183 Hari Menjadi Kekasih

183 Hari Menjadi Kekasih
54. Hari Istimewa.


__ADS_3

Komala memberikan rekomendasi wedding organizer dan gedung yang biasa disewa oleh penjabat dan pengusaha di Kuningan.


“Apa kita pakai WO dan gedung yang biasa dipakai pengusaha dan penjabat saja, ya?” tanya Rahma.


“Biar tidak usah cape mencari lagi,” lanjut Rahma.


“Tapi kita harus tau kredibilitas kerjanya? Apakah amanah atau tidak? Jangan mentang-mentang rekomendasi pengusaha dan penjabat tapi kerjanya tidak amanah,” ujar Rendi.


“Jadinya yang mana, dong?” tanya Rahma.


“Kita cuma punya sedikit waktu untuk mencari WO,” lanjut Rahma.


“Begini saja sabtu depan kita buat janji dengan mereka. Tapi kita juga harus punya cadangan WO yang lain kalau mereka kurang meyakinkan,” ujar Rendi.


“Oke,” jawab Rahma. Rahma meulai membuat dokumen daftar WO, gedung dan catering yang akan mereka kunjungi hari sabtu depan.


Selain itu pula mereka mencari searching di internet mencari souvenir untuk ucapan tanda terima kasih kepada para tamu. Rahma menandai beberapa barang yang bisa untuk dijadikan souvenir. Namun, ia belum mengambil keputusan mana yang akan dijadikan souvenir. Besok akan ia diskusikan dengan Rendi. Sekarang hari sudah malam ia sudah cape sekali. Ibu Claudia dan Pak Sultan sudah tidur di kamar masing-masing karena kecapean pulang dari Kuningan. Rendi juga ketiduran di sofa menemani Rahma mempersiapkan pernikahan mereka.


Rahma mematikan laptop dan membereskan meja. Lalu ia membangunkan Rendi.


“Aa, bangun!” Rahma menepuk-nepuk lengan Rahma. Merasa ada yang menepuk-nepuk lengannya Rendi membuka matanya.


“Pindah ke kamar! Saya sudah mau tidur,” kata Rahma.


Rendi bangun dari sofa.

__ADS_1


“Aa tidur duluan. Selamat malam.” Rendi melangkah dengan gontai menuju ke kamarnya. Rahma membawa laptop menuju ke kamar.


Hari terus berlalu. Tak terasa sekarang sudah hari sabtu. Setelah selesai sholat subuh Rendi dan Rahma pergi ke Kuningan untuk mengurus persiapan mereka. Seperti biasa sesampainya mereka di Kuningan mereka langsung menuju ke rumah orang tua Rahma. Di sana mereka numpang sarapan sambil menunggu waktu bertemu dengan WO.


Pukul setengah sepuluh mereka pergi menuju kantor salah satu wedding organizer yang direkomendasikan oleh Komala. Sesampai di sana mereka disambut oleh pemilik WO. Mereka mempresentasikan kerja mereka kepada Rahma dan Rendi. Rendi dan Rahma bertanya banyak kepada pemilik WO. Ternyata Rendi dan Rahma cocok dengan Wo tersebut sehingga mereka memutuskan untuk menyewa WO tersebut.


Pemilik WO merekomendasikan ballroom kepada Rendi dan Rahma. Ia memberikan alamat ballroom kepada mereka. Rendi dan Rahma memutuskan melihat ballroom tersebut. Ketika mereka datang melihat ballroom tersebut ternyata ballroom sedang digunakan untuk acara pernikahan. Rendi dan Rahma memutuskan untuk mendatangi kantor pengelola ballroom tersebut.


Setelah menemui pihak pengelola, mereka diantar oleh satu karyawan untuk melihat dalam ballroom tersebut dan keadaan ballroom tersebut. Ternyata ballroom itu cukup luas muat untuk tiga ribu undangan. Rendi dan Rahma memutuskan untuk menyewa ballroom tersebut. Kebetulan pada tanggal rencana pernikahan Rendi dan Rahma ballroom itu belum ada yang menyewa, sehingga Rendi cepat-cepat membayar sewa gedung tersebut.


Hari terus berlalu setiap akhir pekan Rendi dan Rahma pergi ke Kuningan untuk mempersiapkan pernikahan mereka. Hingga tidak terasa hari pernikahan Rahma dan Rendi sudah dekat. Sudah waktunya Rahma untuk cuti dan pulang ke Kuningan.


“Aku antar ke Kuningan, ya,” ujar Rendi ketika mereka sedang berbincang-bincang di ruang keluarga.


