
Keesokan harinya Ibu Claudia dan Pak Sultan datang ke Kuningan untuk melamar Rahma. Mereka datang bersama dengan beberapa keluarga terdekat mereka. Setelah masuk ke kota Kuningan, Ibu Claudia menelepon Rendi kalau mereka sudah sampai di Kuningan dan sekarang mereka dalam perjalanan ke hotel Rendi menginap. Mereka akan menjemput Rendi di sana.
Rendi berdiri di depan hotel menunggu kedatangan Pak Sultan dan Ibu Claudia. Sebuah mobil Alphard berwarna hitam berhenti di depan hotel. Rendi menyangka itu adalah mobil Alphard milik Pak Sultan. Tap ketika dilihat plat nomor, nomornya beda dengan plat nomor Pak Sultan.
Rendi geser ke pinggir menjauh dari mobil tersebut. Namun, supir mobil itu malah membunyikan klakson. Kaca jendela depan mobil tersebut dibuka. Pak Bobby mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil.
“Rendi. Ayo naik!” ujar Pak Bobby.
“Pak Bobby?” Rendi menghampiri Pak Bobby. Pintu belakang mobil tersebut terbuka, di dalam mobil itu ada Pak Sultan dan Ibu Claudia.
“Kakek Mama. Kok ikut mobil Pak Bobby?” tanya Rendi bingung. Kenapa Mamanya mau naik mobil milik Pak Bobby.
“Pak Bobby maksa agar pergi ke Kuningan naik mobil dia,” jawab Ibu Claudia dengan kesal.
“Sudah, jangan diributkan lagi!” ujar Pak Sultan.
“Cepat naik, Ren!” perintah Pak Sultan.
Ketika Rendi hendak masuk ke dalam mobil, Pak Bobby turun dari mobil.
“Rendi, kamu duduk di depan sama Pak Darto! Biar kamu mudah memberikan petunjuk arah ke rumah Rahma,” ujar Pak Bobby.
Rendi tidak jadi duduk di kursi belakang. Pak Bobby yang duduk di kursi belakang. Rendi duduk di depan sebelah supir. Setelah itu barulah mobil berjalan menuju ke rumah Rahma. Di belakang mobil Pak Bobby ada iring-iringan mobil keluarga Rendi. Mereka mengikuti mobil Pak Bobby.
Akhirnya mereka sampai di rumah Rahma. Rendi turun dari mobil. Ia membantu kakek dan mamanya turun dari mobil. Setelah itu Rendi menghampiri saudara-saudaranya. Ia menyalami saudaranya satu persatu. Barulah mereka berjalan masuk ke halaman rumah Rahma.
Di depan rumah rumah Rahma dipasang tenda, namun tidak ditaruh kursi. Karena carport rumah Rahma menanjak, sehingga tidak bisa ditaruh kursi. Mereka berjalan menuju teras rumah. Di depan teras sudah ada Rasyid dan Aditya.
“Assalamualaikum,” ucap Rendi dan keluarga.
“Waalaikumsalam,” jawab kakak-kakak Rahma.
Aditya dan Rasyid menyambut kedatangan Rendi dan keluarga. Mereka saling bersalaman satu dengan yang lain. Rasyid mempersilahkan Rendi dan keluarga untuk masuk ke dalam rumah. Rendi dan keluarga masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu. Ruang tamu rumah Pak Ferdi sangat luas sehingga bisa memuat orang banyak.
Tidak lama kemudian Pak Ferdi dan Ibu Arini datang menghampiri Rendi dan keluarga. Mereka pun saling bersalaman. Ketika Pak Ferdi hendak menyalami Pak Bobby, beliau bertanya kepada Pak Bobby.
“Bukankah Bapak adalah Pak Bobby? Saksi penculikan Rahma?”
“Benar sekali,” jawab Pak Bobby.
__ADS_1
“Terima kasih atas kesaksian Pak Bobby. Berkat Pak Bobby, penjahat yang menculik Rahma dapat tertangkap,” ucap Pak Ferdi.
“Sama-sama, Pak. Saya hanya membantu sebagai saksi. Polisi yang mencari keberadaan mereka,” ujar Pak Bobby.
“Ayo silahkan duduk, Pak Bu.” Pak Ferdi mempersilahkan keluarga Rendi untuk duduk.
Sebelum acara lamaran dimulai mereka saling beramah tamah dan saling memperkenalkan anggota keluarga mereka. Pak Bobby diperkenalkan sebagai teman Rendi. Setelah selesai berkenalan dan beramah tamah barulah keluarga Rendi mengutarakan kedatangan mereka ke rumah Rahma. Sebagai juru bicara keluarga Rendi adalah kakak Ibu Claudia yang bernama Pak Reynhard.
