
Rahma sedang duduk di ruang tamu sambil membaca chat di grup wa kantor. Ia sudah menggunakan pakaian olah raga dan sepatu olah raga. Hari ini ia akan menemani Rendi bermain golf.
Rahma berpikir ternyata golf olah raga menyenangkan tidak harus menggunakan tenaga. Cukup jalan kaki ke sana dan kemari lalu memukul bola. Kalau bola menggelinding terlalu jauh ada caddy yang bertugas mengejar bola. Rendy yang membayar caddy untuk melatihnya bermain golf.
Tiba-tiba,
“Assalamualaikum,” ucap seseorang. Suaranya mirip seperti suara Rendi.
“Waalaikumsalam,” jawab Rahma.
Rahma beranjak dari kursi dan menuju ke pintu. Rendi sedang berdiri di depan pintu.
“Sudah siap? Kita berangkat sekarang” Rendi memperhatikan pakaian yang Rahma pakai.
“Tunggu sebentar. Saya ambil tas dulu.” Rahma kembali ke ruang tamu untu mengambil tas yang berada di kursi tamu. Setelah itu ia menghampiri Rendi. Ia menaruh tas ranselnya di punggung sambil memegang tas kain.
“Bawa apa itu?” Rendi menunjuk ke tas kain yang dipegang Rahma.
“Bawa minum dan camilan. Biar tidak haus dan lapar,” jawab Rahma.
“Oh, begitu,” ujar Rendi tanda mengerti.
“Kamu sudah sarapan, belum?” tanya Rendi.
“Sudah, Pak,” jawab Rahma.
“Ayo kita berangkat sekarang!” ujar Rahma. Rahma berjalan keluar pagar. Rendi mengikuti Rahma dari belakang.
Sesampainya mereka di club house lapangan golf mereka sudah ditunggu oleh teman-teman Rendi.
“Akhirnya datang juga, lu. Kita sudah nungguin lu dari subuh,” kata Iwan.
“Janjiannya kan jam delapan. Sekarang jam berapa?” Rendi melihat ke jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul delapan kurang lima belas menit.
“Baru jam delapan kurang,” kata Bobby.
“Maklum, Ren. Dia lagi semangat untuk main golf,” ujar Ibram.
“Kalau begitu kita jalan sekarang.” Iwan berjalan lebih dahulu menuju ke mobil golf. Rendi, Rahma dan teman-teman Rendi menyusul Iwan. Ketika mereka berjalan hendak naik mobil golf, tiba-tiba Iwan menyapa seorang pria separuh baya.
“Eh, Pak Bobby. Apa kabar, Pak?” Iwan menyalami Pak Bobby.
__ADS_1
“Baik,” jawab Pak Bobby.
Rendi dan teman-temannya yang lain menyalami Pak Bobby.
“Sendiri saja, Pak?” tanya Iwan.
“Biasanya juga sendiri,” jawab Pak Bobby.
“Biasanya Bapak ditemani caddy,” kata Iwan.
“Ada, tuh.” Pak Bobby menunjuk ke caddy yang berdiri agak menjauh dari Pak Bobby. Caddy itu berbeda dengan caddy yang biasa disewa oleh Pak Bobby. Kali ini seorang gadis cantik dengan rambut pirang panjang sebahu serta bertubuh semampai namun terlihat s*ksi.
“Ganti lagi caddynya, Pak? Biasanya bukan yang itu,” tanya Ibram.
“Iya, dong ganti. Bosen sama yang itu-itu terus,” jawab Pak Bobby.
Pak Bobby menoleh ke arah Rahma yang berdiri di sebelah Rendi.
“Siapa ini? Caddy baru, ya?” Pak Bobby menunjuk ke Rahma dengan telunjuknya.
“Dia bukan caddy, Pak. Dia temannya Rendi namanya Rahma. Dia sering ikut bermain golf bersama Rendi,” jawab Ibram.
