Air Mata Terakhir Istri Pertama

Air Mata Terakhir Istri Pertama
Masa lalu Lisna part 1


__ADS_3

Saat itu Lisna masih duduk di bangku SMA. Dia adalah siswa yang nakal dan terkenal suka menindas teman teman di sekolah yang sama dengannya. Karena dia merasa ditindas oleh keluarganya sendiri. jadi dia limpahkan perasaan sakit itu untuk menyakiti orang lain.


Selain itu, Lisna juga sangat bebas dalam pergaulannya di dunia malam. Meski hanya masuk bar, minum dan sekedar menari saja tampa terlibat dengan lawan jenis. Tetap saja gaya hidup seperti itu terlalu bebas untuk gadis seusianya.


Lisna pun akhirnya di tegur dan dimarahi habis habisan oleh mama dan papanya setelah mereka mendapat laporan kelakuan Lisna dari putri sulung mereka.


"Kamu itu mau jadi apa, Lis?" Teriak mamanya marah saat Lisna pulang larut malam dengan mulut bau alkohol dan masih memakai seragam sekolahnya.


"Dari dulu kerjaan kamu selalu membuat mama sama papa malu. Di sekolah menjadi pembuli, di luar sekolah menjadi wanita malam.. lebih baik kamu bunuh saja mama, nak."


Lita mulai menangis mengingat putri bungsunya itu sungguh membuatnya lelah.


"Lihat kakakmu, dia berprestasi sejak kecil. Tidak seperti kamu yang dikasih hati mintak jantung." Sambung Wira, papanya.


Lisna masih diam. Dia tidak seutuhnya mabuk, tapi dia hanya sedang berusaha mengendalikan diri agar tidak meledak saat mendengar kedua orangtuanya selalu membanding bandingkannya dengan kakaknya.


"Mulai hari ini, kamu tidak akan papa beri uang saku lebih. Kamu juga dilarang keluar rumah selain hanya ke sekolah." Wira menegaskan.


"Kamu harus belajar yang rajin, Lisna. Contohlah kakakmu. Tolong mama Lisna, mama malu sama tetangga yang menggosipkan kita. Mereka bilang mama sama papa yang tidak becus mengurus kamu. Padahal, kami sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk kamu, Lisna.." Celoteh Lita masih terus menangis.


Dia duduk di sofa bersampingan dengan suaminya. Lisna berdiri menunduk dihadapan mereka, sementara Lia kakaknya berdiri diam di depan pintu kamarnya.


"Apa kamu sudah benar benar menjadi wanita malam? Bagaimana rasanya enak?" Hardik Wira menuduh putrinya.


"Oh atau mereka memberi kamu uang lebih banyak dari yang papa berikan?" Menunjuk wajah Lisna.


Dia sudah kehabisan stok sabarnya saat dituduh melakukan hal menjijikkan yang tidak dia lakukan sama sekali, terlebih yang menuduh adalah papa kandungnya sendiri.


"Semua sudah aku berikan untuk membuat kamu merasa cukup Lisna. Tapi ternyata uangku masih kurang banyak dari uang para om om itu.."


"Stooopp papa." Teriak Lisna sangat lantang membuat Lia, Lita dan Wira terperanjat kaget.


"Kalian benar benar tidak punya perasaan. Setiap aku pulang kalian hanya membandingkan aku dengan kak Lia. Kalian tidak pernah menanyakan apa yang terjadi padaku, apakah aku terluka, apa aku baik baik saja? Pernah kalian menanyakan itu padaku?"

__ADS_1


Lisna diluar kendali. Wajahnya tampak sangat merah dan menyeramkan. Tangannya terus menunjuk wajah mama dan papanya tanpa henti.


"Sejak aku masih kecil, apa pernah kalian memelukku saat aku menangis? Tidak. Kalian malah mengatai aku cengeng dan membandingkan aku lagi dengan kak Lia yang tidak pernah menangis.."


"Lisna!" Hardik Wira marah.


"Apa? Papa mau memukulku? Silahkan pa, aku tidak takut sama sekali pada orang tua seperti papa yang tega menuduh putrinya sendiri sebagai wanita malam. Papa menjijikkan." Pekiknya.


Plaaakkk…


Satu tamparan mendarat di mulutnya. Pelakunya adalah mamanya. Mulut Lisna mengeluarkan darah dari bibirnya yang pecah.


Cuiihh…


Lisna meludah kelantai, sementara Lita menatap penuh rasa bersalah karena menampar putri bungsunya itu.


