
Hari ini adalah hari minggu. Seperti biasa setelah selesai sholat subuh Rahma keluar dari kamarnya untuk membantu di dapur. Ia berjalan menuju ke dapur. Di dapur ada bi Wiwiek dan salah satu pembantu lainnya yang sedang memasak. Rahma menghampiri bi Wiwiek.
“Lagi masak apa, Bi?” tanya Rahma.
“Ini Non, Bapak minta dibuatkan nasi kuning,” jawab bi Wiwiek.
“Bapak mau makan lebih pagi karena pagi-pagi Bapak mau main golf. Jadi Bibi masaknya harus cepat-cepat karena sebentar lagi bapak bangun,” lanjut Bi Wiwiek.
“Saya bantu, Bi. Biar cepat matang,” kata Rahma.
“Non bantu goreng kerupuk dan buat dadar telor. Bibi mau masak orek tempe dan sambel,” ujar bi Wiwiek.
“Siap, Bi,” kata Rahma.
Rahma mengambil mangkok besar untuk membuat dadar telur. Kemudian ia memecahkan telor satu persatu isinya dimasukkan ke dalam mangkok. Ia memberi bumbu pada telur dan mengocok telur hingga menyatu. Setelah itu ia memanas teflon untuk membuat dada telur.
Ibu Claudia masuk ke dalam dapur dan mendekati Rahma.
“Sedang apa, Ma?” tanya Ibu Claudia.
“Bikin telur dada untuk nasi kuning,” jawab Rahma sambil memasukkan adonan telur ke atas teflon.
“Bi, sudah menggoreng kerupuk?” tanya Ibu Claudia kepada bi Wiwiek.
“Belum, Bu,” jawab Bi Wiwiek.
“Biar saya yang menggoreng kerupuk,” ujar Ibu Claudia,
Ibu Claudia menaruh wajan di atas kompor lalu menyalakan kompor. Kemudian ia menuangkan minyak goreng secukupnya ke atas wajan. Setelah minyak panas Ibu Claudia memasukkan kerupuk dan mulai menggoreng kerupuk. Kompor di dapur Ibu Claudia ada dua, masing-masing kompor memiliki empat tungku sehingga memudahkan mereka untuk memasak tanpa harus menunggu selesai masak.
Ketika mereka sedang asyik memasak Pak Sultan dan Rendi masuk ke dalam dapur melihat mereka sedang sibuk memasak.
“Bi, nasi kuningnya sudah matang?” tanya Pak Sultan.
Bi Wiwiek menoleh ke Pak Sultan.
“Belum, Pak. Nasinya juga matang. Lauk pauknya juga belum matang,” jawab bi Wiwiek.
Rendi melihat Rahma yang sedang fokus memasak.
“Rahma, kamu lagi masak apa?” tanya Rendi.
Rahma menoleh ke Randi.
“Lagi masak dadar telur,” jawab Rahma.
__ADS_1
“Aa mau dibuatkan minum apa?” tanya Rahma.
“Tidak usah, nanti saja. Aku mau makan saja, perutku sudah lapar,” jawab Rendi.
“Sabar, A. Nasinya belum matang,” kata Rahma.
Rahma kembali fokus ke dadar telur. Rendi dan Pak Sultan keluar dari dapur. Tanpa Rahma sadari Ibu Claudia dan bi Wiwiek menoleh ke arah Rahma. Mereka memandangi Rahma dengan penuh tanda tanya. Sekarang panggilan Rahma kepada Rendi sangat berbeda dari biasanya.
“Sejak kapan kamu panggil Rendi dengan sebutan aa?” tanya Ibu Claudia.
Rahma menoleh ke Ibu Claudia.
“Sejak tadi malam, Tante. Aa Rendi tidak mau dipanggil pak, katanya seperti teman di kantor saja,” jawab Rahma.
“Rendi benar. Kalau manggil aa terasa lebih kekeluargaan, tidak terlalu kaku,” ujar Ibu Claudia.
Akhirnya nasi kuning sudah matang. Lauk pauk untuk teman nasi kuning juga sudah matang. Rahma dan Ibu Claudia menyajikan makanan di atas meja makan. Rendi dan Pak sultan menghampiri meja makan.
