Air Mata Terakhir Istri Pertama

Air Mata Terakhir Istri Pertama
Memilih gaun


__ADS_3

Lisna sudah tidak tinggal di apartemen Elang lagi sejak dua tahun terakhir, tepatnya setelah kepergian abang Erwin. Lisna memilih tinggal sendiri di rumah kontrakan seperti sebelumnya. Lisna juga sudah tidak menjadi menejer Elang, karena Elang juga sudah tidak lagi bekerja di dunia entertaiment. Jadi Lisna bekerja di salah satu perusahaan kecil yang bergerak di bidang interior.


Elang tidak pernah mempermasalahkan apapun pekerjaan yang Lisna pilih, selama Lisna masih bisa berada di lingkup pengawasannya, itu saja sudah cukup buat Elang untuk terus menjaga Lisna.


Sementara itu, kehidupan menyedihkan berbalik pada Fauzi dan Wulan. Mereka kini tinggal di kontrakan kecil bersama mama dan Fitri. Di rumah kecil itu lah mereka tinggal menjalani hari hari yang menyedihkan dan menyakitkan selama dua tahun terakhir.


Fauzi hanya bekerja sebagai buruh bangunan, yang kadang ada proyek kadang tidak. Fitri putus kuliah, sementara Fatimah hanya terbaring lemah menunggu ajalnya datang.


Wulan benar benar stres dengan kehidupan yang dijalaninya saat ini. Dengan uang yang sedikit dari Fauzi kadang tidak cukup bahkan untuk membeli popok bayinya dan juga kebutuhan dapur. Setiap hari Wulan berantem dengan Fauzi.


"Ya mas cari pekerjaan yang lain yang lebih banyak gajinya. Aku sudah nggak sanggup hidup miskin terus seperti ini mas." Rutuk Wulan sambil menyiapkan makanan untuk suaminya itu.


"Kamu pikir mencari pekerjaan itu mudah, Wulan. Aku sudah berusaha dan satu satunya pekerjaan yang aku dapat cuma menjadi buruh tukang bangunan. Harusnya kamu tu bersyukur kita masih bisa makan, ya walau hanya lauk sayur dan garam saja."


"Kamu iya sudah biasa hidup serba kekurangan seperti ini. Aku tidak biasa mas."


"Eh Wulan, kamu sendiri yang memilih aku saat itu. Coba kalau kamu memilih mama kamu dan meninggalkan aku, pasti kamu bisa hidup senang."


"Harusnya kamu berusaha untuk membuat aku senang, karena aku memilih kamu. Tapi, apa? Mas malah merasa aku sebagai beban." Teriak Wulan.


"Aku tidak pernah menganggap kamu beban. Aku hanya minta kamu bersabar dan jangan selalu marah marah, mengeluh dan berteriak seperti ini. Kamu pikirkan juga dong perasaan mama."


Bukannya merasa sedikit sejuk, Wulan malah ber api api mengingat Firman dan Yuni lepas tanggung jawab terhadap mama dan Fitri. Padahal Firman juga anak laki laki yang harus bertanggung jawab terhadap mamanya.


"Aku nggak mau tahu, besok mas harus mendapatkan uang. Aku butuh uang untuk membelikan Fikri kue ulang tahun dan juga hadiah ulang tahunnya."


"Iya aku usahain. Makanya jangan biasakan memanjakan anak." Ledek Fauzi yang tidak suka cara Wulan mendidik putranya dengan cara dimanja dan dituruti semua kemauannya apapun itu dan bagaimanapun itu caranya.


Tentu yang jadi korban ya Fauzi. Mau tidak mau, dapat tidak dapat harus ada saat Fikri sudah berkehendak menginginkan sesuatu itu.


"Aku tidak merasa aku punya anak dan istri. Yang aku rasakan, aku punya dua majikan yang menuntut ini dan itu padaku." Celoteh Fauzi mulai prustasi.


Memang hanya Lisna yang tidak pernah membuatku merasa seperti ini. Betapa bodohnya aku melepaskan Lisna hanya demi mak lampir seperti Wulan.

