183 Hari Menjadi Kekasih

183 Hari Menjadi Kekasih
48. Bermain Golf


__ADS_3

Setelah selesai sarapan pagi, mereka bersiap-siap untuk berangkat ke lapangan golf. Ibu Claudia menyiapkan minuman dan cemilan untuk bekal mereka selama di lapangan golf. Setelah mereka semua sudah siap, mereka pergi ke lapangan golf dengan menggunakan mobil Alpard milik Pak Sultan. Rendi yang mengemudikan mobil, Rahma duduk di depan di sebelah Rendi. Sedangkan Pak Sultan dan Ibu Claudia duduk di kursi penumpang. Mereka pergi ke lapangan golf yang berada di Dago Pakar.


Sesampai di lapangan golf Rendi memarkirkan mobil di sebelah mobil SUV Range Rover. Pengemudi mobil SUV itu keluar dari dalam mobil. Ternyata pengemudi mobil itu adalah Pak Bobby. Rendi membuka kaca mobil dan memanggil Pak Bobby.


“Pak Bobby!” panggil Rendi.


Pak Bobby menoleh ke arah Rendi.


“Eh, Rendi.” Pak Bobby berjalan menghampiri mobil mereka.


“Rendi ngapain panggil-panggil Pak Bobby,” kata Ibu Claudia dengan kesal.


“Ayah kan mau main golf sama Pak Bobby,” ujar Pak Sultan.


Rendi membuka pintu belakang sehingga Pak Bobby bisa melihat ke dalam mobil. Ketika Pak Bobby melihat ada Pak Sultan di dalam mobil, ia menghampiri Pak Sultan.


“Selamat pagi, Pak,” sapa Pak Bobby.


“Pagi.” Pak Sultan turun dari mobil.


Tapi begitu melihat ada  Ibu Claudia di dalam mobil, mata Pak Bobby langsung berbinar-binar. Bagaikan  seorang pria yang melihat wanita pujaan hatinya.


“Selamat pagi, Ibu Claudia,” sapa Pak Bobby.


“Pagi,” jawab Ibu Claudia dengan suara yang tidak ramah dan wajah yang kesal.


Ibu Claudia turun dari pintu sebelah kiri dibantu oleh Rahma. Rahma membawakan tas-tas yang berisikan bekal makanan. Mereka seperti hendak piknik di lapangan golf. Setelah Ibu Claudia turun dari mobil, mereka berjalan menuju club house.  Mereka menunggu Rendi di depan club house. Rendi menutup semua pintu mobil lalu mengunci pintu mobil. Ia berjalan menuju club house sambil membawa tas golf.


Pak Bobby berbincang-bincang dengan Pak Sultan sambil sesekali melirik ke arah Ibu Claudia. Sedangkan Ibu Claudia terus saja menempel pada Rahma. Ia takut Pak Bobby mendekatinya. Setelah Rendi datang menghampiri mereka, barulah mereka masuk ke dalam cub house.


Seperti biasa Rendi menyewa seorang caddy laki-laki. Untuk mengajar Ibu Claudia bermain golf. Pak Bobby juga menyewa caddy untuk dirinya sendiri. Ia menyewa caddy laki-laki bukan caddy perempuan. Mereka semua menuju ke tengah langan golf dengan menggunakan mobil golf.


Sesampai di tengah lapangan mereka mulai bermain golf. Pak Bobby, Pak Sultan dan Rendi bermain golf bertiga. Mereka sudah professional dalam bermain golf. Sedangkan Rahma dan Ibu Claudia menjauh dari mereka. Rahma dan Ibu Claudia takut mengganggu mereka.

__ADS_1


Rahma mengajarkan Ibu Claudia bermain golf dibantu oleh seorang caddy. Pak Bobby bermain golf sambil sesekali pandangannya tertuju pada Ibu Claudia. Ia melihat Ibu Claudia sedang diajarkan bermain golf oleh caddy. Ia merasa tidak menerima melihat pemandangan seperti itu.


Pak Bobby mendekati Rendi.


“Mamamu sedang belajar golf?” tanya Pak Bobby kepada Rendi.


“Iya,” jawab Rendi.


