Air Mata Terakhir Istri Pertama

Air Mata Terakhir Istri Pertama
Lisna hamil


__ADS_3

Sidang akhir keputusan.


Elang datang kali ini bersama dengan Lisna dan juga mama, papanya. Disti tampak tenang karena dia pikir dia akan menang kali ini. Karena dia tidak pernah menyangka Lisna menyiapkan kejutan yang besar untuknya.


Sidang berlangsung. Kuasa hukum Elang diberi kesempatan untuk membela kliennya dan permohonan untuk menghadirkan saksipun di setujui.


Saat saksi masuk ke ruang sidang Disti tampak jelas merasa gugup dan khawatir. Bahkan saat saksi memberikan kesaksiannya tentang Disti yang berselingkuh dengan suaminya sampai Disti hamil pun Disti sempat bersumpah tidak mengakui tuduhan itu.


"Bohong. Dia saksi yang dibayar oleh Elang yang mulia. Mereka semua berbohong." Teriak Disti membantah.


Sampai akhirnya pria yang telah menghamili Disti masuk ke ruang sidang. Dia terpaksa memperlihatkan dan memperdengarkan malam panas yang dilakukannya bersama Disti saat itu pada wali hakim.


Akhirnya sidang pun berakhir dengan Disti yang mencemarkan nama baik. Untungnya Lisna meminta Elang untuk mengambil jalur damai bersama Disti sehingga Disti hanya perlu membayar denda tanpa harus mendekam di balik jeruji besi.


Permasalahan yang dihadapi dengan saling percaya akan lebih mudah diselesaikan, ketimbang ketika mendapat masalah malah saling menyalahkan dan menuduh satu sama lain. Lisna dan Elang berhasil melewati berbagai rintangan dalam hidup mereka karena mereka saling bergandengan tangan berdua saling percaya dan saling melengkapi satu sama lain.


Waktu terus berlalu. Elang kembali ke kegiatan seperti biasa, mengurus perusahaan. Sementara Lisna sengaja Elang minta untuk menjadi istri yang hanya tinggal di rumah. Menjaga kesehatan, pola makan dan menjaga agar pikirannya tidak stres sekaligus menjalani program kehamilan.

__ADS_1


Elang tidak memaksa Lisna untum hamil, tapi Lisna sendiri yang sangat menginginkan untuk bisa hamil. Sehingga yang bisa Elang lakukan tentu saja mendukung dengan sepenuh hati keinginan istrinya itu.


Tidak terasa tujuh bulan berlalu. Kehidupan rumah tangga Elang dan Lisna semakin mesra saja. Mereka sangat lengket bak ada magnetnya, tak terpisahkan. Lisna selalu senang kemana mana diantar oleh suaminya. Jika Elang tidak punya waktu untuk mengantarnya, maka Lisna lebih suka menghabiskan waktu dirumah saja. Dia bernar benar berubah menjadi wanita yang manja sejak bersama Elang. Dan Elang sangat menyukai itu.


Malam ini Elang pulang agak terlambat karena ada meeting di luar kota. Dia tiba di rumah saat Lisna sudah terlelap.


Elang tidak mengganggu tidur Lisna. Dia hanya terus mandi dan kemudian ikut berbaring di samping istrinya.


"Mas, sudah pulang?" Tanya Lisna yang menyadari kehadiran suaminya.


"Aku merindukanmu, mas." Rengek Lisna manja pada suaminya.


"Aku juga sayang." Mengecup kening Lisna.


"Bantu aku bangun. Ada yang harus segera aku tunjukkan." bisiknya ditelinga suaminya itu.


Tanpa protes atau bertanya, Elang langsung membantu Lisna untuk duduk. Lalu Lisna meraih sesuatu dari dalam laci nakas dan memerlihatkan benda itu pada Elang.

__ADS_1


"Ini maksudnya apa sayang?" Elang tahu maksud dari garis dua yang ada di alat tes kehamilan itu. Tapi, dia masih belum bisa percaya sebelum mendengar langsung dari mulut Lisna.


"Aku hamil, mas." Bisik Lisna tersenyum manis pada suaminya.


"Ya Allah, alhamdulillah." Elang meraih tubuh Lisna masuk dalam pelukannya.


Betapa bahagianya dia karena akhirnya Lisna hamil. Elang bahkan sampai meneteskan air mata sambil terus memeluk Lisna dan memberiman ciuman di seluruh wajah Lisna.


"Ini bukan mimpi kan sayang?"


"Tidak mas. InsyaAllah ini nyata."


Elang kembali memeluk Lisna dan terus menciuminya. Betapa bahagia tidak terkira yang dapat dia rasakan kali ini.


"Aku akan menjaga kalian dengan baik."


Lisna mengangguk menanggapi suaminya yang terus memeluknya tanpa hendak melepaskannya sebentarpun.

__ADS_1


__ADS_2