Air Mata Terakhir Istri Pertama

Air Mata Terakhir Istri Pertama
Fakta yang terkuak


__ADS_3

Malam ini, Wulan tidak bisa tidur nyenyak. Dia merasa gerah karena memang di kamar Fauzi tidak ada ac hanya kipas angin saja.


"Mas, mas bangun!"


Wulan membangunkan Fauzi.


"Ada apa sayang?"


"Gerah. Aku nggak bisa tidur kalau sepanas ini." Celotehnya.


Fauzi akhirnya bangkit dari tidurnya. Dia melangkah mengambil kipas dan mendekatkan pada Wulan.


"Gimana? Masih gerah juga?"


"Ya masih gerahlah mas. Lagian angin dari kipas angin tidak baik untuk kesehatan. Harusnya mas pasang ac di kamar ini."


Wulan benar benar banyak perubahan sejak hamil. Ada ada saja yang salah dimatanya.


"Iya sayang, besok mas pasang ac ya. Sekarang pakai kipas angin saja dulu.."


"Iya deh."


Wulan akhirnya kembali berbaring. Fauzi juga ikut berbaring di sampingnya. Namun, tidak lama kemudian Wulan bangun lagi dan mengeluh gerah. Dia bahkan sampai membuka piyamanya dan menyisakan pakaian dalamnya saja.


"Sayang, kalau kamu seperti itu, bisa masuk angin loh. Setidaknya pakai selimut ya."


"Gerah mas. Kamu paham gak sih. Susah banget kalau di bilangin." Bentaknya kesal.


Fauzi hanya bisa terdiam dan kembali berbaring disamping Wulan dengan perasaan tidak enak hati.


Lisna tidak pernah membuatku merasa rendah seperti ini. Oh Lisna, dimana kamu sekarang?


Fauzi ingat, saat pertama dia dan Lisna tinggal di kontrakan mereka dan belum punya kipas angin, Fauzi mengeluh kepanasan. Dengan suka hati, Lisna bangun dan mengibaskan buku untuk membuat Fauzi merasa nyaman.


Hanya Lisna yang bisa memperlakukan aku bak raja. Betapa bodohnya aku melepaskan Lisna. Maafkan aku Lisna.


"Mas, aku gerah. Bisa nggak sih kamu kipas aku kek atau apa gitu. Aku tidak bisa tidur kalau seperti ini terus.."


"Iya sayang. Sini aku kipasin kamu ya."

__ADS_1


Fauzi mengibas ngibaskan buku pada Wulan untuk menambahkan angin yang masih terasa kurang menyejukkan dari kipas angin itu.


Hampir sepanjang malam Fauzi mengipas ngipas Wulan tanpa henti. Saat dia terlelap, Wulan akan langsung membangunkannya. Wulan tidak membiarkannya tidur meski hanya sedetik saja. Sungguh Fauzi menderita beristrikan Wulan sang putri kaya raya yang menjadi pilihannya.


Dan akhirnya pagi mejelang, pasangan itu masih belum bangun.


Fatimah sudah sibuk menyiapkan sarapan sendirian di dapur. Biasanya ada Lisna yang membantunya. Tapi, sekarang dia masak sendirian dalam porsi yang banyak dan berbagai macam masakan juga yang harus disiapkannya.


Ternyata ada untungnya juga si Lisna itu. Coba saja kalau dia masih menjadi menantuku, setidaknya dia selalu membantuku menyiapkan makanan.


Ingatan Fatimah membawanya pada saat saat Lisna baru dua bulan menjadi menantunya dan saat itu Fatimah sakit. Lisna bangun lebih awal, memasak, mencuci dan membereskan rumah sendirian. Hingga saat Fatimah bangun dia hanya tinggal duduk manis dimeja makan menikmati hidangang yang sudah tersedia.


Sepertinya aku kualat karena terlalu buruk memperlakukan Lisna saat masih menjadi menantuku.


"Pagi, ma."


Itu Firman. Dia baru bangun dan mendengar keributan didapur langsung menghampiri mamanya.


"Pagi sayang. Baru bangun?"


"Iya ma. Mama masak sebanyak ini sendirian?"


"Selalunya mbak Lisna yang membantu mama. Tapi, kini mbak Lisna sudah tidak ada." Guman Firman sambil melangkah menuju kamar mandi.


