Air Mata Terakhir Istri Pertama

Air Mata Terakhir Istri Pertama
Belum bisa melupakan


__ADS_3

Lisna nyaman tinggal di tempat tinggal barunya. Sungguh nyaman. Sayangnya kulkas masih kosong. Jadi Lisna belum bisa memasak apapun untuk sementara waktu.


Berhubung Elang tidak ada jadwal hari ini, Lisna putuskan untuk berbelanja kebutuhan bulanannya. Meski belum digaji oleh Elang, Lisna masih punya sisa uang tabungannya saat bekerja dengan dokter Yumna.


Lisna juga berencana menjemput pakaiannya di tempat dokter Yumna. Karena ternyata dia hanya punya satu satunya pakaian yang ada di badannya.


Drrriiiittttt…


Handphone Lisna berdering. Panggilan masuk dari nomor yang tidak di kenalnya. Awalnya Lisna mengabaikannya, tapi panggilan itu berkali kali, membuatnya berpikir mungkin ada hal yang penting yang ingin disampaikan pemilik nomor asing itu.


"Assalamualaikum, halo!"


"Lisna? Apa ini Lisna?"


Suara itu, Lisna masih sangat mengenal suara itu.


"Mas Fauzi?"


"Iya, Lis. Ini aku. Maaf mengganggu kamu, tapi bisakah kita bertemu?"


"Dari mana mas Fauzi mendapat kontak saya?"


"Itu tidak penting, Lis. Aku mohon, bisakah kita bertemu?"


"Untuk apa bertemu, kalau ada yang penting ingin mas sampaikan, katakan saja sekarang." Jawab Lisna tegas.


"Lis, mama sakit. Sekarang mama dirawat dan aku butuh uang untuk membayar biaya rumah sakit mama.."


"Oh jadi maksudnya mas menelpon mau pinjam uang?" Tebak Lisna judes.


"Aku tahu aku salah, Lis. Tapi aku mohon, tolong bantu aku Lisna. Wulan juga di rumah sakit sekarang, dia akan melahirkan dan aku tidak punya uang sepeserpun." Tutur Fauzi mengiba ngiba pada Lisna.


"Aku juga tidak punya uang lebih untuk diberikan pada kalian mas. Toh kalian kan orang kaya.."


"Tidak lagi Lisna. Aku sama Wulan di fitnah, kami dipecat dari perusahaan. Sekarang kami tidak punya apa apa lagi, tolong aku Lisna.."


"Maaf mas, aku tidak bisa. Toh mas Fauzi masih bisa meminta bantuan sama Firman dan Yuni. Jangan padaku."


"Ung mereka tidak cukup, Lis. Aku mohon, hanya kamu yang bisa menolong kami saat ini."


"Tidak mas. Maafkan aku."


Lisna menutup panggilan itu dan memode pesawatkan handphone-nya.


"Terserah. Aku tidak peduli." Gumanya.


Lisna melanjutkan rencanaya untuk pergi berbelanja kebutuhan dapur dan juga menjemput pakaiannya di tempat dokter Yumna.


Tapi, hati Lisna berbalik balik. Rasanya dia terlalu jahat jika membiarkan mantan suaminya yang sedang dalam masalah besar.


"Astaghfirullah, apa yang harus aku lakukan?"


Akhinya Lisna bergegas menuju rumah sakit yang tadi sempat di katakan oleh Fauzi. Lisna memang tidak punya cukup uang untuk membantu, tapi setidaknya dia ingin melihat bagaimana kondisi mama mertuanya itu yang katanya sakit parah.


Lisna ke rumah sakit dengan naik taksi. Tapi sebelum berangkat tadi, Lisna sudah mengirim pesan pada Elang bahwa dia akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk mantan mama mertuanya.


Tidak lama kemudian, Lisna tiba di rumah sakit. Dia melihat Fauzi, Firman dan Fitri berdiri di koridor rumah sakit dengan wajah sedih.

__ADS_1


"Mbak Lisna!" Seru Firman yang pertama kali melihat Lisna.


Lisna melangkah mendekati mereka. Dia langsung memeluk Fitri yang tampak menangis.


"Mama mbak. Mama sakit parah." Rengek Fitri mengadu pada Lisna.


"Mbak Lisna sehat?" Tanya Firman.


"Alhamdulillah sehat."


Fauzi terdiam melihat kearah Lisna yang memeluk Fitri.


Sungguh Lisna berhati luas. Meski sudah disakiti, dia masih mau perduli.


"Apa Wulan di dalam?" Tanya Lisna pada Firman.


Lisna hanya asal menebak, karena dia melihat ruangan di depan Fauzi berdiri adalah ruangan bersalin.


"Iya mbak."


"Operasai sesar?" Tanya Lisna lagi.


"Iya, mbak. Bayinya melintang dan terlilit tali pusar." Jawab Firman menjelaskan.


"Semoga operasinya berjalan lancar." Gumam Lisna.


"Terimakasih Lisna." Ucap Fauzi menoleh pada Lisna.


Sebenarnya dia sangat malu menghadapi Lisna, tapi dia tidak punya pilihan selain minta bantuan pada Lisna.


