Air Mata Terakhir Istri Pertama

Air Mata Terakhir Istri Pertama
Ketahuan!


__ADS_3

Empat bulan kemudian.


Lisna tidak mengabarkan pada Mirna tentang dimana dirinya saat ini. Dokter Yumna pun diminta oleh Lisna untuk tidak memberitahu keberadaannya pada siapapun. Lisna juga mengganti nomor handphonenya, agar tidak terhubung dengan siapapun sementara waktu.


Namun, Lisna lupa. Ada satu manusia yang akan selalu mencari keberadaannya bagaimanapun caranya. Manusia itu kini berada di gedung yang sama dengan Lisna. Dia menyamar menjadi pasien yang akan konsultasi dengan dokter Yumna.


Tok…


Tok…


Lisna yang sedang menginput data pasien di dalam ruangan dokter Yumna merasa dikagetkan dengan suara ketukan di pintu.


"Siapa!" Serunya dari dalam.


Tidak ada jawaban yang ada malah terdengar suara ketukan lagi di pintu itu.


Mau tidak mau Lisna pun menghampiri, dia membuka pintu dan mendapati seorang pria berpakaian serba hitam lengkap dengan hoodie hitamnya, masker hitam dan topi hitam serta kaca mata hitam.


"Maaf, mas. Dokter Yumna tidak ada. Beliau akan tiba di sini sekitar empat jam lagi." Lisna menjelaskan.


Pria itu tidak peduli. Dia pun langsung masuk ke ruangan itu, membuat Lisna merasa kesal.


"Maaf mas, bisakah anda mematuhi peraturan! Anda datang saja empat jam lagi." Tegas Lisna.


Pria itu tidak merespon. Dia malah duduk di sofa konsultasi. Perlahan dia melepas kaca mata dan maskernya, lalu mendongak menatap kearah Lisna.


"Elang!" Seru Lisna kaget.


Dia tidak menyangka bocah itu bisa menemukannya yang sudah susah payah bersembunyi dari semua orang selama empat bulan terakhir.


"Hah, kak Lisna tidak bisa bersembunyi dariku." Ujarnya santai.


Lisna melangkah kembali ke meja kerjanya yang ada di sudut ruangan itu.


"Apa kamu datang untuk menagih cicilan motor yang aku lewatkan bahkan sampai empat bulan?"


"Kakak selalu saja berpikiran buruk padaku."


"Lalu kalau bukan itu, mau apa kamu mencariku sampai ke sini, Elang Pratama Putra?"


"Mmm, aku datang mau menawarkan pekerjaan untuk kak Lisna."


"Aku sudah punya pekerjaan El. Kamu tidak melihatku? Aku sedang bekerja sekarang."


Elang melangkah mendekati Lisna. Dia berdiri tepat didepan meja kerja Lisna yang kecil itu. Elang menutup tiba tiba layar laptop Lisna yang berhasil membuat Lisna marah padanya.


"Apa apaan kamu, El.."


"Ups sorry." El mengakat kedua tangannya.


Lisna menghela napas, dia berdiri dan menatap tajam Elang yang malah tersenyum manis padanya.

__ADS_1


"Apa yang kamu inginkan dariku, El?"


"Bekerjalah di perusahaan."


"Untuk apa?"


"Ya, kakak harus mempunyai pekerjaan yang bagus supaya bisa membalas dendam pada mantan suami kakak."


"Aku tidak tertarik untuk membalas dendam pada siapapun."


Lisna kembali duduk. Dia membuka lagi layar laptopnya dan menyalakannya kembali, Elang pun menutup lagi layar laptop itu. Lisna membukanya lagi dan Elang menutupnya lagi.


"Cukup El. Kamu menyebalkan." Bentak Lisna benar benar kesal atas tingkah kekanakan Elang.


"Ya makanaya, ayok kerja di perusahaan. Jadilah sekretarisku kak."


"Tidak."


"Kak, aku mohon?" El merengek.


"Sudah aku katakan, aku nyaman bekerja di tempat ini, El. Jadi tolong jangan mengganguku. Please!" Kali ini Lisna yang memohon pada Elang untuk tidak mengganggunya terus menerus.


El menatap sorot mata Lisna yang menyiratkan bahwa dia benar benar masih butuh waktu untuk sendirian. Mau tidak mau, El akhirnya mengalah untuk meninta Lisna bekerja di perusahaan milik papanya.


Tanpa pamit lagi, El kembali memakai masker dan kaca matanya, lalu dia keluar dari ruangan itu begitu saja. Lisna juga hanya bisa menatap kepergian bocah itu tanpa berniat menghentikan atau mengejarnya.


*


*


*


Benar saja, tidak lama mereka sampai, Fauzi dan Wulan juga tiba di rumah mama.


