
Pukul enam pagi Ibu Claudia masuk ke dalam kamar Rahma.
“Bagaimana dengan keadaanmu? Masih pusing?” tanya Ibu Claudia sambil duduk di pinggir tempat tidur.
“Sudah agak mendingan. Tapi kalau jalan masih terasa pusing,” jawab Rahma.
“Kalau begitu sarapan di kamar saja,” ujar Ibu Claudia.
“Di meja makan saja, Tante,” kata Rahma. Ia tidak ingin merepotkan Ibu Claudia.
“Tidak apa-apa. Biar hilang dulu pengaruh obat biusnya,” ujar Ibu Claudia.
Tiba-tiba pintu kamar ada yang mengetuk. Rahma dan Ibu Claudia menoleh ke arah pintu kamar.
“Sebentar Tante bukakan pintu dulu.” Ibu Claudia beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu kamar. Pak Sultan berdiri di depan pintu kamar.
“Kakek!” panggil Rahma ketika melihat Pak Sultan.
“Boleh Kakek masuk?” tanya Pak Sultan.
“Tentu saja boleh,” jawab Rahma.
Pak Sultan masuk ke dalam kamar Rahma. Ia berdiri di sebelah tempat tidur Rahma.
“Tante ambilkan makanan untukmu.” Ibu Claudia keluar dari kamar. Pak Sultan mendorong kursi meja rias ke sebelah tempat tidur. Beliau duduk di kursi tersebut.
“Bagaimana dengan keadaanmu?” tanya Pak Sultan.
“Sudah agak mendingan, Kek. Hanya saja kalau berdiri Rahma masih pusing,” jawab Rahma.
“Ya sudah kamu istirahat saja di rumah. Jangan ke kantor dulu. Temani Kakek main catur,” ujar Pak Sultan.
“Memang tidak ada yang bisa diajak main catur?” tanya Rahma.
“Tidak ada. Kalaupun ada kalah semuanya. Cuma Rendi lawan yang sebanding. Tapi dia sibuk kerja,” jawab Pak Sultan.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar.
“Masuk!” seru Pak Sultan. Rendi masuk ke dalam kamar sambil menelepon seseorang. Rendi menjauhkan ponsel dari telinga.
__ADS_1
“Apa ukuran pakaianmu?” tanya Rendi.
“Untuk apa?” tanya Rahma.
“Saya menyuruh sekretaris saya membelikan baju untukmu,” ujar Rendi.
“Tidak usah, Pak. Nanti saya pulang ke tempat kost kalau saya sudah tidak pusing,” kata Rahma.
Mendengar perkataan Rahma, Rendi menghela napas.
“Fit, nanti saya telepon lagi.” Rendi mengakhiri pembicaraannya lalu beralih ke Rahma.
“Untuk sementara ini kamu belum bisa pulang ke tempat kost.” Rendi mengatakan semuanya kepada Rahma. Rahma kaget mendengar perkataan Rendi. Semalam yang ia ingat hanyalah dia pulang dari kantor dengan berjalan kaki. Ia tidak ingin merepotkan Rendi. Ketika melewati tempat yang minim penerangan ada yang membekapnya dengan sapu tangan setelah itu dia tidak ingat apa-apa.
Ibu Claudia masuk ke dalam kamar, di belakangnya ada dua orang pembantu yang membawa nampan berisi makanan. Ibu Claudia menyuruh para pembantu menyimpan makanan di atas meja sofa. Setelah kedua pembantu itu menaruh makanan di atas meja makan mereka keluar dari kamar Rahma.
“Sarapan dulu. Kamu pasti sudah lapar,” ujar Ibu Claudia.
“Terima kasih, Tante. Rahma jadi merepotkan Tante,” ucap Rahma.
“Tante senang ada kamu di sini. Seolah Tante punya anak perempuan,” ujar Ibu Claudia.
“Jadi Pak Bobby yang membeli Rahma?” tanya Rahma.
“Iya,” jawab Rendi.
Rahma menghela napas. Ia bersyukur Pak Bobby tidak menyentuhnya. Padahal ia tahu seperti apa kelakuan Pak Bobby di lapangan golf. Ibu Claudia memandang ke wajah Rahma dan bertanya.
“Kamu kenal Pak Bobby?”
“Tidak begitu kenal. Hanya saja Rahma sering bertemu di lapangan golf. Itu loh orang yang waktu itu Rahma ceritakan ke Tante,” jawab Rahma.
“Oh, yang sering main golf sambil pl*s-pl*s?” tanya Ibu Claudia.
“Iya, Tante,” jawab Rahma.
“Pantasan saja. Dia senyum genit gitu ke Tante,” ujar Ibu Claudia.
“Dia memang begitu ke semua perempuan,” sahut Rendi.
__ADS_1
“Sudah, sekarang kamu sarapan dulu!” Ibu Claudia mengambilkan piring berisi bubur dari atas meja sofa.
“Kamu kan habis dibius. Jadi makan yang lembut-lembut dulu, ya.” Ibu Claudia memberikan piring kepada Rahma. Rahma mengambil piring tersebut. Rahma memandangi bubur tersebut. Sepiring bubur yang diberi taburan ayam yang dicincang halus, teri medan, dadar telur yang dipotong kecil-kecil, bawang goreng dan seledri. Bubur itu terlihat enak. Membuat perut Rahma jadi keroncongan ingin cepat-cepat memakannya.
Pak Sultan memandangi bubur Rahma. Ia juga ingin menyicipinya.
“Ayah juga mau bubur,” kata Pak Sultan kepada Ibu Claudia.
“Untuk Ayah sudah Claudia siapkan di meja makan,” ujar Ibu Claudia.
“Kakek sarapan dulu.” Pak Sultan pamit kepada Rahma.
“Iya, Kek,” jawab Rahma.
Pak Sultan beranjak dari tempat duduk lalu keluar dari kamar Rahma. Tinggal Ibu Claudia dan Rendi yang menemani Rahma.
“Kamu tidak sarapan?” tanya Ibu Claudia kepada Rendi.
“Nanti dulu, Mah. Rendi mau menyuruh Fitri membelikan baju untuk Rahma,” jawab Rendi.
“Kalau begitu Mama temani kakek sarapan,” Ibu Claudia beranjak dari kamar Rahma menuju ke ruang makan. Tinggal Rendi yang menemani Rahma.
Rendi duduk di kursi meja rias. Lalu ia membuka layar ponselnya.
“Jadi ukuran pakaian kamu apa?” Rendi meminta ukuran yang biasa digunakan Rahma mulai dari kerudung sampai ukuran sandal dan sepatu. Rendi mencatatanya di pesan wa lalu dikirim ke Fitri sekretarisnya.
“Jangan beli banyak-banyak, Pak! Beberapa hari lagi saya pulang ke tempat kost. Saya harus masuk kantor karena ada pemeriksaan BPK,” kata Rahma.
“Kamu belum bisa pulang ke tempat kost sebelum mereka ditangkap!” ujar Rendi.
“Berarti saya harus lama menginap di sini?” tanya Rahma.
“Iya. Kamu tetap di sini sampai mereka tertangkap,” jawab Rendi.
Rendi melihat ke jam yang menempel di dinding kamar. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh.
“Saya sarapan dulu. Sebentar lagi kita ke rumah sakit lalu ke kantor polisi untuk melengkapi berkas pelaporan,” ujar Rendi.
Rahma mengangguk lalu Rendi beranjak keluar dari kamar Rahma. Rahma memakan buburnya sambil berpikir apa yang akan ia lakukan setelah kejadian ini.
__ADS_1