"Jangan mengungkit tentang wanita itu, Fir. Itu hanya akan membuat Yuni cemburu."


Firman tidak mendengarkan ocehan mamanya, karena dia sudah berada di kamar mandi dan mengunci rapat pintu itu.


*


*


*


Lisna bangun subuh tadi untuk sholat subuh. Setelah sholat dia memanggang roti dan membuat segelas kopi untuk sarapan. Setelah itu, dia mulai bekerja di depan laptonya.


"Ternyata sendirian jauh lebih bahagia dan menyenangkan." Gumamnya.


Lisna tinggal di salah satu kamar kecil yang ada di gedung tempat dokter Yumna buka praktek konsultasi psikolog. Empat bulan tinggal disini benar benar menjadikan Lisna hidup sehat, pola makannya teratur dan dia sudah tidak mudah emosi dan stres lagi.

__ADS_1


Mentruasinya sudah teratur. Bahkan kemarin dia cek ke dokter kandungan, sel telurnya sudah normal dan siap untuk dibuahi. Tapi, sayangnya saat ini Lisna tidak punya suami lagi. Jadi, dia harus menjaga kesehatannya sampai nanti dia menikah lagi, agar bisa segera memiliki anak jika diberi izin oleh sang perncipta tentu saja.


Pagi ini Lisna iseng membuat akun sosial media karena merasa bosan saja tidak melakukan apa apa selain menginput data data pasien beserta nama penyakit yang dialami pasien. Lisna bahkan sampai hapal tentang semua penyakit penyakit itu.


"Aku tidak mau menggunakan nama asliku. Haruskah aku membuat nama lain.."


Lisna membuat akun sosial media dengan nama samaran. Dia menamai dirinya 'Nana'


Belum ada yang di postingnya di akun media sosialnya itu. Dia malah kepo untuk mencari akun milik Elang.


"Elang Pratama Putra."


Begitu nama itu di tulis langsung muncul foto Elang lengkap dengan biodatanya.


Ada banyak postingan Elang disana. Lisna tertarik pada satu foto Elang dan dia melihat komen komen dari fans Elang.


Lisna tersenyum geli membaca rayuan rayuan para fans yang terang terangan menyatakan rasa cinta mereka pada Elang sang idola.


"Apa aku cari tahu saja ya, siapa sebenarnya Elang dan tante Nita." Pikir Lisna.


Akhirnya dia stalking di google tentang Elang dan tante Nita.


Begitu mudah menemukan informasi tentang Elang, dia merupakan anak tiri dari pemilik PT Jati. Bahkan PT Jati sudah resmi diberikan oleh Sultan Muhdin pada putra tirinya itu yang sudah dianggapnya sebagai putra kanndungnya. Lalu, dipencarian itu terpampanglah foto wanita yang sangat di kenal Lisna.


"Tante Nita."


Nama wanita itu Luna Yuanita. Dia janda yang beruntung di pilih oleh Sultan Muhdin untuk menjadi istrinya.


"Ternyata nama tante Nita benar benar Luna Yuanita. Mereka bukan orang biasa. Mereka keluarga Sultan rupanya."


Lalu, Lisna penasaran akan satu hal. Yaitu tentang penyebab kabaikan Luna Yuanita dan putranya Elang pada dirinya. Logikanya untuk apa mereka berbuat baik pada Lisna yang hanya sebatang kara tanpa harta sama sekali.


"Kecelakaan maut di jalan toll.."


Lisna membaca berita kecelakaan maut yang dulu menewaskan kedua orangtua dan kakaknya.


Penyebab mobil yang dikendarai kedua orangtua Lisna terpeleset adalah karena menghindari seorang anak muda yang mengendarai motor dengan ngebut didepan mobil kedua orangtuanya.


Mengapa aku baru mencari tahu sekarang? Kenapa tidak sejak dulu aku membaca berita kecelakaan maut yang menyebabkan kalian meninggalkan aku, ma, pa, kak Lia.

__ADS_1


Air mata tiba tiba saja menetes di pelupuk mata Lisna. Sungguh dia hanya mengira kecelakaan itu murni karena memang kecelakaan tunggal. Rupanya kecelakaan itu disebabkan karena papanya mencoba menghindari pengendara motor yang ternyata adalah putra sulung Luna Yuanita.


__ADS_2