*


*


*


Wulan masih belum seutuhnya pulih. Dia terbaring lemas di ranjangnya dengan wajah yang sangat pucat.


"Sayang.. bayi kita telah lahir." Bisik Fauzi di telinga Wulan.


Lisna rasanya males melihat kemesraan sepasang suami istri itu, hingga membuatnya minta diantar ke ruangan mantan mama mertuanya.


"Fit, antar mbak ke ruangan mama yuk." Ajak Lisna.


Fitri mengikut saja. Mereka pun meninggalkan Fauzi dan Wulan berdua saja, sementara Fitri, Firman dan Lisna pergi untuk menjenguk Fatimah.


Setibanya di ruangan poli umum tempat Fatimah dirawat, Lisna hanya bisa melihat wajah pucat Fatimah yang tidak sadarkan diri terbaring di ranjang itu.


"Mama sakit apa, Fit?" Tanya Lisna.


Dia menggenggam erat tangan yang terasa sejuk itu.


"Dokter cuma bilang, asam lambung mama naik. Tapi, mama sudah seperti ini sejak empat hari ini, mbak. Mama tidak pernah bangun." Tutur Fitri.


"Nanti sore mama sudah disuruh bawa pulang, karena kita tidak punya cukup uang lagi untuk membayar biaya rumah sakit." Tutur Firman.


Lisna tidak menjawab. Dia juga tidak punya uang untuk membantu membayarkan.

__ADS_1


"Ma, cepat sembuh ya. Cucu yang mama nantikan sudah lahir. Dia tampan ma, sepeti mas Fauzi." Bisik Lisna di telinga Fatimah.


Kalimat yang keluar dari mulut Lisna barusan membuat Fitri dan Firman merasa terharu.


"Maafkan kesalahan mama ya, mbak. Mama terlalu egois sampai sampai tega menyakiti mbak Lisna." Firman mewakili permintaan maaf dari mamanya.


"Yang telah lalu biarlah berlalu, Firman. Aku ikut bahagia karena mas Fauzi akhirnya bisa memberikan cucu untuk mama. Dan mama juga pasti sangat bahagia, karena cucu dari anak pertamanya telah lahir."


Tangan Fatimah bergerak. Tangan lemah itu menggenggam erat tangan Lisna. Matanya juga mulai terbuka.


"Mama?" Firman mendekati mamanya.


"Lisna…"


Fatimah justru menyebut nama Lisna lebih dulu dibanding anak anaknya.


"Mama!" Fitri pun mendekat dan mengelus lembut kepala mamanya.


"Lisna… maafkan mama, nak." Ucap Fatimah terbata.


Tidak terasa mata Lisna berkaca kaca. Dia merasa iba pada mama mertuanya, tapi hati Lisna juga masih sakit mengingat bagaiaman mama mertuanya selalu menggapnya menantu yang tidak subur dan tidak bisa memberinya cucu.


"Maafkan mama, Lisna…"


"Iya, ma. Aku sedang berusaha untuk memaafkan mama, jadi, mama harus sembuh dan harus melihat sendiri bagaimana nanti saat aku benar benar sudah bisa memaafkan mama." Ujar Lisna sambil menahan tangisnya.


"Maafkan mama…"


Lisna hanya mengangguk. Lalu, dia meminta Firman untuk duduk di samping mamanya.


"Mbak mau kemana?" Tanya Firman.


"Aku harus pergi, Firman. Aku ada pekerjaan." Lisna menatap sekali lagi wajah Fatimah yang juga menatap padanya.


"Oh iya, Fir. Ini aku ada sedikit uang. Terimalah, walau mungkin tidak akan cukup, tapi aku ikhlas kok."


Lisna memberikan uang senilai tiga juta, sisa tabungannya. Dia berikan semuanya sama Firman secara cuma cuma untuk biaya rumah sakit Fatimah.


"Tidak usah mbak. Nanti mbak Lisna bagaimana?" Tolak Firman.


"Aku sudah punya pekerjaan, jadi gunakan saja uangnya."


Lisna pergi. Dia benar benar keluar dari ruangan itu dan ternyata Fauzi menunggunya.


"Lisna."


"Mas Fauzi!" Lisna agak terkejut saja karena Fauzi menunggu di depan ruangan itu.


Tiba tiba Fauzi berlutut dihadapan Lisna.


"Apa yang kamu lakukan, mas?"


"Maafkan aku Lisna. Aku sungguh minta maaf." Fauzi menangis memohon maaf dari Lisna.


"Sudahlah mas, aku sudah melupakan semuanya. Jadi, jangan berlebihan seperti ini."


Lisna meminta Fauzi kembali berdiri, tapi Fauzi tidak mau. Sehingga Lisna pergi saja dari hadapan Fauzi tanpa memperdulikan Fauzi yang masih memohon maaf darinya.

__ADS_1


Aku sudah mengikhlaskan apa yang memang sudah ditakdirkan untukku. Tapi, aku belum bisa melupakan bagaimana rasa sakit yang kalian berikan untukku. Maaf aku tidak akan bisa menjadi seperti dulu lagi terhadap kalian.


__ADS_2