__ADS_1


Fauzi baru menyadari betapa berartinya Lisna dan betapa hanya Lisna yang bisa membuatnya hidup nyaman. Semuanya sudah terlambat. Fauzi sudah menukar berlian dengan sebongkah batu biasa. Kini dia hidup dengan bongkahan besar batu itu yang hanya mempersulit hidupnya. Sementara berlian yang dia buang, kini sudah semakin bersinar dan diletakkan di tempat yang tepat pula.


*


*


*


Hari ini Lisna dan Elang pergi untuk mengurus keperluan pernikahan mereka. Dan saat ini mereka sedang berada di butik pengangtin.


"Mbak Lisna bisa lihat lihat dulu, model kebaya untuk acara akad dan juga gaun untuk nikahannya nanti."


Pemilik butik itu menemani Lisna melihat berbagai jenis model kebaya dan gaun pengantin di butiknya. Sementara Elang hanya duduk sambil memperhatikan calon istrinya itu memilih gaun sesuai yang dia inginkan tanpa canpur tangan siapapun.


"Boleh saya lihat kebaya model ini, mbak?" Tanya Lisna saat menemukan kebaya putih berpayet yang tampak sederhana namun elegan.


"Tentu boleh."


Pemilik butik itu meminta karyawannya untuk membawakan kebaya yang dipilih Lisna ke ruang ganti. Ya, dia menyarankan agar Lisna langsung mencobanya saja.


"Bagaimana, El? Bagus tidak?" Tanya Lisna malu malu.


"Kamu sangat cantik, sayang." Jawab Elang tersenyum senang.


"Kalau begitu untuk akadnya nanti saya pakai kebaya ini, mbak."


"Pilihan yang bagus."


"Kamu yakin mau kebaya itu? Tidak mau melihat model yang lain? Tanya Elang sambil menghampiri Lisna.


"Iya, aku yakin. Apa kamu tidak suka?"


"Suka, aku suka. Tapi, aku hanya tidak ingin nanti kamu malah menyesal saat melihat kebaya yang mungkin lebih bagus dari yang kamu pilih." Jelas Elang dengan sangat hati hati.

__ADS_1


"Aku sudah memilih. Dan aku yakin pilihanku kali ini tepat. Sama halnya dengan saat aku memutuskan untuk menerima lamaran kamu. Karena aku sudah yakin, bahwa aku memilih yang tepat kali ini." Bisik Lisna yang berhasil membuat Elang tersanjung.


"Andai sudah halal, aku cium kamu." Balas Elang berbisik yang sontak membuat Lisna menjauhkan diri dari Elang.


Pemilik butik dan karyawannya tersenyum gemas melihat betapa manisnya pasangan itu.


"Sekarang saatnya memilih gaun pesta, sayangku." Ujar Elang pada Lisna.


"Haruskah?"


"Ya harus, sayang."


"Cukup akad dan pakai pakaian adat saja, El."


"NO."


"Harga sewa gaunnya mahal mahal." Bisik Lisna ditelinga Elang yang membuat Elang tersenyum gemas.


"Mbak, tolong perlihatkan gaun ala ala fairy tale, tapi yang cocok untuk wanita berhijab seperti istri saya."


"Baik, mas Elang."


Beberapa karyawan butik memperlihatkan empat pilihan gaun dari fairy tale seperti yang diinginkan Elang.


"Ini gaun cinderella, kalau ini gaun ala ala yasmin, dan ini gaun Aril si mermaid dan yang satu ini gaun snow white."


Lisna melirik bergantian gaun gaun cantik itu.


"Untuk tema pernikahan fairy tale, kebanyakan pelanggan memilih gaun Yasmin sih. Tapi menurut saya yang lebih cocok untuk mbak Lisna, lebih ke cinderella sih." Sambungnya menjelaskan.


Mata Lisna juga sejak tadi hanya menatap gaun berwarna biru lembut ala ala cinderella. Pilihannya jatuh pada gaun itu karena merasa dirinya juga sedang menjadi Cinderella yang beruntung di pilih oleh pria kaya raya bak seorang pangeran.


"Mmm, aku mau yang ini." Lisna menyentuh gaun ala ala Cinderella.

__ADS_1


Elang langsung meminta Lisna mencoba gaun itu. Dan saat melihat Lisna memakai gaun itu Elang kembali terpesona dengan kecantikan calon istrinya itu.


__ADS_2