
Lima bulan kemudian.
Lisna hamil lagi. Padahal putra mereka baru berusia lima bulan. Tentu saja Elang dan Lisna senang. Meski memang Elang sedikit khawatir. Takut dia tidak punya banyak waktu untuk menjaga putra kecilnya, menjaga istrinya dan menjaga calon bayinya.
Tapi tenang meski banyak drama yang terjadi dengan keluarga kecil itu, mereka tetap selalu saling bergandengan tangan tanpa pernah saling menyalahkan satu sama lain.
Lisna akhirnya meyewa pembantu untuk membersihkan rumah, memasak dan mencuci pakaian. Karena dia hanya akan fokus mengurus bayinya, dirinya dan juga kandungannya.
Semua dijalani Lisna dengan baik. Tidak pernah sekalipun bertengkar dengan Elang. Dan mau serewel apapun bayinya, Lisna tidak pernah mau meminta bantuan baby sitter untuk membantu mengurus bayinya. Bahkan saat kadang si kecil sakit, Elang yang akhrinya cuti kerja membantu Lisna merawat bayi mereka.
Putra pertama mereka itu bernama Emilio Pratama. Sangat aktif dan tampak mirip dengan Lisna dari wajah dan juga sifat penyabarnya.
Waktu terus berlalu. Kini si kecil Lio sudah bisa jalan dan Lisna sudah melahirkan lagi. Anak kedua mereka juga seorang putra dan Lisna melahirkan normal juga.
Putra kedua diberi nama Evandio Pratama. Putra kedua tidak pernah rewel sama sekali. Dan tidak pernah menyusahkan Lisna atau pun Elang. Terlebih Lio sagat menyayangi adiknya Dio, walau terkadang memang masih suka cemburu saat Lisna ataupun Elang memberi perhatian lebih pada Dio karena memang Dio masih bayi.
__ADS_1
Sejarah kembali terulang. Saat Dio berusia lima bulan. Lisna hamil lagi. Dan kali ini keduanya jadi lebih santai menghadapi kehamilan Lisna. Tapi, Lisnanya yang tidak bisa santai.
Di kehamilan ke tiga ini, Lisna mengalami muntah mual di pagi hari selama tiga bulan pertama. Sehingga membuat Dio kurang perhatian darinya. Tapi meski begitu, Dio tidak pernah rewel karena ada Lio yang menjaganya.
Waktu tidak terasa. Akhirnya Lisna melahirkan lagi. Harapan mereka kali ini Lisna akan melahirkan seorang putri. Mereka tidak melakukan usg sama sekali dan memutuskan untuk operasi kali ini. Lisna masih trauma dengan rasa nyilu saat melahirkan kedua putranya dengan normal.
Elang menunggu dalam keadaan was was. Sementara mama dan papanya sibuk menggendong Lio dan Dio yang terus memanggil mama mereka.
Tidak berapa lama kemudian dokter memberitahukan bahwa Lisna telah melahirkan seorang putra lagi. Elang awalnya tampak kecewa tapi dia sadar bahwa apapun jenis kelamin anaknya asalkan anak dan istrinya sehat sudah cukup untuknya.
Kini lengkaplah sudah keluarga itu. Elang dan Lisna sudah memiliki tiga orang putra yang luar biasa tampannya. Putra pertama Lio mirip sekali dengan Lisna. Putra kedua Dio, perpaduan antara Lisna dan Elang. Putra ke tiga mereka lebih mirip Elang dan mereka beri nama Eskai Pratama.
Waktu berlalu begitu cepat. Tidak terasa kini Lio sudah berusia tiga tahun, Dio berusia dua tahun dan Kai berusia satu tahun sedang suka sukanya berjalan mengikuti kakak kakaknya.
Lio putra pertama sangat pendiam apabila dihadapan banyak orang asing, dia juga pemalu, tapi sangat cerewet pada kedua adiknya dan juga orang orang terdekatnya. Sedangkan Dio super random, kocak dan suka membuat orang orang di sekitarnya tertawa karena tingkahnya. Sementara si bungsu Kai sesuai namanya Eskai benar benar menjadi anak yang dingin, pendiam dan hanya suka mengamati kakak kakakanya. Malas berdebat dan tidak terlalu aktif seperti Dio.
__ADS_1
"Mas, apa mas masih ingin punya anak lagi?" Tanya Lisna saat mereka duduk sambil menatap ketiga putranya yang bermain diatas rumput halaman depan rumah.
"Terserah sayang. Kalau mas sih ada anak satu saja sudah senangnya luar biasa. Apa lagi sayang sudah memberikan tiga jagoan dalam waktu berdekatan. Bahagianya mas sungguh luar biasa tak ternilai."
"Sebenarnya aku ingin anak perempuan satu saja lagi. Tapi, aku rasa tiga cowok saja sudah cukup. Alhamdulillah."
Elang tersenyum menanggapi istrinya. Lalu di peluknnya erat tubuh wanita yang telah memberinya tiga jagoan sekaligus, jagoan yang sangat menggemaskan.
"Mas lihat mereka!" Teriak Lisna khawatir saat Lio hampir jatuh dari kursi.
Tapi dengan cepatnya Dio menarik tangan kakaknya dan Kai menarik kaki Dio agar tidak menimpa tubuh Lio.
Brukkk…
Ketiganya jatuh saling menghimpit. Lio hampir menangis, tapi Dio malah memperlihatkan hidungnya yang terkena cream stobery dan hidungnya terlihat seperti badut. Hal itu membuat Lio yang hampir menangis malah tertawa lucu melihat hidung Dio. Kai juga ikut tertawa sambil berusaha menghapus lumpur dihidung kakaknya.
__ADS_1
"Menggemaskan." Ujar Lisna dan Elang menatap tingkah ke tiga putranya.
Semoga kita selalu bahagia seperti ini sampai kapanpun ya mas. Aku harap anak anak juga akan memiliki ikatan kasih sayang yang erat sehingga mereka akan saling melindungi satu sama lain sampai kapanpun.