Air Mata Terakhir Istri Pertama

Air Mata Terakhir Istri Pertama
Lisna sembuh


__ADS_3

Hari ini pertama kalinya, Lisna menghubungi Mirna setelah dia bersembunyi selama empat bulan terakhir.


"Mas, Lisna menelpon!" Seru Mirna mengabarkan pada suaminya.


Reza menghampiri Mirna untuk mendengarkan perbincangan istrinya itu dengan Lisna.


"Kamu sehat, Lis?"


"Alhamdulillah aku sehat, mbak. Maaf ya mbak, aku menghilang sekian lama." Sahut Lisna diseberang sana.


"Asal kamu merasa lebih baik, itu sudah membuatku senang, Lis." Mirna benar benar senang mendapat kabar dari Lisna.


"Kalau mbak ada waktu, bisakah kita pergi makan siang hari ini?"


Mirna menatap pada suaminya yang memberi anggukan setuju pada Mirna untuk menerima ajakan Lisna.


"Iya, Lis. Kamu kirim saja alamat restorannya. Aku akan kesana."


"Terimakasih mbak. Aku senang, setidaknya masih ada mbak Mirna yang mau mendengarkan ceritaku."


"Hey Lis, biasa saja. Aku sudah menganggap kamu seperti adikku sendiri. Jadi, jangan sungkan meminta bantuan ataupun hanya untuk sekedar bercerita padaku. Oke."


"Iya, mbak.. Sampai bertemu nanti siang."


"Bye…"


Panggilan di akhiri.


Mirna tersenyum senang, dia bahkan sampai memeluk suaminya.


"Sebahagia ini kamu mendapat kabar dari Lisna?"


"Iya mas. Aku merasa bahagia, karena dokter Yumna bilang, sepertinya Lisna sudah sembuh. Dia tidak mengalami gangguan mental lagi."


"Syukurlah."


Meninggalkan Mirna dan Reza yang sedang bahagia karena mendapat kabar dari Lisna. Justru di kediamannya, Fatimah dan Fitri sedang di datangi rentenir. Rupanya, Fitri terjerat hutang ratusan juta dengan para rentenir itu.


"Ibu mau bayar hutang hutang anak ibu atau jual anak perawan ibu pada saya!" Seru pria sangat berbadan tegap itu.


"Lebih baik saya mati dari pada memberikan anak gadis saya pada manusia seperti kalian." Teriak Fatimah membela putrinya.

__ADS_1


"Baik, kalau begitu seret wanita tua ini. Bawa gadis itu sekalian…" Titah pria sangar berbadan tegap itu pada anak anak buahnya.


"Stoopppp.."


Itu suara Fauzi. Dia baru saja tiba di rumah mamanya setelah mendapat kabar dari Fitri bahwa ada rentenir datang ke rumah mereka untuk menagih hutang.


"Berapa banyak hutang adik saya?"


Fauzi berdiri di depan ibu dan adiknya untuk melindungi mereka dari para rentenir itu.


"Tidak banyak, hanya dua ratus juta."


Mendengar jumlah hutang yang tidak sedikit itu membuat Fauzi menatap tajam pada Fitri.


"Untuk apa kamu uang sebanyak itu, Fit?"


Fitri tampak takut untuk menjawabnya. "Aku.. membeli banyak barang agar bisa samaan dengan teman teman kampusku, mas." Jawabnya terbata.


Fauzi tampak kecewa pada adiknya itu yang seenaknya meminjam uang ratusan juta dari rentenir.


"Mampu bayar ga nih? Kalau tidak mampu membayar, serahkan saja gadis itu pada saya."


"Dua ratus tidak ada apa apanya. Aku bisa membayar sekaligus hari ini juga."


"Ini ambil. Ingat jangan pernah pinjamkan uang kalian lagi pada adikku." Gertak Fauzi.


Pria berwajah sangar dengan badan tegap itu mengambil kertas cek uang miliknya. Lalu dia mengajak anak anak buahnya meninggalkan tempat itu.


Begitu para rentenir itu pergi, Fauzi langsung menyeret paksa Fitri masuk kedalam rumah dan Fatimah juga mengekor dibelakangnya.


"Lain kali kalau butuh uang ngomong. Jangan main asal pinjam sama rentenir seperti itu. Bikin malu saja!" Bentak Fauzi marah dan kecewa pada adik bungsunya itu.


