia sambil cipika-cipiki dengan Rahma.
“Alhamdullilah. Baik, Tante,” jawab Rahma.
“Kamu sibuk, ya? Keluar kota terus,” tanya Ibu Claudia.
“Iya, Tante,” jawab Rahma.
Pak Sultan keluar dari ruang kerjanya dan menghampiri mereka. Rahma menyalami Pak Sultan.
“Apa kabar, Rahma?” tanya Pak Sultan.
“Baik, Kek,” jawab Rahma.
“Ayo duduk dulu!” Ibu Claudia mengajak Rahma duduk di sofa. Rendi tidak bergabung dengan mereka. Ia pergi menuju ke kamarnya untuk mandi.
“Masih sering ke luar kota?” tanya Pak Sultan.
‘Masih, Kek. Minggu depan Rahma mau ke Sragen,” jawab Rahma.
“Ke Sragen? Asyik, dong. Tante jadi pengen ikut. Tante belum pernah Ke Sragen,” ujar Ibu Claudia.
“Ayo ikut saja, Tante. Hitung-hitung refreshing,” kata Rahma.
“Nanti Tante merepotkan kamu. Kamu kan mau kerja bukan mau jalan-jalan,” ujar Ibu Claudia.
“Kan, ada Pak Rendi yang akan menemani Tante jalan-jalan,” kata Rahma.
“Ah, pasti sulit minta diantar sama Rendi. Rendi selalu mengikuti kemanapun kamu pergi,” ujar Ibu Claudia.
Tiba-tiba Ibu Claudia teringat akan sesuatu.
“Tante sampai lupa menawari kamu minum,” ujar Ibu Claudia.
“Kamu mau minum apa?” tanya Ibu Claudia.
“Air putih dingin saja,” jawab Rahma.
“Kok air putih? Tante buatkan sirup, ya.” Ibu Claudia beranjak menuju ke dapur.
Beberapa menit kemudian ia membawa segelas sirup dan toples berisi snack untuk Rahma.
“Diminum dulu sirupnya.” Ibu Claudia menaruh gelas dan toples di meja.
__ADS_1
“Terima kasih. Tante.” Rahma meminum sirup tersebut hingga setengah gelas. Lalu ia menaruh kembali gelas di atas meja.
“Bagaimana dengan bermain golfnya? Menyenangkan, tidak?” tanya Ibu Claudia.
“Menyenangkan, Tante. Tapi sayang ada yang mengganggu pemandangan,” jawab Rahma dengan kesal.
“Maksudnya bagaimana?” tanya Ibu Claudia.
“Ada yang main golf tapi tangannya sambil gerayangan di badan caddy,” jawab Rahma sambil merinding.
‘Masa, sih?” tanya Ibu Claudia tidak percaya.
“Kata Pak Rendi dan caddy, Pak Bobby memang suka begitu. Jadi mereka sudah biasa,” kata Rahma.
“Memang suka ada yang main golf sambil bersenang-senang dengan caddynya. Tapi hanya beberapa orang. Tidak semuanya seperti itu,” ujar Pak Sultan.
Rendi keluar dari kamarnya. Ia sudah selesai mandi. Ia duduk di seberang kakek. Ia mengambil snack dari dalam toples lalu memakan kue itu.
“Rendi. Kata Rahma, ia mau ke Sragen. Mama jadi mau ikut sama Rahma,” ujar Ibu Claudia.
Rendi menoleh ke Rahma.
“Kapan kamu ke Sragen?” tanya Rendi sambil mengunyah kue.
“Senin depan. Sama Pak Barli. Kata Pak Barli, dia mau bawa istrinya,” jawab Rahma.
“Memang boleh bawa istri?’ tanya Ibu Claudia.
“Boleh, Tante. Masing-masing pegawai dapat jatah hotel satu kamar, jadi bisa bawa istri,” jawab Rahma.
“Tante mau ikut,” ujar Ibu Claudia.
“Mama belum pernah ke Sragen. Mama mau lihat kota Sragen,” jawab Ibu Claudia.
