Air Mata Terakhir Istri Pertama

Air Mata Terakhir Istri Pertama
BONUS 2 (Dio dirundung)


__ADS_3

Dio kini tinggal berdua saja dengan Asep di kelas. Dan tentu saja ini kesempatan Asep untuk menakut nakuti Dio.


Asep menghampiri Dio yang tengah duduk santai sambil mendengarkan musik melalui headset yang terpasang ditelinganya. Tiba tiba saja Asep menendang kuat kursi yang duduki Dio hingga Dio terjungkal jatuh ke lantai.


"Heh anak orang kaya!" Asep langsung menarik kerah baju Dio yang masih terkejut karena perbuatan Asep.


"Eeh ee.. apa apaan loe, Sep?!" Dio mencoba menepis tangan Asep yang mencengkeram erat kerah bajunya.


"Apa? Loe mau teriak minta tolong.. silahkan. Dasar anak manja tak berguna." Asep mendorong kuat tubuh Dio hingga terpental ke meja lain yang ada di belakangnya.


Dio meringis merasakan sakit pada bagian punggungnya yang terhantuk kuat pada permukaan meja.


"Loe ada masalah apa sama gue, Sep!" seru Dio tak mengerti mengapa Asep tiba tiba berbuat kasar padanya. Padahal selama ini Dio sama sekali tidak pernah ikut campur urusan Asep. Bahkan saat Asep merundung siswa lainpun Dio pura pura tidak tahu saja. Dia tidak suka terlibat urusan orang lain yang dia sendiri tidak tahu masalah mereka.


"Masalahnya, gue benci banget sama anak manja kayak loe."


Cuiihh...


Asep meludah kearah Dio, lalu dia melangkah mendekati Dio dan kembali menarik kerah baju Dio. Sementara Dio hanya diam tidak melakukan perlawanan.


"Loe mau berapa uang? Gue kasih." gumam Dio tanpa mau menatap wajah Asep.


Bbuuugggkk...


Satu pukulan mendarat tepat di perut Dio, hingga Dio meringis kesakitan dan terduduk di lantai.


"Sudah gue tebak. Anak manja kayak loe, menyelesaikan semuanya dengan uang. Loe pikir gue pengemis!" Teriak Asep marah. Dia tidak suka saat seseorang memandangnya lemah.


Asep kembali menarik kerah baju Dio dengan kedua tangannya hingga mau tidak mau Dio kembali berdiri dengan kedua tangannya memegangi permukaan perutnya yang terasa mual dan sakit setelah mendapat pukulan dari Asep.


"Harusnya anak anak manja kayak loe, nggak usah sekolah di sini. Kalian hanya menjadi penghalang untuk anak anak miskin kayak gue untuk bisa berkarya di sini."


Dio menegakkan kepalanya. Ditatapnya tajam kedua bola mata Asep yang juga menatapnya tajam. "Bukan gue yang menghalangi loe, Sep. Tapi loe sendiri yang tidak punya bakat. Loe tidak jago dalam segala hal." Bisik Dio sambil tersenyum mengejek.


Hal itu membuat Asep marah, hingga sekali lagi dia memukul kuat wajah Dio, tepat dibagian matanya. Dio kembali terjatuh ke lantai dalam keadaan memegangi bagian mata sebelah kiri yang terasa sakit.

__ADS_1


Bbuuugggkkk...


Asep menedang berkali kali tubuh Dio yang terbaring di lantai. Bahkan beberapa kali punggung dan kepala Dio terhantuk ke sisi kaki meja. Sakit, memang sakit. Tapi, sebenarnya Dio tersenyum penuh kemenangan. Dia meletakkan kamera tersembunyi di sudut kelas.


Dio bukan anak manja yang bodoh seperti yang Asep pikirkan. Sebenarnya, ini juga bagian dari rencana Dio untuk menjebak Asep. Dio tidak bisa tinggal diam melihat Asep yang terus terusan merundung teman teman disekolah ini. Namun, mereka tidak bisa melapor karena tidak ada bukti. Kalau pun ada saksi juga percuma, itu hanya akan membahayakan bagi si saksi jika berani mengadu pada guru.


Sudah hampir tiga bulan terakhir Dio memikirkan cara untuk menghentikan Asep. Hingga akhirnya, Dio yang cerdas terpikir untuk menjebak si Asep yang memang menampakkan gelagat ingin menjadikannya bahan rundungan.


Kamera itu tersambung pada televisi yang ada di setiap ruang kelas dan ruang guru yang di pantau melalui ruangan siaran radio. Kecerdasan Dio berguna kali ini.


