Air Mata Terakhir Istri Pertama

Air Mata Terakhir Istri Pertama
Mantan pacar


__ADS_3

Setelah pertandingan, Elang sibuk memperhatikan Lisna yang tidak bisa di temukan oleh matanya keberadaan wanita itu.


Kemana kak Lisna, ya?


Disti yang melihat Elang celingukan seperti orang bingung pun menghampirinya.


"El, ada apa?"


"Eh Dis, aku lagi cari kak Lisna. Kamu lihat nggak?"


"Oh kak Lisna di mushola." Jawab Disti.


Ya tadi dia melihat Lisna melangkah menuju mushola saat dia mau ke toilet.


"Mushola ya."


"Iya."


"Ya sudah, aku nyusul kak Lisna dulu ya. Bye…"


Elang langsung berlari meninggalkan Disti yang masih setia menatap kepergian Elang.


"Sepenting itukah seorang manejer sampai di susul ke mushola." Gumam Disti yang memang sejak awal curiga kalau Lisna bukan hanya sekedar menejer saja bagi Elang.


Saat El hampir tiba di mushola, rupanya Lisna sudah selesai dan mereka berpapasan tidak jauh dari mushola.


"Sudah sholatnya kak?"


Lisna mengangguk.


"Ya sudah, kalau gitu aku ganti baju bentar. Setelah itu kita pergi makan."


Lagi lagi Lisna mengangguk. Ditatapnya langkah El yang menuju toilet di samping mushola.


"Kak Lisna!"


Itu suara Disti. Rupanya dia mengikuti El tadinya.


"Iya." Jawab Lisna singkat sambil tersenyum.


"Aku Disti, mantan pacarnya Elang."


Disti mengulurkan tangannya untuk menperkenalkan siapa dirinya pada Lisna.


"Hai, Disti." Sambut Lisna senang.


"Sudah berapa lama kak Lisna menjadi menejernya Elang?"


"Baru hari ini."


"Oh wajar.."


"Maksdunya?"


"Ya wajar kalau kak Lisna belum tahu siapa aku sebenarnya bagi Elang."


Lisna mengangguk saja menanggapi ocehan gadis yang mungkin enam tahun lebih muda darinya.


"Kak Lisna jangan pernah berani menaruh rasa suka sama Elang. Karena itu tidak mungkin Elang balas. Yah, aku sama El memang sudah putus, tapi asal kak Lisna tahu, aku mantan terindah bagi Elang. Dan dia masih belum bisa melupakan aku."


Senyum terlihat di wajah Lisna, tepatnya senyum menahan rasa ingin tertawa karena ocehan Disti membuat perutnya terasa geli.

__ADS_1


"Kamu tidak usah khawatir, Disti. Saya ini sudah tua dan saya juga tidak tertarik sama bocah bocah seperti Elang. Jadi tidak usah khawatirkan saya." Jawab Lisna santai.


"Disti!"


Suara Elang memanggil nama Disti menghentikan pembicaraan mereka berdua. Serentak saja keduanya menoleh kearah Elang bersamaan.


"Kamu ngapain disini?" Tanya Elang sambil memberikan seragam bolanya pada Lisna.


"Nggak kok, aku cuma menyapa kak Lisna saja. Tadi belum sempat kenalan, iya kan kak?"


"Iya."


"O gitu. Jadi sekarang sudah saling kenal, kan?" Elang menatap bergantian Lisna dan Disti yang dibalas anggukan dan senyuman oleh mereka berdua.


"Kalau begitu, aku sama kak Lisna mau makan malam. Kamu mau ikut?" Tanya Elang pada Disti.


"Memang boleh?"


"Ya boleh dong, Disti. Sudah yok kita berangkat."


Elang menarik tangan Disti untuk melangkah bersamaan dengannya, sementara Lisna mengekor saja di belakang mereka sambil membawa seragam bola Elang yang basah karena keringatnya.


Setibanya di mobil, Lisna langsung masuk di pintu belakang. Dia duduk disana sambil menasukkan seragam bola Elang kedalam kantong plastik.


Disti duduk di depan, disamping Elang. Dan Elang sudah siap mengemudikan mobilnya.


"Mau makan apa, nih?" Tanya Elang pada Disti dan Lisna.


"Mmm, gimana kalau spageti. Aku sudah lama nggak makan spageti." Jawab Disti antusias.


"Kak Lisna gimana?" Tanya El pada Lisna yang tampak sibuk sendiri dengan handphone-nya.


El agak risih mendengar Lisna memanggilnya dengan embel embel mas.


"Ya sudah kalau gitu kita makan spageti."


Mobil melaju kencang menuju restoran spageti yang terkenal akan kenikmatan pastanya yang tiada duanya.


*


*


*


Makan malam sudah, Disti juga sudah diantar pulang kerumahnya. Kini saatnya Elang mengantar Lisna pulang.


"Kak Lisna masih tinggal di kamar kecil di tempat dokter Yumna?"


