183 Hari Menjadi Kekasih

183 Hari Menjadi Kekasih
41. Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Rahma sedang bersiap-siap untuk berangkat ke Yogyakarta Ia memeriksa barang-barang bawaannya satu persatu agar tidak ada yang tertinggal. Setelah yakin tidak ada yang tertinggal Rahma keluar dari kamarnya sambil membawa travel bag.


Ibu Claudia, dan Pak Sultan sedang duduk di ruang keluarga. Ibu Claudia menoleh ke arah Rahma.


"Sudah mau berangkat sekarang?" tanya Ibu Claudia.


"Iya, Tante. " Rahma mendekati Ibu Claudia.


"Kek, Rahma berangkat dulu, " kata Rahma. Pak Sultan mengulurkan tangannya lalu Rahma mencium tangan Pak Sultan.


"Hati-hati di jalan. Kalau ada apa-apa telepon Kakek!" ujar Pak Sultan.


"Iya, Kek, " jawab Rahma.


Rahma beralih ke Ibu Claudia.


"Tante, Rahma berangkat dulu. " Rahma mencium tangan Ibu Claudia.


"Jaga diri baik-baik! Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk menelepon kami!" ujar Ibu Claudia.


"Iya, Tante, " jawab Rahma.


Ibu Claudia mengambil tas kain dari atas meja sofa lalu diberikan kepada Rahma. "Ini untuk bekal kamu di jalan, " ujar Ibu Claudia.


Rahma mengambil tas kain tersebut. "Terima kasih, Tante," ucap Rahma.


"Assalamualaikum, " ucap Rahma lalu Rahma berjalan keluar rumah melalui garasi mobil.


"Waalaikumsalam, " jawab Pak Sultan dan Ibu Claudia.


Ibu Claudia dan Pak Sultan mengantar Rahma sampai ke mobil. Pak Sobir mengambil travel bag yang dibawa oleh Rahma lalu dimasukan ke dalam bagasi mobil. Rahma, langsung masuk ke dalam mobil.


Pak Sobir masuk ke dalam mobil lalu menjalankan mobil meninggalkan rumah Pak Sultan. Rahma melambaikan tangan ke arah Ibu Claudia dan Pak Sultan.


Sebelum menuju ke stasiun kereta api Rahma menuju ke kantor dulu untuk menjemput Pak Barli. Pak Barli menyimpan kendaraannya di kantor. Jarak kantor Rahma dengan stasiun tidak terlalu jauh. Hanya saja kalau ditempuh dengan berjalan kaki lumayan jauh.


Pak Sobir membelokkan mobil menuju halaman kantor Rahma. Pak Barli sudah menunggu di depan kantor. Pak Sobir menghentikan mobil di depan kantor lalu turun dari mobil. Ia membuka bagasi mobil. Pak Barli memasukkan travel bag ke dalam bagasi mobil. Setelah itu ia masuk ke dalam mobil. Pak Barli duduk di sebelah Pak Sobir.


Pak Barli menoleh ke belakang, ia melihat Rahma duduk sendiri.


"Loh, Pak Rendi tidak ikut?" tanya Pak Barli.


Pak Barli menanyakan itu karena biasanya Rendi selalu ikut kemanapun Rahma pergi.

__ADS_1


"Pak Rendi sedang ke Jepang. Hari sabtu baru pulang dari Jepang, " jawab Rahma.


"Oh, " kata Pak Barli tanda mengerti.


Pak Sobir menjalankan mobil menuju ke stasiun kereta api. Beberapa menit kemudian mereka sampai di stasiun kereta api. Pak Sobir menghentikan mobil di depan lobby stasiun kereta api. Rahma dan Pak Barli turun dari mobil lalu mereka mengambil tas mereka dari dalam bagasi mobil.


"Terima kasih, Pak Sobir," ucap Rahma.


"Sama-sama, Bu, " jawab Pak Sobir.


Rahma dan Pak Barli masuk ke dalam. stasiun kereta api. Kereta api argo wilis sudah berada di stasiun. Mereka langsung masuk ke dalam kereta Argo Wilis.


Pukul tujuh lewat empat puluh menit kereta Argo Wilis berangkat dari stasiun Bandung. Rahma mengirim pesan ke Rendi untuk memberitahu kalau kereta yang ditumpanginya baru saja berangkat. Rendi berpesan agar Rahma memberi kabar kepadanya kapan kereta api berangkat dan kapan sampai di Yogyakarta.. Pokoknya Rahma harus memberi kabar kepada Rendi dari A sampai Z.