Rendi menghela napas.
“Ma. Rendi mau menemani Rahma bekerja bukan untuk jalan-jalan,” kata Rendi yang mencoba memberi pengertian kepada Ibu Claudia.
“Mama juga mau ikut Rahma bekerja,” ujar Ibu Claudia.
“Nanti Mama kesal lalu kecapean gara-gara ikut mengantar Rahma kemana-mana,” kata Rendi.
“Saya tidak usah diantar-antar. Saya bisa pergi sama Pak Barli. Pak Rendi menemani Tante Claudia jalan-jalan,” kata Rahma.
“Tidak usah! Tante juga mau lihat kamu bekerja. Tante penasaran cara kerja kamu seperti apa,” ujar Ibu Claudia.
“Benar, ya. Kalau cape jangan mengeluh!” kata Rendi.
“Iya. Mama tidak akan mengeluh,” jawab Ibu Claudia.
Ibu Claudia menoleh ke Pak Sultan.
“Ayah, bolehkan saya ikut dengan Rahma dan Rendi?” tanya Ibu Claudia.
“Boleh. Tapi jangan lupa oleh-oleh untuk Ayah!” jawab Pak Sultan.
__ADS_1
“Baik, Ayah,” ujar Ibu Claudia.
Rendi sudah tidak tahan perutnya sudah lapar sekali.
“Ma. Makanannya sudah siap, belum? Rendi sudah lapar,” kata Rendi sambil mengusap perutnya.
“Sudah. Ayo kita.” Ibu Claudia beranjak dari sofa menuju ke meja makan.
Pak Sultan, Rendi dan Rahma menyusul Ibu Claudia ke ruang makan. Mereka berempat duduk di meja makan lalu makan bersama.
***
Senin pagi Rendi menjemput Rahma ke tempat kost. Hari ini Rendi akan mengantar Rahma ke Sragen. Rahma sudah menunggu Rendi di ruang tamu.
“Kita berangkat sekarang?” tanya Rendi.
“Iya,” jawab Rahma.
Rendi membawa tas travel milik Rahma. Sedangkan Rahma membawa totebag. Mereka berjalan menuju ke mobil Rendi. Ibu Claudia sudah menunggu mereka di mobil. Rendi memasukkan tas Rahma ke bagasi. Rahma langsung masuk ke dalam mobil.
“Hallo Tante,” sapa Rahma. Ia cipika cipiki dengan Ibu Claudia.
Rendi masuk ke dalam mobil. Ia duduk di samping supir.
“Ke kantor Rahma dulu, Pak!” kata Rendi kepada Pak Sobir.
“Baik, Pak,” jawab Pak Sobir.
Mobilpun bergerak menuju ke kantor Rahma.
“Kamu sudah makan, belum?” tanya Ibu Claudia.
“Sudah, Tante. Tadi makan roti,” jawab Rahma.
“Tante bawakan kamu sarapan.” Ibu Claudia membuka tote bag lalu mengeluarkan kotak makanan dari dalam tas. Ia berikan kotak makanan itu kepada Rahma.
“Terima kasih, Tante. Sekarang Rahma masih kenyang,” ucap Rahma. Rahma menyimpan kotak makanan itu di sebelahnya.
Mereka sampai di kantor Rahma. Rahma turun dari mobil lalu menghampiri mobil Pak Barli. Pak Barli turun dari mobil.
“Pak, saya diantar oleh Pak Rendi dan mamanya,” kata Rahma.
“Iya. Tidak apa-apa,” jawab Pak Barli.
“Maaf, Pak Barli. Saya susah menolak mereka untuk ikut,” kata Rahma.
“Iya, tidak apa-apa. Itu tandanya mereka perhatian sama kamu,” ujar Pak Barli.
“Ayo, kita berangkat sekarang. Nanti keburu siang,” lanjut Pak Barli.
“Baik, Pak.” Rahma kembali ke mobil Rendi.
Mobil mereka pun meninggalkan halaman kantor.
.
__ADS_1
.