
Rahma terbangun dari tidurnya. Ia melihat ke jam yang menempel di dinding waktu sudah menunjukkan pukul empat subuh. Ia menoleh ke samping, Rendi sedang tidur dengan nyenyak. Rahma beranjak dari tempat tidur menuju ke kursi sofa. Ia mengeluarkan testpack dari dalam tas. Ia membawa testpack ke kamar mandi.
Rahma b*ang a*r kecil sambil menampung sedikit ur*ne di cup kecil. Lalu ia memasukkan testpack ke dalam cup. Rahma menyimpan cup di tempat yang aman lalu ia membersihkan diri. Selesai membersihkan diri Rahma kembali melihat testpack. Setelah dirasakan cukup waktu ia mengambil testpack dan melihat hasilnya.
Betapa kagetnya Rahma ketika ia melihat dua gatis merah di testpack. Perasaan Rahma bercampur aduk antara kaget, senang dan bingung. Kaget karena ternyata ia sedang hamil. Senang karena tanpa harus menunggu lama Allah SWT memberikan keturunan untuk dirinya dan Rendi. Bingung, kenapa dia tidak mengalami mual dan muntah layaknya ibu-ibu hamil lainnya.
Rahma memasukkan testpack ke dalam bekas bungkus testpack kemudian ia cuci tangan dan membawa bungkus testpack keluar dari kamar mandi. Rahma mendekati tempat tidur lalu duduk di sebelah Rendi. Rendi tidur dengan posisi memunggunginya.
“A, bangun.” Rahma menepuk lengan Rendi.
“Hem,” jawab Rendi dengan mata terpejam.
“Aa. Iiiihhh!” Rahma mengguncang-guncang badan Rendi.
Merasa badannya diguncang-guncang Rendi membuka matanya lalu menoleh ke Rahma.
“Kenapa?” Rendi memandang Rahma dengan mata yang masih mengantuk.
Rahma memberikan bungkus testpack ke Rendi.
“Ini apa?” Rendi mengambil bungkus itu dari tangan Rahma.
“Lihat sendiri isinya.” Rahma menyalakan lampu yang berada di atas nakas.
Rendi bangun dari tidur dan duduk menyender pada nakas. Ia menghela napas lalu menbuka bungkus testpack. Ia melihat di dalam bungkus tersebut ada sebuah stik lalu ia mengambil stik tersebut.
“Ini apa?” Rendi memandangi stik tersebut dengan bingung.
“Aa lihat ini.” Rahma menunjuk garis merah yang ada di stik tersebut.
“Terus kenapa?” Rendi bertanya lagi. Ia tidak mengerti sama sekali.
“Iiihhh Aa. Masa begitu saja tidak mengerti!” seru Rahma dengan kesal.
“Coba kamu terangin ke aku! Biar aku mengerti,” ujar Rendi.
“Ini tandanya Rahma hamil,” kata Rahma.
Rendi langsung diam mendengarnya. Ia malah memandangi stik tersebut. Ia membaca bungkus stik tersebut. Barulah ia mengerti.
“Alhamdullilah.” Rendi merangkul tubuh Rahma lalu mengecup kening Rahma.
“Tapi A, kenapa Rahma tidak mual dan muntah seperti ibu-ibu hamil lainnya?” tanya Rahma.
“Nanti kita tanya ke dokter. Dia yang lebih tahu,” jawab Rendi.
Rendi beranjak dari tempat tidur.
“Aa ke kamar mandi dulu.” Rendi berjalan menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
Adzan subuh berkumandang. Rendi dan Rahma sholat subuh berjamaah. Setelah sholat subuh mereka sujud syukur atas karunia yang Allah SWT berikan kepada keluarga kecil mereka.
Setelah selesai sholat subuh Rahma keluar dari kamar.
“Kamu mau kemana?” tanya Rendi ketika melihat Rahma hendak keluar dari kamar.
“Mau masak,” jawab Rahma.
“Hati-hati! Jangan mengangkat yang berat!” ujar Rendi.
“Iya, A.” Rahma keluar dari kamar menuju ke dapur.
Ketika hendak sarapan. Rendi mengumumkan kabar gembira kepada mama dan kakeknya.
“Mama Kakek, ada yang hendak Rendi sampaikan kepada Mama dan Kakek,” kata Rendi.
“Tentang apa?” tanya Ibu Claudia.
“Rahma hamil,” kata Rendi.
“Alhamdullilah,” ucap Pak Sultan dan Ibu Claudia.
“Apa sudah ditest dengan testpack?” tanya Ibu Claudia.
“Sudah, Ma. Hasilnya positif,” jawab Rahma.
“Tapi , Ma. Kenapa Rahma tidak mual-mual dan muntah-muntah seperti ibu hamil?” tanya Rahma.