“Kenapa tidak ambil caddy perempuan saja? Biar mamamu lebih leluasa jika diajar oleh caddy perempuan?” tanya Pak Bobby.


“Tidak apa-apa, Pak Bobby. Ia bekerja dengan professional tidak akan berani macam-macam kepada mama dan Rahma,” jawab Rendi.


Tiba-tiba Pak Sultan berbicara dengan suara yang agak kencang.


“Hei! Kenapa kalian malah berbicara terus? Ayo lanjutkan lagi,” ujar Pak Sultan dari kejauhan.


“Iya, Kek,” jawab Rendi. Rendi melanjutkan lagi permainannya.


Pukul sebelas siang mereka mengakhiri permainannya karena matahari sudah mulai terik. ketika mereka hendak naik ke mobil golf Pak Bobby berbicara dengan Pak Sultan dan Rendi.


“Jangan Pak Bobby yang bayar. Sekali-sekali saya yang bayar!” kata Rendi.


“Saya kan baru sekali traktir Pak Sultan dan keluarga. Lagi pula saya sekali-sekali meraktir Pak Sultan sekeluartga,” protes Pak Bobby.


“Sekarang giliran saya yang traktir Pak Bobby,” kata Rendi tidak mau kalah.


“Ya sudah, sekarang giliran kamu bayar. Kapan-kapan giliran saya yang bayar,” ujar Pak Bobby mengalah.


“Oke, deal,” jawab Rendi.


“Saya yang tentukan tempatnya!” ujar Pak Sultan.


“Oke, tidak apa-apa. Pak Sultan jalan duluan. Saya mengikuti dari belakang,” kata Rendi.

__ADS_1


Sementara itu Ibu Claudia dan Rahma sudah menunggu Rendi dari tadi di atas mobil golf. Mereka sudah kepanasan.


“Rendi. Cepetan! Mama sudah kepanasan, nih!” seru Ibu Claudia sambil mengipas wajahnya dengan kipas angin kecil.


Semua orang menengok ke arah Ibu Claudia. Wajah Ibu Claudia terlihat sangat kesal sekali.


“Ayo kita pergi sekarang. Sebelum mamamu bertambah marah,” ujar Pak Bobby.


Rendi naik mobil golf bersama dengan Ibu Claudia dan Rahma. Pak Sultan dan Pak Bobby naik mobil golf yang berbeda bersama dengan para caddy. Rendi dan Pak Bobby mengendarai mobil golf menuju ke club house.


Setelah memberi tips kepada para caddy mereka pun menuju ke tempat parkir mobil. Rendi membuka kunci mobil dengan menggunakan remote.


“Rendi. Kakek naik mobil Pak Sultan, ya.” Pak Sultan berdiri di samping mobil Pak Bobby. Ia hendak masuk ke dalam mobil Pak Bobby.


Rendi menoleh ke Pak Sultan.


“Iya, Kek,” jawab Rendi.


Mendengar perkataan Pak Sultan, Ibu Claudia tidak jadi masuk ke dalam mobil.


“Ayah mau kemana?” tanya Ibu Claudia.


“Kita kan mau makan siang bersama Pak Bobby, jadi ayah ikut dengan Pak Bobby,” jawab Pak Sultan.


Mendengar perkataan Pak Sultan, Ibu Claudia langsung menghela napas. Lalu ia masuk ke dalam mobil.


“Kenapa harus makan siang dengan Pak Bobby? Kenapa kita tidak pergi sekeluarga saja tanpa harus mengajak Pak Bobby?” tanya Ibu Claudia dengan kesal.


“Pak Bobby ingin makan siang bareng dengan kita,” kata Rendi sambil menyalakan mesin mobil. Rahma hanya diam mendengarkan ibu dan anak berbicara.


“Selalu saja dimana-mana ada Pak Bobby. Sebenarnya mau dia apa, sih?’ tanya Ibu Claudia dengan kesal.


“Mau dekati Mama.” Rendi memundurkan mobilnya lalu ia menjalankan mobilnya.

__ADS_1


“Ih, amit-amit! Mama tidak mau sama dia,” sahut Ibu Claudia sambil membuang muka keluar jendela.


__ADS_2