Rahma:


[Pak Rendi, kereta baru saja jalan. ]


Tidak lama kemudian Rendi membalas pesan Rahma.


Rendi:


[Jaga, diri baik-baik! Kalau terjadi sesuatu diperjalanan segera, kabari saya! ]


Rahma:


Rahma memasukan ponselnya ke dalam tas. Ia memandang keluar jendela. ia memperhatikan pemandangan di pinggir rel kereta, hingga akhirnya kereta meninggalkan kota Bandung.


Pukul setengah dua siang Rahma dan Pak Barli sampai di kota Yogyakarta. Mereka langsung menuju hotel untuk memesan kamar Setelah memesan kamar mereka langsung menuju Balai Diklat untuk mengikuti pelatihan.


***


Sementara itu di kediaman Pak Sultan. Ibu Claudia, sedang sibuk di dapur membuat cemilan untuk Pak Sultan.


Terdengar seseorang mengucapkan salam.


"Assalamualaikum."


Ibu Claudia sedang menggoreng bala-bala (bakwan) langsung berhenti.


"BI Wiwiek, coba lihat itu ada siapa!" ujar Ibu Claudia.


BI Wiwiek yang sedang mencuci peralatan masak langsung berhenti mencuci. Ia berjalan menuju ruang keluarga. Ia melihat seorang pria sedang berbincang-bincang dengan Pak Sultan. Lalu ia kembali lagi ke dapur dan melanjutkan mencuci peralatan masak.

__ADS_1


"Ada siapa, Bi? " tanya Ibu Claudia.


"Sepertinya tamunya Bapak," jawab bi Wiwiek


"Tamu Ayah? Siapa?" Ibu Claudia bertanya kepada diri sendiri.


"Pak Yanuar, bukan?" tanya Ibu Claudia sambil membalikkan bala-bala.


"Bukan, Bu. Orangnya sudah tua tapi ganteng, Bu, " jawab bi Wiwiek.


Ibu Claudia berpikir sejenak. Ia mengingat satu persatu teman Pak Sultan yang sudah tua dan ganteng.


Siapa? tanya Ibu Claudia dalam hati.


"Bi, tanyakan ke Bapak, tamu Bapak mau dibuatkan minuman apa, " ujar Ibu Claudia sambil memasukkan adonan bala-bala ke dalam wajan.


"Ya, Bu. " Bi Wiwiek meninggalkan peralatan masak yang sedang dicuci lalu menuju ke ruang keluarga.


Beberapa, detik kemudian bi Wiwiek kembali ke dapur.


"Bu. Tamu Bapak mau minum kopi tapi Bapak menyuruh Ibu yang membuatkan, " kata bi Wiwiek.


Ibu Claudia, berhenti menggoreng bala-bala.


"Tolong teruskan, BI! " ujar Ibu Claudia.


Ibu Claudia beranjak menuju ke dapur bersih. Ia mendengar suara tamu itu seperti ia kenal suaranya. Tapi ia lupa lagi suara siapa.


Ibu Claudia melihat rantang berada di atas kitchen set. Ia membuka rantang tersebut, ternyata rantang itu masih bersih. Tanpa berpikir panjang ia memasukkan rantang tersebut ke dalam kitchen set. Lalu ia mengambil dua buah cangkir dari dalam kitchen set. Ia membuatkan dua cangkir kopi.


Setelah selesai Ibu Claudia membawa kopi tersebut ke ruang keluarga. Pak Sultan dan tamunya sedang asyik bermain catur. Ibu Claudia tidak memperhatikan siapa, tamu Pak Sultan. Ibu Claudia menaruh nampan di atas meja sofa. Pak Sultan menoleh ke samping, ia melihat Ibu Claudia membawa dua cangkir kopi.


"Kopinya sudah datang, " ujar Pak Sultan.


Pria itu menoleh ke Ibu Claudia. Ibu Claudia tidak melihat ke pria tersebut karena ia sedang menaruh cangkir ke atas meja. Pertama ia menaruh secangkir kopi untuk Pak Sultan lalu kemudian ia menaruh secangkir kopi untuk pria tersebut.


Alangkah terkejutnya Ibu Claudia ketika melihat tamu Pak Sultan. Pak Bobby sedang memandangi wajah Ibu Claudia sambil tersenyum manis.


"Selamat sore Ibu Claudia, " sapa Pak Bobby.


Kenapa dia ada di sini? tanya Ibu Claudia di dalam hati.


"Mana bala-bala? Udah matang, belum?" tanya Pak Sultan.

__ADS_1


"Baru matang. Claudia ambilkan, ya. " Ibu Claudia beranjak menuju dapur.


"


__ADS_2