“Tidak semua ibu hamil mengalami mual dan muntah. Untuk jelasnya kamu bisa tanyakan langsung ke dokter,” jawab Ibu Claudia.
“Baik, Ma,” jawab Rahma.
Sore hari setelah Rahma pulang kerja Rendi membawa Rahma menuju ke rumah sakit yang berada di dekat kantor Rahma untuk di periksa. Beruntung ketika mereka datang antriannya tidak terlalu panjang. Rahma dan Rendi duduk di kursi tunggu, menunggu untuk dipanggil.
Setelah menunggu lama akhirnya nama Rahma dipanggil.
“Ibu Rahma Sasmita.” Rahma dan Rendi beranjak dari kursi lalu berjalan menuju ke kamar periksa.
“Selamat sore,” ucap dokter ketika Rahma dan Rendi masuk ke dalam kamar periksa.
“Sore, Dok,” jawab Rahma dan Rendi.
Rahma dan Rendi duduk di depan meja kerja dokter. Dokter membaca file kasus Rahma. Di file itu sudah terinci secara jelas apa yang Rahma alami.
“Ada keluhan, Bu?” tanya dokter.
“Kenapa saya tidak mengalami mual dan muntah seperti ibu-ibu hamil lainnya?” tanya Rahma.
“Bisa karena hormon rendah. Bisa juga karena kondisi tubuh ibu mentolerir perubahan fisik dan psikis selama kehamilan sehingga tidak mengalami mual dan muntah,” jawab dokter.
__ADS_1
“Sekarang kita lihat dulu keadaan janin,” ujar dokter.
Rahma beranjak dari tempat duduk menuju ke tempat tidur untuk diperiksa. Suster membantu Rahma bebaring dan menyiapkan Rahma untuk USG. Setelah siap dokter mulai memeriksa kandungan Rahma dengan alat USG. Rendi melihat dari layar monitor yang disediakan. Ia memperhatikan walaupun tidak mengerti.
“Janinnya masih kecil sebesar biji,” ujar dokter.
Akhirnya dokter selesai memeriksa Rahma. Rahma kembali ke tempat duduk. Dokter menulis resep obat untuk Rahma.
“Kembali lagi setelah dua minggu.” Dokter memberikan resep obat kepada Rahma.
“Terima kasih, Dok,” ucap Rahma.
Rendi dan Rahma beranjak dari tempat duduk keluar dari kamar periksa. Mereka menuju ke apotik yang berada di rumah sakit tersebut untuk membeli obat yang diresepkan oleh dokter. Rendi memberikan resep kepada pegawai apotik. Lalu Rendi dan Rahma duduk di tempat duduk yang disediakan.
“Mama belum diberitahu,” kata Rahma.
“Telepon sekarang!” ujar Rendi. Rahma mengeluarkan ponselnya lalu menelepon mamanya.
“Assalamualaikum,” ucap Rahma. Rahma menceritakan kepada mamanya tentang kehamilannya. Rahma asyik berbincang dengan mamanya sedangkan Rendi menunggu nama Rahma dipanggil oleh pegawai apotik.
Benar saja beberapa menit kemudian.
“Ibu Rahma Sasmita.” Pegawai apotik memanggil nama Rahma. Rendi berdiri lalu menghampiri pegawai apotik. Pegawai apotik menyebutkan sejumlah nominal yang harus dibayar oleh Rendi. Rendi membayar dengan kartu sakti. Setelah itu ia kembali ke tempat duduk. Rahma masih asyik berbicara dengan mamanya.
Tidak lama kemudian nama Rahma dipanggil kembali. Rendi menghampiri pegawai apotik. Pegawai apotik memberikan plastik berisi obat kepada Rendi. Rendi kembali lagi ke tempat duduk. Rahma masih belum selesai berbicara dengan mama.
Rendi duduk di sebelah Rahma menunggu Rahma selesai bicara dengan mamanya. Rahma melihat Rendi membawa plasik obat.
“Sudah selesai?” tanya Rahma tanpa mengeluarkan suara.
“Sudah,” jawab Rendi.
“Ma, sudah dulu. Obat Rahma sudah diambil,” kata Rahma kepada mamanya.
“Assalamualaikum,” ucap Rahma.
Rahma mematikan ponselnya.
“Ayo kita pulang,” ajak Rahma. Mereka pun beranjak dari tempat duduk lalu berjalan keluar dari rumah sakit.
“Kamu mau makan apa?” tanya Rendi sambil menyetir mobilnya.
“Seafood,” jawab Rahma.
“Ok. Sekarang kita ke restaurant seafood,” ujar Rendi.
“Nanti saja, A. Sekarang sudah magrib kita pulang dulu untuk sholat magrib. Kalau sudah selesai sholat baru ke restaurant seafood. Kita ajak mama dan kakek makan di sana,” kata Rahma.
“Baiklah. Kita pulang dulu,” ujar Rendi.
__ADS_1