“Kedatangan kami ke sini adalah untuk meminang putri Pak Ferdi yang bernama Rahma untuk putra kami Rendi,” ujar Pak Reynhard.
“Kami harus tanyakan dahulu kepada putri kami Rahma,” kata Pak Ferdi.
Pak Ferdi menoleh ke Komala yang duduk di belakang Pak Ferdi.
“Komala, tolong panggil Rahma! Suruh dia ke sini,” kata Pak Ferdi.
“Iya, Pa.” Komala beranjak dari tempat duduk menuju ke ruang keluarga.
Tidak lama kemudian Komala datang bersama Rahma. Rahma menggunakan gamis berwarna nude serta kerudung segiempat yang berwarna nude pula. Rias wajahnya di sesuaikan dengan warna gamisnya sehingga riasannya terlihat natural tapi terlihat cantik. Rendi memandangi kekasihnya yang terlihat sangat cantik. Ketika pandangan mata mereka bertemu Rendi tersenyum kepada Rahma. Rahma membalas senyum Rendi.
Rahma duduk di antara kedua orang tuanya. Pak Ferdi menoleh ke arah Rahma.
“Iya, Papa,” jawab Rahma.
“Alhamdullilah,” ucap Rendi dan keluarga.
“Alhamdullilah Rahma sudah menerima lamaran Rendi. Sekarang tinggal penentuan hari pernikahan. Kakek dan Mama Rendi menginginkan pernikahan Rendi diadakan secepatnya. Mereka ingin pernikahan Rendi dan Rahma diadakan bulan depan,” ujar Pak Reynhard.
Orang tua dan keluarga Rahma kaget mendengar perkataan Pak Reynhard.
“Apa tidak terlalu cepat?” tanya Pak Ferdi.
“Tidak, Pak Ferdi. Bukankah lebih cepat lebih baik? Apalagi mereka sering pergi bersama. Jadi alangkah baiknya jika pernikahan mereka dipercepat,” jawab Pak Reynhard.
“Saya harus tanya istri saya dulu,” ujar Pak Ferdi.
Pak Ferdi menoleh ke Ibu Arini.
“Bagaimana, Ma. Setuju tidak jika pernikahan Rahma dan Rendi diadakan bulan depan?” tanya Pak Ferdi dengan berbisik.
__ADS_1
“Mama setuju saja. Daripada nanti mereka kebablasan,” jawab Ibu Arini.
Mendengar perkataan Ibu Arini, Rahma langsung protes.
“Iiiihhh, Mama. Kok suudzon sama anaknya.” Rahma protes sambil cemberut.
“Habis kalian nempel terus seperti perangko. Dimana ada kamu di situ ada Rendi,” ujar Ibu Arini.
Pak Ferdi kembali menghadap ke keluarga Rendi.
“Baiklah, kami setuju jika pernikahan mereka diadakan bulan depan,” ujar Pak Ferdi.
“Alhamdullilah,” ucap Pak Reynhard.
“Mengenai biaya pernikahan, Ibu Claudia yang akan membiayai semua biaya pernikahan Rendi dan Rahma,” ujar Pak Reynhard.
“Jangan, dong! Kami juga mau membiayai pernikahan anak kami. Bagaimana kalau kita biayai nya kita bagi dua?” tanya Pak Ferdi kepada Ibu Claudia.
“Boleh, Pak Ferdi,” jawab Ibu Claudia.
Setelah selesai membicarakan rencana pernikahan Rahma dan Rendi, Ibu Arini mempersilahkan tamunya untuk menyicipi hidangan yang sudah disediakan. Para tamu diajak menuju ke lorong yang bersebelahan dengan taman. Di sana berjejer meja panjang tempat hidangan makan siang disajikan. Berbagai macam makanan disajikan di sana. Para tamu bisa memilih makanan yang hendak mereka makan.
Sementara yang lain sedang mengambil makan, dua sejoli malah asyik berduaan.
“Jelek ya, Rahma pakai baju ini?” Rahma berdiri di depan Rendi sambil memperhatikan pakaiannya.
“Cantik, kok. Cantik sekali, aku sampai pangling lihat kamu,” jawab Rendi.
“Baju ini sudah lama, tapi jarang dipakai,” kata Rahma.
“Tidak terlihat seperti baju lama. Kamu cantik sekali pakai baju itu,” ujar Rendi.
Tamu yang sudah mengambil makanan mulai berdatangan. Mereka duduk di ruang tamu.
“Calon pengantin tidak makan?” tanya Pak Reynhard melihat Rendi berbicara berdua dengan Rahma.
“Nanti, Ua,” jawab Rendi.
“Aa mau makan?” tanya Rahma.
__ADS_1
“Nanti saja. Masih ngantri,” jawab Rendi.