
Hari ini minggu. Biasanya Lisna dan Fauzi berada di rumah mamanya. Tapi kini sudah berbeda. Lisna justru berada di rumah istri kedua suaminya.
"Bik, apa mas Fauzi sama Wulan belum pulang juga?" Tanya Lisna yang baru tiba di dapur.
"Belum nyonya."
Lisna menghena napas, begitu berat rasanya untuk berdamai dengan takdir yang mengharuskan dirinya menjadi istri pertama yang harus menerima kehadiran istri kedua suaminya karena ketidak mampuannya memberikan anak untuk suaminya dan cucu untuk mertuanya.
"Nyonya, mau saya masakkan apa untuk sarapan?" Tanya Siti kemudian.
"Tidak usah bik. Aku bisa masak sarapan sendiri."
"Baik nyonya. Kalau begitu saya izin kebelakang mau menjemur pakaian." Pamit Siti.
"Iya bik, silahkan."
Begitu Siti menghilang dari pandangannya, Lisna pun meninggalkan dapur. Langkah kakinya membawanya menuju kolam renang di samping rumah.
"Setiap melihat air, memberiku kekuatan dan rasa tenang. Alhamdulillah, ya Allah." Gumamnya.
Dia duduk di pinggir kolam, mengangkat rok nyo tinggi tinggi hingga memperlihatkan leging ketat yang membungkus betisnya. Dicelupkannya kaki itu kedalam air kolam.
"Tidak seharusnya aku bertahan disini. Tapi, jika tidak bertahan, aku malah tidak tahu harus pergi kemana selain menyusul mama, papa dan kak Lia."
"Ibu ngoblol sama siapa?"
Suatu itu milik Queen. Lisna menoleh kearah gadis kecil itu sambil tersenyum.
"Pagi cantik." Sapa Lisna.
"Pagi ibu."
Queen duduk di sebelah Lisna dan mencelupkan kakinya juga ke dalam kolam.
"Ibu belum salapan, ya?"
"Mmm.. belum. Kalau si cantik ini sudah sarapan belum?"
"Sudah. Tapi, dikit aja salapannya."
"Kenapa dikit aja?"
"Nanti gemuk." Ucapnya sambil memonyongkan bibirnya.
Wajah gadis kecil itu tampak menggemaskan, membuat Lisna mencubit lembut kedua belah pipinya. Dan itu membuat Queen tertawa senang.
Driiittt…
Hanphone Lisna bergetar. Panggilan masuk dari Mirna.
"Halo mbak?"
Sebentar Lisna menatap gadis kecil di sebelahnya.
"Bisa mbak, tapi mungkin aku bawa seorang gadis kecil. Ridho pasti kenal."
Mendengar Lisna menyebut nama Ridho membuat Queen menoleh padanya dan Lisna tersenyum sambil mengusak kepala Queen.
"Iya mbak. Kita ketemu di sana.. Oke, baik mbak."
Lisna mengakhiri pembicaraannya dengan Mirna.
"Queen mau ikut ibu ke water park nggak?"
"Mau.. mau.."
__ADS_1
"Kalau gitu ibu telpon mama sama papa dulu ya, minta izin."
Queen mengangguk senang.
Lisna mencoba menelpon Wulan tapi tidak diangkat, lalu dia mencoba menelpon Fauzi, juga sama tidak di angkat.
Disinilah Wulan dan Fauzi berada. Mereka baru tiba di rumah mama.
"Ya ampun, menantu mama datang!" Sambut Fatimah antusias menjemput Wulan yang baru keluar dari mobil.
"Mama.." Wulan mencium punggung tangan mama mertuanya.
"Ini hadiah untuk mama."
"Walah, tidak usah repot repot loh sayang." Mengambil paper bag ditangan Wulan.
"Tidak merepotkan kok, ma."
"Queen mana?"
"Queen di rumah, ma."
"Loh di rumah sama siapa? Sama Lisna?" Tebaknya.
"Iya ma. Kan mbak Lisna juga libur kerja hari ini."
Fatimah mengangguk saja, padahal tadi mau berbisik pada Wulan tapi tidak jadi karena Fauzi sudah menyusul mereka.
"Mama sehat, ma?" Tanya Fauzi.
"Sehat dong. Apa lagi melihat pengantin baru datang, malah tambah sehat lah mama."
"Syukurlah."
"Mama yang masak semua ini, ma?"
"Iya dong sayang. Coba deh cicipi, kalau Fauzi sih paling suka soto buatan mama." Pujinya.
"Boleh dong ma, mau cicipi sotonya."
Dengan senang hati Fatimah mengambilkan soto untuk menantu kesayangannya itu.
"Wulan, jangan terlalu sering meninggalkan Queen sama Lisna." Bisiknya.
"Loh kenapa, ma?"
"Lisna itu agak agak nggak waras. Nanti Queen malah di celakai sama dia."