"Aku harus ngomong sama siapa, mas? Kemana aku harus minta uang. Waktu aku pinjam uang sama rentenir itu, mas Fauzi masih pengangguran. Mas Firman hanya bisa memberiku sejuta dua juta. Itu tidak cukup mas. Aku butuh uang yang banyak untuk bisa diterima bergaul bersama teman temanku." Celoteh Fitri menjelaskan panjang lebar.


Fatimah hanya bisa diam, dia merasa malu pada dirinya sendiri karena sebagai orangtua dia tidak mampu memberikan uang untuk anaknya. Sedangkan Fauzi juga merasa sakit saat Fitri mengatainya waktu itu masih menjadi pengangguran.


*


*


*

__ADS_1


Lisna dan Mirna kini sedang makan siang di salah satu restoran ternama. Lisna memesan ruang privasi. Dia ingin makan sambil mengobrol banyak hal tentang dirinya.


"Aku kaget loh Lis, pas baca berita tentang ibu Luna yang mengumumkan kamu calon menantunya."


Mirna mulai mengarahkan pembicaraan kearah sana karena memang Mirna penasaran tentang hubungan sebenarnya Lisna dengan keluarga konglomerat itu.


"Kamu sudah mengenal ibu Luna sejak lama ya, Lis?"


Sebentar Lisna tampak menelan sisa makanan di mulutnya, lalu mereguk sedikit air.


"Aku mengenalnya sebagai tante Nita. Dia pernah menyelamatkan aku saat aku hampir terjun dari jembatan, dan itu terjadi di malam saat keluargaku kecelakaan mobil.." Tutur Lisna dengan pembawaan yang tenang seperti dia sudah benar benar mengikhlaskan apa yang telah terjadi.


"Awalnya, saat tante Nita menolongku, aku belum tahu tentang kecelakaan mobil yang dialami keluargaku. Aku mendapat kabar di pagi harinya, begitu juga dengan tante Nita, dia baru mengetahui ternyata putra sulungnya yang menjadi penyebab kecelakaan maut itu."


Penuturan Lisna kali ini menjawab rasa penasaran Lisna, mengapa Luna dan Elang selalu mengawasi Lisna.


"Lalu, mengapa ibu Luna malah menyatakan kamu sebagai calon menantunya?" Mirna masih tidak paham bagian itu.


"Mmm… sebenarnya, selama ini aku tidak pernah tahu tentang kejadian yang sebenarnya kecelakaan itu, mbak. Nah kemarin entah mengapa aku penasaran, iseng mencari tahu dan ketemulah semua berita itu. Jadi, aku datang ke perusahaan untuk marah sama tante Nita, tapi dia malah berlutut minta maaf dan karyawannya mulai mengejekku. Karena tante Nita kasihan aku di pandang rendah oleh karyawannya, dia malah mengumumkan kalau aku calon menantunya."


"Jadi itu hanya sekedar omongan belaka.."


Lisna menganguk dan kembali menyantap makanannya.


"Lalu, kenapa mas El malah mengatakan kamu menejer barunya?"


Lisna menggelengkan kepala. Bukan dia tidak tahu jawabannya, hanya saja dia sedang tidak mood untuk membahas sola Elang.


"Apapun itu, aku harap kamu terbebas dari orang orang yang tidak pernah menghargai keberadaan kamu, Lis. Ya seperti keluarga mantan suamimu si Fauzi itu."


"Aku sudah menemukan orang itu, orang orang baik yang menerima aku apa adanya." Ujar Lisna.


"Serius? Siapa?" Mirna tampak antusias.


"Mbak Mirna sama ibu Yumna." Jawabnya.


Mirna memonyongkan bibirnya mendengar jawaban Lisna. Dia tidak menginginkan jawaban seperti itu. Dia kira Lisna sudah menemukan pria yang baik dan tulus menyukainya.


"Loh kenapa mbak? Bukankah jawabanku benar, atau malah mbak tidak menyukai aku.."


"Bukan begitu Lisna. Maksudnya seseorang yang spesial yang bisa menerima kamu apa adanya. Bukan sahabat sepertiku, tapi someone special." Tegas Mirna agak kesal pada Lisna.

__ADS_1


"Entahlah mbak. Sepertinya belum ada yang seperti itu untuk saat ini. Lagi pula, aku baru bercerai. Jadi, aku tidak ingin terlalu cepat memberikan hatiku lagi pada seorang pria. Cukup, kegagalan masa lalu menjadi pelajaran berharga untuk aku melanjutkan kehidupanku kedepan."


"Kamu benar, Lis. Jangan mengambil keputusan terlalu buru buru, kadang tidak bagus untuk kedepannya." Ujar Mirna yang membuat Lisna tersenyum senang.


__ADS_2