"Apa mama sama papa pernah memberikan waktu untuk sekedar mendengarkan ceritaku setiap aku pulang sekolah? Kalian tidak tahu kan, mengapa aku saat itu memukul wajah guru olahraga di sekolahku.."


"Kalian tidak mendengarkan penjelasanku, kalian hanya langsung menuduhku dan mengataiku anak tidak berguna. Kalian tidak tahu kan kenyataan bahwa bapak itu mencoba melecehkan aku, ma.. pa.." Air mata Lisna akhirnya tumpah.


Penjelasan Lisna membuat kedua orangtuanya terdiam dan merasa bersalah. Karena memang awal dari kenakalan Lisna bermula saat itu.


"Harusnya kalian memelukku, memberiku waktu untuk bicara. Tapi, kalian malah membandingkan aku, menuduhku, menyudutkan aku. Aku benci kalian!" Teriak Lisna sambil terisak.


"Aku tidak pernah berharap dilahirkan oleh orangtua seperti kalian.."


"Lisna, maafkan mama.."


Lita melangkah hendak memeluk Lisna, tapi dengan cepat Lisna melangkah mundur.


"Maafkan mama, nak!" Lita berlutut dihadapan Lisna, sedangkan Wira hanya menunduk mengingat semua perlakuan buruknya terhadap putri bungsu yang harusnya dijaganya dan dilindunginya dengan baik, bukan malah menuduh dan menanamkan rasa benci dalam dirinya.


"Aku berharap, semoga aku tidak punya orangtua seperti kalian…" Ucap Lisna berbisik pada dirinya sendiri sebelum akhirnya dia meninggalkan rumah itu.

__ADS_1


Hujan deras tidak menghalangi langkah Lisna untuk berjalan tanpa tujuan. Dia menangis terisak, merasa dirinya tidak berguna dan terbuang bahkan oleh keluarganya sendiri.


Lisna putus asa, dia sama sekali tidak tahu harus melakukan apa dan mau pergi kemana, hingga saat dirinya menyeberangi jembatan yang berdiri diatas jurang yang curam, pikiran kalap mendatanginya.


"Aku lebih baik mati. Tidak ada yang sayang padaku, bahkan kedua orangtuaku pun menuduhku dengan tuduhan keji. Aku benci mereka, aku benci diriku sendiri. Aku tidak mau hidup lagi."


Lisna memanjat jebatan itu, berdiri disana dengan masih bergantung erat pada bessi tiang jembatan.


"Hei, apa yang kamu lakukan nak?" Teriak seorang ibu ibu dari dalam mobilnya yang kebetulan melintas di jembatan itu juga.


Teriakan itu bisa didengar oleh Lisna, hanya saja dia tidak peduli. Karena hati dan pikirannya kini dikuasai amarah, rasa benci dan rasa tidak ingin hidup lagi.


Dengan cepat wanita seumuran mamanya itu keluar dari mobil dan berlari kearah Lisna, lalu tanpa aba aba menarik kuat pinggang Lisna hingga mereka jatuh ke aspal yang dingin.


"Lepaskan aku.. biarkan aku mati.. lepasss.." Lisna berontak.


"Tidak nak, kamu tidak boleh melakukan itu." Wanita itu memeluk erat tubuh Lisna mengelus punggungnya mencoba menenangkan gadis malang itu.


Saat itu seorang remaja berusia kira kira empat belas tahun turun dari mobil wanita yang kini memeluk erat tubuh basah Lisna. Remaja itu turun dengan membawa payung ditangannya dan satu payung lagi terbuka untuk melindunginya dari tetesan air hujan.


"Mama, hujannya deras." Teriak remaja itu sambil mengembangkan satu payung yang tadi dibawanya, lalu di payunginya mamanya yang memeluk Lisna.


"Lepaskan aku, biarkan aku matiii, tidak ada yang menyayangi aku. Aku benci dirikuu…"


Wanita itu terus mencoba menenangkan Lisna hingga akhirnya Lisna jatuh tak sadarkan diri dalam dekapan hangat wanita itu.


"El kakak ini pingsan nak, El bisa bantu buka pintu mobil, sayang?" Ujar wanita itu pada remaja yang ternyata adalah putranya.


"Iya, ma. Tapi payungnya?" Tanya El bingung, karena kedua tangannya memegang ganggang payung.


"Sini mama saja yang pegang payung sementara."


El memberikan satu payung pada mamanya untuk memayungi dirinya dan juga Lisna, sementara El melangkah mendekat ke mobil lalu membuka pintu bagian belakang mobil. Kemudian dia kembali untuk membantu mamanya memegang payung karena mamanya akan mengangkat tubuh tak sadarkan diri Lisna.

__ADS_1


__ADS_2