Air Mata Terakhir Istri Pertama

Air Mata Terakhir Istri Pertama
Jatuh miskin


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


Fauzi yang tidak mendapat jatah ranjang dari istrinya dengan alasan karena sedang hamil besar, menjadi sangat tidak mood untuk mengerjakan semua pekerjaannya di kantor. Sementara, Wulan bermalas malasan di rumah, karena memang Fauzi yang memintanya untuk tidak bekerja selama masa kehamilan.


Saat mengecek laporan keungan, fokus Fauzi juga tidak tertuju seutuhnya pada lembar lembar kertas laporan itu. Sehingga Fauzi menandatangani laporan palsu yang sengaja di buat oleh direktur keuangan untuk menjebak Fauzi melakukan penggelapan dana proyek di Batam.


"Terimakasih banyak pak Fauzi." Ucap pria itu senang.


"Ya. Apa masih ada laporan yang harus saya periksa lagi?"


"Tidak pak."


"Ya sudah kalau begitu silahkan keluar."


"Baik pak."


Pria itu keluar dengan perasaan bahagia. Karena dalam waktu dekat, Fauzi akan segera ditindak lanjuti oleh presiden pemilik asli perusahaan yaitu paman Wulan yang dimandati oleh almarhum papa Wulan untuk menjadi pemegang utuh perusahaan sebelum menyerahkan pada Wulan.


Hari hari berlalu begitu cepat. Hubungan rumah tangga Fauzi dengan Wulan terasa semakin renggang. Seakan Wulan sengaja memberi jarak antara mereka. Fauzi tidak mengerti mengapa Wulan selalu mengabaikannya dengan alasan kehamilannya.


"Mas harusnya paham dong, aku sedang hamil. Aku capek mas, dan aku nggak mood untuk melayani kamu, mas." Celoteh Wulan kesal karena Fauzi terus mencoba menyentuhnya.


"Aku suami kamu Wulan. Sudah hampir dua bulan kamu tidak memberikan izin padaku untuk menyentuhmu. Apa kamu jijik padaku? Oh atau kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" Fauzi meninggikan suaranya.


Wulan tidak suka di bentak. Dia menatap tajam wajah Fauzi dengan perasaan penuh amarah.


"Dasar laki laki, yang ada di otaknya cuma itu itu itu saja terus. Tidak pernah mau mengerti."


"Kamu yang tidak mau mengerti aku, Wulan." Tunjuk Fauzi.


"Ya, aku memang tidak bisa mengerti kamu. Yang mengerti kamu itu cuma Lisna, Lisna, Lisna saja.."


"Jangan mengungkit wanita lain dalam masalah kita Wulan."


"Kenapa mas, kamu tidak suka aku mengungkit istri terbaik kamu itu?"


"Kamu kenapa sih Wulan? Aku tuh capek, setiap hari kerja cari uang. Pulang pulang bukannya dapat sentuhan lembut dari kamu sebagai istriku, aku malah mendapat perlakuaan seperti ini dari kamu."

__ADS_1


Fauzi yang khawatir akan berakhir memukul Wulan, akhinya keluar dari kamar. Dia memilih tidur di sofa ruang tengah.


Dan Wulan, dia akhirnya menangis. Dia memang tampak berbeda saat setelah dia berhasil mengusir Lisna. Dia pikir setelah menjadi satu satunya istri Fauzi, rumah tangga mereka akan bahagia. Nyatanya Wulan malah merasa Fauzi bukan yang dia ingkan untuk menjadi suaminya.


Menatap Fauzi saja sudah membuatnya malas. Apa lagi harus melakukan hubungan suami istri. Sungguh Wulan sudah merasa bosan.


"Aaaagarrhhkk…" Teriaknya merasa kesal pada dirinya sendiri tanpa alasan yang pasti.


Fauzi mencoba memejamkan matanya dan memekakkan telinganya dari teriakan Wulan. Dia ingin mengabaikan Wulan seperti Wulan juga terus terusan mengabaikannya.


Sementara itu, di sudut jauh pedesaan. Di gubuk bambu, mantan suami Wulan sedang berkonsultasi dengan seorang dukun. Dia meminta mbak dukun itu untuk menghancurkan rumah tangga Wulan.


"Dia itu istri yang sangat saya cintai dulunya, mbah. Kami menikah karena dijodohkan orangtuanya. Setahun pertama kami menikah aku pikir Wulan memang sudah bisa menerimaku sebagi suaminya. Ternyata, diam diam dia masih suka mencari tahu tentang mantan pacarnya yang sekarang menjadi suaminya." Tutur mantan suami Wulan pada mbak dukun.