"Iya. Kenapa?"


"Gimana kalau kak Lisna tinggal di apartemen aku saja."


"Nggak ah ngapain."


"Ya supaya lebih dekat aja kalau aku mau jemput kak Lisna. Kalau di tempat dokter Yumna kejauhan kak."


"Tapi nggak mungkin aku tinggal di apartemen yang sama dengan kamu Elang. Nanti apa kata orang.."


"Lah memangnya siapa yang bilang kakak tinggal di apartemen yang sama dengan aku?"


Lisna tersipu mendengar pertanyaan Elang barusan. Rupanya Lisna salah paham.

__ADS_1


"Aku punya rumah. Aku tinggal di rumahku. Nah apartemen itu kosong, aku belum menyewakannya pada siapapun. Ya kalau kak Lisna mau, kakak bisa tinggal disana. Bukan tinggal bersamaku, tapi kakak sendiri." Tutur Elang meluruskan kesalah pahaman Lisna.


"Iya." Jawab Lisna singkat tanpa mau menoleh pada Elang, dia terus mengalihkan pandangannya menatap ke luar mobil.


Elang yang menyadari Lisna malu karena berpikiran yang aneh aneh, membuat Elang tersenyum senyum sendiri.


Menggemaskan!


Elang menambahkan kecepatan laju mobilnya agar segera tiba di apartemen yang sudah lama tidak ia tempati itu. Sebenarnya apartemen itu memang dibelinya untuk Lisna waktu pertama kali Elang kembali bertemu Lisna delapan tahun lalu tepat sebelum Lisna menikah.


Sayangnya, setelah apartemen di beli dan Elang mencoba menemui Lisna, eh Lisna malah sudah menikah. Jadi Elang menyewakan saja apartemennya selama tujuh tahun terakhir dan baru dikosongkan lima bulan terakhir.


Mobil Elang tiba di depan gerbang geriya indah tempat gedung apartemennya. Dia memperlihatkan tanda pengenalnya pada sekuriti penjaga gerbang dan juga memberitahukan bahwa Lisna adalah penyewa baru apartemennya.


Setelah data berhasil di konfirmasi, Elang pun melanjutkan laju mobil menuju parkir bawah tanah.


"Kita hampir tiba, kak."


Elang membuka pintu mobilnya dan turun, disusul oleh Lisna.


"Yuk." Ajak Elang yang melangkah lebih dulu masuk lewat pintu yang mengantar mereka ke lift.


"Apartemennya di lantai lima belas. Jadi kakak bisa turun naik lewat lift."


"Aku tidak biasa naik lift El. Apa lagi kalau sendirian. Lebih baik aku menyewa rumah kontrakan saja lagi."


Lisna tidak mau tinggal di apartemen Elang yang ada di lantai lima belas sehingga harus naik turun lift.


"Tidak usah takut kak. Nanti ada satpamnya kok yang bisa menemani kakak naik turun lift kalau kakak takut."


"Nggak usah deh El." Tolak Lisna.


"Kak, percaya deh sama aku. Semuanya akan baik baik saja. Kakak tidak perlu takut."


Elang terus mencoba meyakinkan Lisna agar tidak merasa takut.


"Baiklah."


"Nah gitu dong."


Akhirnya mereka kini sudah berada di dalam lift yang siap mengantar mereka ke lantai lima belas dimana apartemen Elang berada.


Tidak butuh waktu lama dan tidak terasa, pintu lift sudah terbuka kembali. Mereka tiba di lantai lima belas.


"Kita sudah sampai El?" Tanya Lisna yang masih mengira mereka masih di lantai bawah.


"Sudah kak. Nah tidak takut kan naik turun Lift.."


Lisna mengangguk pelan. Bayangannya naik lift akan lama, belum lagi Lisna sering melihat kejadian saat saat lift yang tiba tiba tidak berfungsi dan berbagai macam jenis kecelakaan lift membuatnya parnoan. Padahal kenyataannya tidak seburuk yang dia bayangkan.


"Ini dia apartemenku kak. Pintunya sudah canggih menggunakan kata sandi." Jelas Elang.


Dia menekan angka yang cepat, tapi Lisna merasa kenal dengan angka yang ditekan oleh Elang.


Pintu terbuka. Elang masuk lebih dulu, Lisna menyusul di belakanngnya.


Pertama masuk, Lisna langsung terpesona dengan keindahan kamar apartemen milik Elang. Mirip rumah kontrakan lamanya tapi versi lebih luas dan tertata rapi.


Elang menunjukkan kamar pada Lisna, dan juga memberitahu Lisna kode sandi pintu apartemennya yang ternyata tanggal ulang tahun Lisna.


Karena Elang mengatakannya dengan santai, jadi Lisna pikir mungkin Elang juga punya tanggal spesial yang sama persis dengan tanggal dan bulan lahirnya.

__ADS_1


__ADS_2