"Halo Yuni. Ya ampun, kamu cekatan banget. Kalau aku dulu waktu Queen berusia sebulan, aku masih rebahan." Wulan kagum pada adik iparnya yang sangat segar padahal belum empat puluh hari setelah melahirkan.


"Aku tidak tahan ingin memperlihatkan bayiku pada kalian." Jawab Yuni.


Mereka melangkah masuk untuk menemui bayi Yuni yang digendong oleh mama mertuanya.


"Halo cantik!"


Wulan gemas menyapa bayi cantik yang baru berumur sebulan itu.


"Halo tante." Yuni mewakili putri kecilnya menjawab sapaan Wulan.


"Kamu sehat, sayang?" Tanya Fatimah pada Wulan.


"Sehat ma. Calon cucu mama juga sehat."


Fatimah menyentuh permukaan perut Wulan yang sudah tampak membesar.

__ADS_1


Sementara para istri mengobrol dengan mama, Firman mengajak Fauzi untuk berbincang di depan rumah.


"Ada apa Fir? Tumben mengajak ngobrol di sini. Biasanya juga ngobrol didalam." Tanya Fauzi curiga.


Sebelum bicara Firman memastikan tidak ada orang yang akan menguping pembicaraan mereka.


"Mas serius sudah menceraikan mbak Lisna?"


"Iya. Surat cerainya akan keluar minggu depan." Jawab Fauzi tegas dan jelas.


"Mas tega melakukan itu sama mbak Lisna. Dia sangat baik mas. Apa mas lupa bagaimana sabarnya mbak Lisna membanting tulang untuk menafkahi mas Fauzi?" Rutuk Firman kesal atas keputusan kakaknya yang setuju menceraikan Lisna.


"Jangan menuduhku saat kamu tidak tahu kejadian yang sebenarnya Firman."


Kalimat itu membuat Firman tambah kecewa sama kakaknya itu.


"Aku kecewa sama kamu, mas. Brengsek kamu mas. Tega."


"Terus saja mengataiku jika itu membuat kamu merasa lega."


"Apa salah mbak Lisna, mas? Mentang mentang mas sudah punya pekerjaan, istri kaya dan juga akan segera menjadi ayah, mas langsung membuang mbak Lisna begitu saja." Maki Firman benar benar kesal pada kakaknya itu.


"Cukup Firman. Aku tahu aku bajingan brengsek yang hanya bisa menyakiti hati perempuan. Tapi, setidaknya kamu juga harus tahu,Fir. Aku menceraikan Lisna bukan karena aku ingin menceraikannya.."


"Bohong." Sahut Firman geli mendengar penuturan kakaknya.


"Aku tidak bohong, Firman. Aku terpaksa menceraikan Lisna demi masa depan dan kehidupan yang lebih baik untuknya." Sambung Fauzi.


Bukannya percaya, Firman malah mengejek Fauzi. Dan Fauzi tidak terima diejek seperti itu oleh adiknya.


"Aku sungguh benar benar pria brengsek yang tidak mau mendengarkan penjelasan Lisna. Aku terhasut tuduhan Wulan yang mengatakan Lisna selingkuh. Karena kalap, aku marah sama Lisna dan sempat memukulnya.."


"Mas sampai memukul mbak Lisna?"


"Dengarkan dulu ceritaku, Fir!" Teriak Fauzi yang tidak suka Firman memotong ucapannya.


"Baik aku dengarkan."


Sebentar Fauzi menghela napas.


"Aku tidak sadar saat aku memukul Lisna. Aku tidak sadar bahwa aku telah melukainya. Aku hanya terlalu emosi melihat foto foto Lisna bersama pria lain di handphone Wulan. Lisna meminta cerai, dia meminta aku melepaskannya, Fir. Karena itulah aku menegaskan padanya bahwa aku tidak akan pernah menceraikannya. Tapi, Lisna malah menantang. Dia berencana untuk mengajukan gugatan cerai padaku. Aku hancur saat itu, Firman. Duniaku seakan telah kiamat."


Firman mengusak wajahnya kesal mendengar pengakuan kakaknya.


"Lisna meninggalkan rumah. Aku hendak menyusulnya dan membujuknya tapi Wulan menghentikan aku. Wulan mengancam akan memerintahkan seseorang untuk menyingkirkan Lisna jika aku tidak mau menceraikan Lisna."


"Apa? Mbak Wulan sejahat itu?"


"Aku baru tahu Wulan ternyata sejahat itu, Fir. Tapi, aku tidak punya pilihan. Aku menceraikan Lisna untuk menjauhkannya dari niat jahat Wulan."


Firman tidak habis pikir. Wulan yang tampak baik ternyata punya sisi gelap yang mengerikan.

__ADS_1


"Aku melepaskan Lisna untuk menyelamatkannya. Aku bertahan dengan Wulan untuk menyelamatkan anakku, buah hatiku yang ada dalam rahim Wulan, Firman. Tolong, jangan terlalu membenciku."


__ADS_2