"Mama ada ada saja. Ya nggak mungkin mbak Lisna begitu ma. Mbak Lisna itu perhatian banget sama Queen."
"Jangan percaya. Dia cuma berpura pura. Mama pernah melihat dia mengamuk dan hampir mencekik lehernya sendiri." Tutur Fatimah menjelekkan Lisna di hadapan Wulan.
Cerita yang diceritakannya itu sungguh kebohongan yang besar. Entah apa tujuan Fatimah melakukan itu bahkan sampai menjelekkan Lisna sampai segitunya. Padahal Lisna sangat menyayanginya dengan tulus.
"Ah mama ada ada saja." Wulan pun sulit untuk percaya kata kata mama mertuanya.
"Jangan bilang bilang sama Fauzi tentang cerita ini. Nanti Fauzi mengamuk."
"Iya ma. Mama tenang saja."
Drriiiitttt…
Handphone Wulan berdering, panggilan masuk dari Lisna. Dan dia hanya mengabaikannya.
"Itu ada yang menelpon loh, Wulan."
__ADS_1
"Biasa buk, orang kantor. Biarkan saja, toh ini juga hari libur."
Fatimah pun mengangguk saja sambil mengulurkan semangkok soto untuk menantunya itu.
Panggilan berikutnya masuk lagi, dari Lisna juga. Bahkan Lisna sampai menelpon berkali kali secara bergantian ke handphone Wulan dan Fauzi.
"Loh itu bunyi terus, angkat dulu. Mana tahu penting." Ujar Fatimah.
"Biarkan saja bu."
Wulan mulai mencicipi soto buatan mama mertuanya. Lalu dia memberi pujian pada mama mertuanya itu.
Sementara itu, Lisna yang sudah menyerah menelpon Wulan dan Fauzi akhirnya mengirimkan pesan bahwa dia akan membawa Queen bermain ke water park.
"Mama sama papa masih tidak bisa di telpon ya, bu?"
"Iya sayang. Tapi, kita akan tetap pergi. Ibu sudah mengirim pesan. Nanti kalau papa sama mama sudah tidak sibuk, pasti mereka baca pesannya ibu."
Queen mengangguk setuju.
"Yok kita berangkat."
"Horeee, aku mau jalan jalan sama ibu.."
Queen benar benar merasa senang diajak jalan jalan ke water park oleh Lisna. Padahal sebenarnya, Queen dilarang keras oleh Wulan bermain ke water park sejak setahun terakhir, karena Queen hampir tenggelam saat bermain di water park waktu itu.
Lisna yang tidak tahu tentang itu, merasa Queen benar benar akan suka bermain di kolam renang, apa lagi nanti Queen akan bermain bersama Ridho yang merupakan teman satu kelasnya di sekolah TK.
Mereka berangkat dengan mengedarai motor metik baru milik Lisna untuk menuju water park yang ada di kota. Tidak butuh waktu lama untuk tiba disana, hanya menempuh perjalanan sekitar dua puluh lima menit saja.
"Kita sudah sampai, cantik."
Lisna membantu Queen turun dari motor. Tapi, wajah Queen tampak lesu begitu menatap keadaan di depan sana. Hal itu membuat Lisna khawatir.
"Cantik, kamu kenapa?" Lisna berjongkok untuk bisa menatap wajah Queen dengan jelas.
"Aku takut, ibu. Aku.. aku takut.." Rengek Queen sambil melingkarkan tangannya di leher Lisna.
"Takut kenapa, cantik. Kan ada ibu. Nanti kita berenangnya bersama, ibu yang akan jagain Queen." Bisik Lisna menenangkan gadis kecil itu.
"Lisna!"
Itu suara Mirna. Dia melangkah mendekati Lisna dengan menggandeng tangan putra kecilnya.
"Mbak Mirna." Sapa Lisna yang masih memeluk Queen.
"Halo Ridho sayang." Lisna juga melambaikan tangan pada Ridho yang dibalas dengan senyum manis oleh bocah menggemaskan itu.
Mendadak Queen melepaskan tangannya dari leher Lisna untuk menengok pada Ridho dan Mirna.
"Queen!"
Ridho tampak sedikit terkejut saat mengetahui ternyata yang dipeluk Lisna adalah Queen teman sekolahnya.
"Idho…"
Mirna menatap pada Lisna yang malah mengangkat kedua bahunya dan dia kembali berdiri.
"Kalian saling kenal?" Tanya Mirna.
"Iya, ma. Queen kan teman sekelas aku. Ya kan Queen?"
"Iya tante." Jawab Queen malu malu.
Meski Mirna masih bingung mengapa Lisna membawa gadis kecil itu dan bertanya tanya siapakah gadis kecil itu, Mirna tetap tersenyum gemas melihat interaksi kedua bocah TK yang menggemaskan itu.
__ADS_1