
Mereka semua menikmati makanan di rumah keluarga Antares, Leonard tidak berhenti memandang Bella sedangkan Afraban hanya fokus makan. Dia pria yang sangat dingin dan cuek. Bella melihat pria itu sepertinya tidak nyaman dengan pertemuan ini
" apa mungkin dia tidak nyaman karena kondisinya seperti itu?"Bella bertanya dalam hati
" Ayah, ibu, Madam Zola dan Nona Bella....maaf aku permisi.... keadaan ku mengharuskan aku undur diri lebih dahulu dari pertemuan ini" Ucap Afraban sambil memundurkan kursi roda nya.
" Tetap di tempat mu Af.... bergunalah sedikit cibir Leonard
" Selamat beristirahat Tuan Af....maaf siapa tadi? Ucap Bella Polos
" Afraban Nona" ucap Afraban sedikit terkejut karena Bella tersenyum
__ADS_1
" Selamat beristirahat Tuan Afraban.... Senang berjumpa dengan anda" Ucap Bella sambil berdiri dan membantu memundurkan kursi Afraban, karena Bella paling dekat dengan posisi duduk Afraban.
" Cukup Nona, terima kasih....aku bisa sendiri" ucap Afraban sinis.
" ow....ok" ucap Bella melepas pegangan nya pada kursi roda Afraban. Makan bersama selesai dan mereka kini membicarakan bisnis yang sedang berjalan dan Madam Zola mengatakan bahwa Bella yang akan mengurus proyek itu. Lia tidak hentinya tersenyum dan berpura - pura sok akrab dengan mereka terutama Bella, sampai Bella merasa jenuh. Tuan Antares tidak henti-hentinya membicarakan kehebatan putra bungsu nya yang menurutnya sangat hebat dan mengatakan jika putra sulungnya tidak berguna dan hanya menjadi beban keluarga. Bella yang mendengar ini merasa tidak enak dan sangat kesal
" Anda tidak sepatutnya berkata seperti itu tuan Antares, bagaimana pun kondisi tuan Afraban dia tetaplah anak Anda, dia karunia untuk anda, tidak ada di dunia ini yang bisa memilih bagaimana keadaan dan jalan hidup mereka" Ucap Bella dingin. " Madam Aku permisi.... sebaiknya aku ke taman...di luar ku lihat ada taman, di sini aku merasa penat, melihat orang yang merendahkan anaknya sendiri" Ucap Bella sambil berdiri meninggalkan mereka semua
" Tuan Antares anda telah menyinggung perasaan putriku, dia putri yang sangat Peka, bagaimana pendapat mu Nyonya Lia? Putriku bukan Perempuan rendahan seperti katamu beberapa tahun yang lalu...." Ucap Madam Zola dengan perkataan menusuk.
" Aku tidak yakin Bella menginginkan anda menjadi mertuanya" Ucap Madam Zola. Bella kini berada di taman dia melihat Pemuda yang bernama Afraban itu di kursi roda sedang memperhatikan bunga - bunga yang ada di taman itu. Bella mencoba menyapa pemuda tersebut.
__ADS_1
" Hai...Tuan Afraban, anda sangat senang dengan bunga, aku juga menanam beberapa bunga d atap THM tempat ku Bekerja" Ucap Bella riang
" Pergilah nona, anda akan terkena sial jika berdekatan dengan ku" Ucap Afraban sinis.
" Haiiis.... Anda hidup di zaman modern tapi masih saja percaya hal begituan" Ucap Bella masih dengan mimik yang ceria
" Baiklah tetaplah di sini....biar aku yang pergi... permisi" ucap Afraban sambil mendorong kursi roda nya sendiri meninggalkan Bella sendiri di taman. Dasar pria sombong, seperti nya keluarga ini semuanya sombong dengan cara mereka sendiri gumam Bella dalam hati. Tidak lama Arin datang memanggil Bella dan mengatakan bahwa mereka akan segera pulang. Bella mengikuti Arin dan pamit kepada Tuan Antares dan Nyonya Lia. Mereka lalu pulang ke kediaman Madam Zola.