"Aku tidak ingin membuat mereka langsung berpisah. Tapi, aku ingin mereka tetap hidup bersama tapi setiap harinya selalu bertengkar."


Mbak dukun itu pun mengangguk memahami apa yang diinginkan pelanggannya.


*


*


*


Fauzi di gerbek di rumahnya atas tuduhan penggelapan sejumlah uang perusahaan. Bukti bukti juga menunjukkan Fauzi melakukan penggelapan uang atas perintah Wulan. Sehingga mereka berdua hendak di seret ke penjara.


"Aku tidak pernah memerintahkan mas Fauzi melakukan penggelapan uang, Om!" Teriak Wulan membantah tuduhan.


"Lalu, bagaimana kamu menjelasakan bukti bukti ini, Wulan?" Tanya Pamannya yang turun langsung untuk mengadili Wulan dan Fauzi.


"Aku tidak tahu apa apa, om. Aku cuti selama masa kehamilanku." Jawab Wulan.


Fauzi hanya diam. Dia tidak tahu harus mengatakan apa.


"Mas, kenapa kamu diam saja? Kamu kan yang sengaja melakukan ini seakan aku yang meminta kamu…"


"Jangan asal menuduhku Wulan. Aku tidak serakus itu dengan uang." Protes Fauzi.

__ADS_1


"Om, aku mohon, tolong percaya sama aku. Aku tidak mungkin melakukan semua tuduhan ini, om."


Wulan berlutut dihadapan pamannya dan Fauzi pun ikut berlutut bersama Wulan.


"Om aku akan membayar semua kerugian perusahaan. Om bisa ambil rumah, mobilku dan semuanya om. Tapi aku mohon jangan penjarakan aku om. Aku sedang hamil besar, dua minggu lagi aku akan melahirkan.. aku mohon om."


Wulan sungguh sungguh bermohon dihadapan pamannya itu. Hal itu berhasil membuat hati pamanya merasa iba.


"Baiklah. Om tidak akan membawa kasus ini ke pengadilan. Tapi sebagai hukumannya, kamu dan suami kamu dipecat dari perusahaan. Dan segera tinggalkan rumah ini termasuk mobilmu."


Pamannya segera meninggalkan Wulan dan Fauzi yang berlutut terdiam mengenang nasib mereka yang tiba tiba jatuh miskin dalam waktu singkat.


Fauzi sebagai suami langsung memeluk Wulan, dan hari itu Wulan pun merasa butuh pelukan hangat dari suaminya yang selama beberapa bulan terakhir dia abaikan.


"Maafkan aku, mas." Isak Wulan menangis dalam dekapan Fauzi.


"Aku juga minta maaf, sayang. Maafkan aku tidak bisa mempertahankan semua hak milikmu."


Tidak ingin berlarut dalam kesedihan, Wulan menghubungi mamanya dan menceritakan apa yang terjadi padanya. Bukannya mendapat dukungan, mamanya malah memberi Wulan pilihan.


"Kalau kamu mau kembali sama mama, ceraikan suami tidak berguna kamu itu. Tapi, kalau kamu tidak mau berpisah dengan laki laki itu, maka jangan harap kamu bisa menemui Queen dan juga mama lagi."


"Tapi, ma.."


Wulan tampak sedih, dia menatap wajah Fauzi yang tampak putus asa.


"Aku tidak akan meninggalkan mas Fauzi, ma. Aku butuh mas Fauzi sebagai ayah dari anakku." Jawab Wulan.


Fauzi melirik pada Wulan saat Wulan mengatakan itu pada mamanya melalui sambungan telepon.


"Tidak apa jika kamu tidak memilihku, Wulan. Kamu harus hidup bahagia bersama anak kita."


"Tidak mas. Aku tidak akan menukar apapun lagi, saat ini yang aku butuhkan hanya kamu dan anak kita, mas."


Fauzi terharu mendengar pengakuan Wulan, dia kira Wulan akan meninggalkannya dalam situasi seperti ini. Ternyata Wulan memilihnya.


Segera saja Fauzi menarik tubuh Wulan masuk dalam dekapannya.

__ADS_1


"Sementara kita akan tinggal sama mama. Aku janji, aku akan mencari pekerjaan. Aku tidak akan menyia nyiakan kamu dan anak kita, sayang." Bisik Fauzi di telinga Wulan.


Mereka menangis haru saling berpelukan. Sepertinya jampi jampi dari mbak dukun yang disewa mantan suami Wulan sudah tidak mempan pada pasangan itu. Buktinya kini mereka saling berpelukan hangat penuh haru dan penuh cinta.


__ADS_2