“Bapak terlalu asyik bermain. Jadi tidak memperhatikan ke sekitar Bapak,” kata Gana. Kata bermain yang dimaksudkan oleh Gana adalah dalam artian lain.
“Oh, begitu,” jawab Pak Bobby. Bobby memandang ke Rahma, seolah ia sedang menilai Rahma.
“Cantik. Pintar kamu memilih teman,” puji Pak Bobby.
“Iya, dong. Siapa dulu? Rendi.” Ibram menepuk-nepuk punggung Rendi.
“Ayo, kita jalan sekarang! Nanti keburu siang,” kata Iwan.
“Wan! Meni semangat-semangat teuing maneh,” sahut Gana. (“Wan, kamu semangat sekali”).
“Urang boga jurus buat ngelehkeun Ibram,” jawab Iwan. (“Gue punya jurus buat mengalahkan Ibram”).
“Jurus naon, Wan?” tanya Ibram.
“Pokoknya aya we, lah,” jawab Iwan.(“Pokoknya ada, lah”). Iwan naik ke mobil golf lalu disusul oleh Gana dan Ibram.
Di antara mereka berempat memang Ibram yang paling jago dalam bermain golf. Ibram sering mengikuti turnamen golf. Berbeda dengan Rendi, Rendi bermain golf hanya untuk kegiatan selingan di antara kesibukan bekerja di kantor.
__ADS_1
Mereka menuju ke tengah lapangan golf dengan menggunakan mobil golf. Sesampai di tengah lapangan mereka mulai bermain golf. Sedangkan Rahma melanjutkan belajar bermain golf dengan dipandu oleh caddy.
Tanpa Rahma sadari ia kian menjauh dari Rendi dan teman-temannya. Ia terlalu asyik dengan permainannya. Sampai akhirnya ia Rahma sadari ia kian menjauh dari Rendi dan teman-temannya. Sampai akhirnya tanpa sengaja ia bertemu Pak Bobby. Pak Bobby sedang bermain golf sambil pl*s-pl*s dengan caddy.
“Astagfirullahaladzim.” Rahma kaget melihatnya dan langsung membalikkan badan.
Melihat Rahma yang tiba-tiba membalikkan badan caddy jadi bingung.
“Kenapa, Teh?” tanya Isa caddy.
“Pindah, yuk! Jangan di sini,” kata Rahma. Isa melihat ke sekeliling mereka. Ia melihat Pak Bobby yang sedang bermain sambil bermesraan dengan caddy.
“Oh, itu. Pak Bobby memang begitu, Teh. Para pemain golf di sini sudah hafal dengan kelakuan Pak Bobby,” ujar Isa.
Cerita ini bukan cuma selingan saja. Tapi nanti akan ada hubungannya dengan cerita selanjutnya. Jadi, nikmati saja ceritanya.
“Pokoknya kita pindah mainnya!” Rahma berjalan meninggalkan tempat itu. Isa mengikuti Rahma.
Rahma berjalan cepat-cepat menghampiri Rendi dan teman-temannya yang sedang bermain golf.
“Rahma kenapa, tuh?” Iwan menunjuk ke arah Rahma dengan dagunya. Semua menoleh ke arah Rahma. Rahma berjalan dengan cepat mendekati mereka.
“Kamu kenapa?” tanya Rendi.
“Iiihhh.” Rahma merinding karena merasa jijik.
Rendi menoleh ke Isa. “Ada apa?” tanya Rendi ke Isa.
“Teh Rahma melihat Pak Bobby lagi biasa,” jawab Isa.
“Oh.” Rendi mengerti apa yang dimaksud Isa.
Rendi kembali menoleh ke Rahma. “Jangan dilihatin. Biarkan saja! Dia memang sering begitu,” ujar Rendi kepada Rahma.
“Mainnya di sini saja.” Rahma berjalan agak menjauh dari Rendi agar dia tidak mengganggu permainan Rendi dan teman-teman. Ia meletakkan bola dan mulai bermain golf lagi.
.
.
__ADS_1