Afraban POV
Hari ini ayah bicara dengan semangat bahwa besok salah seorang penguasa dunia bawah tanah yang biasa di sebut dengan Queen of Dark yang bernama Madam Zola akan berkunjung ke rumah kami. Dia akan datang untuk membicarakan kelanjutan bisnis perusahaan ayahku dengan perusahaan RR grub yang telah diambil alih oleh Madam Zola. Ayah meminta ku untuk hadir pada pertemuan itu karena katanya aku masih menyandang nama keluarga Braco, meskipun aku tidak berguna dan hanya menjadi beban keluarga karena aku lumpuh. Ia inilah aku Afraban Braco yang kehilangan kemampuan berjalan ku sejak lima tahun yang lalu karena aku berusaha menyelamatkan adikku dari serangan musuh nya. Apapun kesalahan adikku dia tetaplah adikku. Aku tidak mau terjadi sesuatu padanya. Madam Zola datang bersama putrinya yang terkesan angkuh, wajahnya tertutup topeng, dan ketika dia membuka topeng nya aku melihat perubahan wajah ibu ku menjadi pucat, seperti nya ibu pernah membuat masalah dengannya. Wajahnya tidak cantik, dia berdandan sederhana berbeda dari gadis konglomerat yang lain, dan jangan lupakan dia sangat dingin saat bicara memperkenalkan dirinya. Aku tidak peduli. Kami harus makan bersama dan aku jenuh sehingga pamit untuk pergi ke kamarku dan lagi - lagi adikku mencibirku, tapi saat aku kesulitan menggerakkan kursi roda ku gadis itu membantu ku, dan ia aku melihat senyum ramahnya di balik topeng yang dia pakai. itu senyum yang tulus, aku tahu itu. ketika sampai di kamar ku aku duduk di dekat pintu mendengar ayahku yang sedang membicarakan bisnis dengan Madam Zola dan gadis itu, ayahku mengatakan aku tidak berguna dan hanya Leonard yang bisa membantu nya, hatiku sakit....sakit sekali dan gadis itu membelaku, dia bahkan meninggal kan ruangan itu karena merasa sesak dengan ulah dan perkataan ayahku. Kami bertemu lagi di taman, dia terlihat ramah dan ceria mengatakan bahwa dia juga memelihara beberapa bunga, tapi aku tidak peduli dan meminta dia meninggalkan ku. Ia bersikeras tidak mau pergi sehingga aku terpaksa meninggalkan nya dan masuk ke kamarku. Seperti nya dia tersinggung dengan ulahku, tapi aku tidak peduli, aku takut dekat dengan nya karena dia mendekati ku, aku takut berharap banyak, tidak ada seorang pun yang mau berteman dengan orang cacat seperti ku. itu kata - kata ayah, ibu dan Leon kepadaku. dan aku percaya itu.
__ADS_1
Bella POV
Hari ini Arin mendandani ku dengan baju kasual yang sangat simpel, aku suka, aku bahkan membawa pistol dan juga belati. Aku suka sekali style ini. Madam Zola berkata kami akan pergi ke rapat dewan direksi. Rapat bersama grub RR yang merupakan perusahaan yang diambil alih oleh Madam Zola, ternyata pemilik RR grub adalah ayah dari wanita yang selalu memusuhiku. Yah dia adalah Tania Rahardian. Wanita yang merendahkan ku karena aku bekerja sebagai Barista di THM Zaphire. Seperti nya wanita itu memusuhi ku karena merasa aku telah merebut kekasihnya yang bernama Leonard Braco. Aduh....jika saja dia mau berterus terang aku akan bilang silahkan ambil pria hidung belang itu. Aku sama sekali tidak menyukai nya, dulu memang aku dekat dengan nya karena dia enak untuk di ajak ngobrol tetapi setelah kejadian dia hanya diam dan hanya menatap ku ketika aku di permalukan aku menjadi kehilangan rasa senang ku ngobrol dengannya. Setelah menyelesaikan rapat dengan dewan direksi RR grup kami melanjutkan perjalanan ke rumah keluarga Antares. Di sana kami akan membahas bisnis yang terbengkalai antara RR grup dan Antares grub. Tuan Antares memperkenalkan Anggota keluarga nya dia memiliki istri yang bernama Lia dan wanita itu yang pernah mempermalukan ku dan bilang aku memiliki pendidikan rendah. Tuan Antares memiliki dua orang anak dan tentu saja mereka semua tampan. Yang satu nya aku sudah mengenal nya siapa lagi kalau bukan Leonard Braco si play boy cap karung lambeh, dan yang satunya namanya Afraban, dia anak sulung tetapi kondisi nya lumpuh, dia duduk di kursi roda. Dia sangat dingin, aku tahu mengapa dia seperti itu mungkin karena ayahnya selalu merendahkan nya. Aku sangat kesal ketika Tuan Antares merendahkan salah satu putra nya itu. Aku merasa Dejavu dengan keadaan ku yang dulu, dimana Madam Zola sering menghukum ku dengan hukuman yang kejam. Hati dan fisik semuanya sakit. Aku Paham mungkin karena itu sehingga Afraban menjadi dingin dia bahkan menolak berteman dengan ku, katanya aku bisa ketularan sial. Yang benar saja. Aku hanya diam.