Saat Asep terus terusan menendangnya, diam diam Dio menekan satu tombol di benda kecil seperti remote yang dia pegang sejak tadi.


Kini televisi menyala serentak, menanyangkan dari awal Asep mulai merundung Dio. Hanya televisi di kelas mereka yang tidak menyala. Sengaja Dio lakukan agar Asep tidak mengetahui rencananya dan mencoba kabur sebelum guru datang.


Bianca yang yang tidak jadi ke kanti dan hendak menuju perpustakaan, terdiam melihat tevisi di depan perpustakaan menayangkan Asep yang tiba tiba menendang kursi Dio hingga Dio jatuh ke lantai.


"Dio!" Teriak Bianca. Segera dia berlari kebcang menuju kelas.


Tidak berbeda dengan Bianca. Lio juga terkejut saat melihat adiknya di rundung melalui tayangan televisi yang ada di kantin. Lio berlari sekencang mungkin untuk menuju kelas Dio. Sedangkan Ruhi mengekor dibelakangnya.


"Stooppp!" Teriak Bianca. Dia langsung memukul Asep menggunakan tasnya hingga Asep berhenti menendang Dio. Tapi si Asep malah hendak memukul Bianca, namun aksinya dihalangi oleh Lio yang baru datang.


Bianca terkejut karena Lio memeluknya untuk melindungi agar tidak terkena pukulan dari Asep, hingga punggung Lio lah yang menjadi sasaran pukulan Asep.


Saat itu juga majelis guru datang, mereka langsung menarik paksa Asep. Dan beberapa guru lainnya menolong Dio yang sudah babak belur.


Lio tersadar, dia langsung melepaskan Bianca dari pelukannya. Dia pun langsung menghampiri Dio.


"Loe kenapa nggak melawan?" Mata Lio berkaca kaca melihat adiknya babak belur begitu.


"Apanya yang sakit? Mata loe, badan loe sakit semua?" Lio benar benar mengkhawatirkan adiknya itu.


"Lio, bawa Dio ke uks. Kami akan menghukum Asep." Titah para majelis guru.


Lio dan teman temannya membantu Dio berdiri. Lalu, tiba tiba Lio berjongkok membelakangi Dio. "Naik ke punggung gue." Titahnya pada adiknya itu yang patuh saja pada kakaknya untuk hari ini.

__ADS_1


Saat sudah naik di punggung Lio dan sudah mulai melangkah, Dio menatap sambil tersenyum pada Bianca.


"Terimakasih, cantik." Ucap Dio pada Bianca yang tampak khawatir padanya.


Lio tentu mendengar itu dengan jelas. Hatinya cemburu, tapi dia tidak mungkin marah pada adiknya.


Sesampainya di uks, Dio langsung diperiksa oleh dokter yang bertugas hari ini. Dia diobati dan Lio menemani adiknya hingga pengobatan selesai.


Saat ini, Dio sudah berbaring nyaman di kasur uks. Lio menatap iba wajah adiknya. Begitu juga teman teman Dio dan juga teman teman Lio.


"Loe kan jago bela diri, Dio. kenapa loe kagak melawan?" Tanya salah satu temannya.


"Sengaja aja, karena itu bagian dari rencana gue untuk menjebak si Asep. Gue udah gerah melihat dia yang terus terusan merundung anak anak." Jawab Dio sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


Teman teman hanya mengangguk paham dan mereka juga memberi pujian atas tidakan Dio untuk menghentikan perundungan Asep.


"Tuh bel udah bunyi. Kalian kembali ke kelas sana! " Usir Dio.


Teman temannya pun langsung meninggalkan Dio dan Lio di uks. Mereka kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran.


Dan kini tinggal hanya Lio yang menemani adiknya itu.


"Gimana cara menjelaskan semua ini sama papa dan mama?" Ujar Lio.


"Tenang saja kak. Nanti biar gue yang jelasin semuanya." Jawab Dio yang tampak lebih santai dari sang kakak yang takut dimarahi mama sama papa karena membiarkan Dio di pukulu.


"Gimana sama Bianca?" Tanya Dio tiba tiba membahas Bianca yang membuat Lio bingung.


"Gimana apanya?"


Dio manatap kesal wajah bingung kakaknya. "Makan siang kakak di kantin sama Bianca tadi bagaimana?" Ulangnya memperjelas pertanyaan.


Lio makin bingung. Dia makan siang bersama Ruhi bukan Bianca. Tapi, kemudian dia ingat saat Bianca yang tiba tiba tidak jadi ke kantin tadi.


"Ah, kagak jadi deh gue dapat duit dari Bianca." celetuk Dio sedih

__ADS_1


"Duit apaan?" Lio tambah bingung.


__ADS_2