“Sudah matang?” tanya Pak Sultan.
“Sudah,” jawab Ibu Claudia.
Mereka semua duduk di meja makan untuk sarapan. Ibu Claudia mengambilkan nasi untuk Pak Sultan.
“Kakek mau cepat-cepat makan karena mau main golf dengan Pak Bobby,” ujar Pak Sultan.
Rendi menoleh ke Rahma.
“Boleh,” jawab Rahma.
Rahma menoleh ke Ibu Claudia.
“Tante. Ikut main golf, yuk. Daripada di rumah tidak ada teman,” kata Rahma.
“Tidak, ah. Tante tidak bisa main golf. Kalian saja yang pergi main golf,” jawab Ibu Claudia.
“Nanti Rahma ajari, deh. Atau nanti Aa Rendi sewa caddy untuk mengajari Tante main golf,” kata Rahma.
“Tidak ah. Lagipula ada Pak Bobby, Tante malas kalau ada dia,” ujar Ibu Claudia.
“Nanti Rahma jagain, deh. Supaya Pak Bobby tidak mengganggu Tante,” kata Rahma.
“Mama, ikut saja! Nanti Rendi sewa caddy untuk menjadi asisten Mama. Lagipula lapangan golf luas, Mama dan Rahma bisa bermain di tempat yang jauh dari Pak Bobby,” ujar Rendi.
“Sudah kamu ikut saja daripada di rumah ngurusin pohon terus menerus. Mendingan ikut Ayah main golf bisa sambil refreshing,” ujar Pak Sultan.
__ADS_1
Ibu Claudia menghela napas. Kalau mertuanya sudah menyuruh ia tidak bisa menolak.
“Baiklah Ayah,” kata Ibu Claudia.
“Asyik, Tante ikut main golf,” kata Rahma dengan gembira.
“Jangan lupa bawakan minuman dan camilan untuk Ayah!” ujar Pak Sultan.
“Baik, Ayah,” jawab Ibu Claudia.
“Sekalian juga untuk Pak Bobby,” lanjut Pak Sultan.
Ibu Claudia langsung menghela napas mendengar perkataan Pak Sultan. Tapi seperti biasa ia tidak pernah menolak permintaan Pak Sultan.
“Baik Ayah,” jawab Ibu Claudia.
“Ayo. Sekarang waktunya kita makan! Nanti kesiangan main golf” ujar Pak Sultan.
Pak Sultan langsung menyuap nasi kuning ke mulutnya.
“Mama Kakek. Ada yang ingin Rendi sampaikan kepada Mama dan Kakek,” kata Rendi.
Pak Sultan mendengarkan sambil mengunyah nasi kuning.
“Soal apa?” tanya Ibu Claudia.
Rendi menoleh ke Rahma. Mereka saling berpandangan satu sama lain lalu Rendi tersenyum kepada Rahma dan menganggukkan kepala. Pandangan Rendi kembali ke depan.
“Rendi sudah memutuskan akan menikah dengan Rahma,” kata Rendi.
Ibu Claudia kaget sekaligus senang ketika mendengar perkataan Rendi.
“Alhamdullilah,” ucap Ibu Claudia.
“Kapan kalian akan menikah?” tanya Pak Sultan.
“Secepatnya, Kek. Rendi harus minta restu dari orang tua Rahma,” jawab Rendi.
“Itu harus! Itu yang paling utama,” ujar Pak Sultan.
“Ayo, kita rayakan berita gembira ini dengan makan nasi kuning,” lanjut Pak Sultan.
Pak Sultan melanjutkan sarapan. Ibu Claudia, Rendi dan Rahma juga ikut sarapan. Ibu Claudia makan sambil memperhatikan Rendi dan Rahma. Ada rona bahagia di wajah mereka. Sekarang Ibu Claudia bisa bernapas lega karena putranya sudah menemukan tambatan hati.
Kang, akhirnya anak kita akan menikah, kata Ibu Claudia di dalam hati.
__ADS_1
Tidak terasa air mata Ibu Claudia mengalir di pipinya. Air mata bahagia.