“Tidak usah. Rahma diantar sama Pak Sobir saja,” kata Rahma.


“Nanti Aa kecapean,” jawab Rahma.


“Oke deh. Tapi nanti kita video call saja kalau sudah sampai,” ujar Rendi.


“Tidak boleh, A. Kata Mama, tidak boleh video call kalau sudah dekat hari H! Saya sedang dipingit,” kata Rahma.


Rahma teringat sewaktu Komala hendak menikah dengan Aditya, Aditya mengajak Komala video call. Ketika mereka sedang asyik video call tanoa sengaja Ibu Arini masuk ke kamar Komala. Ibu Arini melihat Komala sedang video call, Ibu Arini langsung menyuruh Komala mengakhiri video call. Ibu Arini mengatakan beberapa hari sebelum menikah calon pengantin harus dipingit. Sehingga mereka tidak boleh bertemu satu sama lain, bahkan dilarang  video call. Mereka hanya boleh menelepon


“Kalau kangen bagaimana?” tanya Rendi.

__ADS_1


“Telepon aja. Tapi tidak boleh video call!” jawab Rahma.


“Ya sudah, nelepon saja. Mumpung nelepon tidak dilarang,” ujar Rendi pasrah.


Akhirnya Rendi nurut pada Rahma. Keesokan harinya Rahma pulang ke Kuningan diantar oleh Pak Sobir.


Sehari tidak melihatmu rasanya sewindu, begitulah yang Rendi rasakan ketika Rahma sudah pulang ke Kuningan. Sehari Rendi bisa tiga kali menelepon Rahma. Ada saja yang ia tanyakan dan bicarakan dengan Rahma.


“Kamu lagi apa?”


“Kamu sudah makan belum?”


“Aku kangen.”


“Kamu sudah tidur belum?”


Dan masih banyak yang Rendi tanyakan dan bicarakan melalui telepon. Padahal hari Sabtu besok mereka akan bertemu di meja akad nikah.


Dan akhirnya sampailah hari yang dinanti dan ditunggu oleh Rahma dan Rendi . Ya, hari ini tepatnya hari sabtu adalah hari yang bersejarah untuk Rahma dan Rendi. Hari ini Rahma dan Rendi akan menikah. Dari dini hari Rahma sudah bangun dan siap-siap untuk dirias oleh perias pengantin. Komala dan Zenia datang ke rumah Pak Ferdi sebelum adzan subuh karena akan dirias oleh perias. Rumah Pak Ferdi ramai oleh anak, menantu serta perias pengantin.


Pukul tujuh pagi Rahma sudah selesai di rias. Ia dan keluarganya langsung menuju ke ballroom karena acara akad nikah akan di adakan pukul delapan pagi. Sesampai di Ballroom Rahma menunggu di ruang pengantin sampai acara akad nikah dimulai.


Pukul delapan kurang dua puluh Rendi dan rombongan datang ke ballroom. Di antara rombongan calon pengantin pria ada Pak Bobby yang ikut serta bersama dengan rombongan pengantin pria. Pak Bobby menggunakan jas hitam. Kalau dilihat pakaian Pak Bobby cocok dengan pakaian yang digunakan oleh Ibu Claudia.


Rendi dan keluarga disambut oleh keluarga Rahma. Rendi duduk di kursi yang disiapkan untuk akad nikah. Ia duduk di depan Pak Ferdi. Sebelum akad nikah dimulai Rahma diminta masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


Rahma berjalan masuk ke dalam ballroom di dampingi oleh Rasyid dan Zenia. Rendi tersenyum ketika melihat kekasihnya. Rahma membalas senyum Rendi. Seharian kemarin Rendi tidak bisa melihat wajah kekasihnya. Ia hanya bisa mendengar suara kekasihnya. Sekarang ia bisa melihat wajah perempuan yang ia rindukan. Rahma duduk di sebelah Rendi. Sebelum akad nikah dimulai mereka mendengarkan pembacaan ayat suci Al Quran. Acara akad nikah dimulai.


Setelah pembacaan Al Quran selesai akad nikah pun dimulai. Dalam beberapa detik kemudian resmilah sudah Rahma menjadi istri Rendi. Semua orang mengucapkan alhamdullilah. Kemudian Rendi dan Rahma menandatangani buku nikah. Setelah itu pemakaian cincin nikah. Rendi dan Rahma difoto sambil memegang buku nikah dan memerkan cincin nikah mereka. Setelah itu mereka kembali ke ruang untuk pengantin untuk ganti baju.


__ADS_2