
Usai makan bakso yang di ganggu oleh Gunawan, karena Gunawan ikut makan bakso bersama mereka. Sungguh mood Elang tidak baik sampai saat ini. Dia diam saja sejak tadi dan hanya fokus menyetir mobilnya.
"Kamu kenapa, El?" Tanya Lisna ragu.
"Siapa pak Gunawan itu bagi kamu Lisna?"
Mata Lisna melotot mendapat pertanyaan seperti itu dari Elang.
"Pak Gunawan itu bukan siapa siapa, El. Dia hanya rekan kerja saat masih bekerja di kantor cabang." Jawab Lisna malas.
"Tapi dia tampak menyukai kamu, Lis."
"Itu urusan dia, El. Lagi pula aku tidak bisa memerintahkan hati orang untuk tidak mencintaiku atau untuk jangan membenciku. Mereka berhak merasakan apapun di hati mereka."
"Kak Lisna marah karena aku bertanya seperti itu?"
Lisna mengerutkan dahinya saat mendengar Elang kembali memanggilnya kakak.
"Kamu kenapa sih Elang?" Tanya Lisna dengan suara rendah dan terdengar lelah.
"Aku cinta kamu Lisna. Jadi aku mohon, hanya tatap aku. Hanya lihat aku, jangan mengalihkan mata dan hati kamu pada pria lain. Aku mencintai kamu." Ucap Elang sedikit memaksa.
Lisna terdiam sejenak. Tadinya dia mulai merasa akan bisa menyukai Elang. Tapi, kini dia sadar, Elang masih menunjukkan sisi anak anaknya yang egois dan pemaksa. Sifat Elang yang seperti ini membuat Lisna kembali merasa belum ingin membuka hati terlalu cepat.
"Kenapa kak Lisna diam saja? Apa tidak ada sedikitpun rasa di hati kak Lisna untukku?" Tanya Elang dengan nada tinggi dan terdengar memaksa.
"Cukup Elang. Aku tidak suka di paksa dan dibentak seperti ini. Aku tidak meminta kamu untuk mencintaiku. Aku juga tidak pernah melarang kamu mencintaiku. Tapi, aku tidak suka dengan sikap kekanakan kamu yang seperti ini." Ungkap Lisna pada akhirnya.
"Kekanakan?"
"Turunkan aku Elang. Aku malas berdebat." Ujar Lisna.
__ADS_1
Elang tidak mengubris. Dia malah terus menyetir mobilnya dan bahkan sampai menambah kecepatan laju mobil yang membuat Lisna merasa ketakutan, tapi dia hanya bisa diam tidak ingin membuat Elang semakin marah.
Mobil Elang akhirnya berhenti di depan gedung apartemen. Lisna langsung turun tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sementara Elang hanya diam memperhatikan langkah Lisan hingga hilang dari pandangannya.
"Maafkan aku, Lisna. Aku keterlaluan. Aku tidak bermaksud membuat kamu marah. Aku hanya takut bersaing dengan Gunawan itu. Aku takut kamu akan memilih dia bukan aku." Gumam Elang menyesali perbuatannya yang berakhir membuat Lisna benar benar kesal padanya.
Sementara Lisna yang sudah tiba di rumah, langsung duduk bersandar di sofa. Tubuhnya terasa sangat lelah, mungkin karena hatinya yang juga terlalu lelah.
"Aku takut, Elang. Aku takut untuk memberikan hatiku pada kamu, Elang. Aku takut keputusanku terlalu buru buru hingga membuatku tersakiti lagi dimasa depan. Kamu masih terlalu muda untuk bisa mengerti apa yang pernah aku alami.."
Lisna memejamkan matanya sejenak. Bayangan saat pertama Fauzi mendekatinya dulu sama manisnya seperti cara Elang. Tapi, Lihatlah setelah menikah Fauzi malah membiarkan Lisna berkerja sendiri, berjuang sendiri dan juga keluarga Fauzi yang ternyata tidak menyukainya karena dirinya tidak bisa hamil.
"Bagaimana kalau akhirnya aku menerima kamu, Elang. Semuanya akan terulang. Kamu pewaris perusahaan, tentu orangtuamu berharap kamu bisa memberikan mereka keturunan lagi. Lalu, bagaimana dengan aku? Bagaimana kalau ternyata aku masih sama, belum bisa hamil dan aku akan tersakiti lagi. Aku tidak ingin mengulang kembali kisah yang sama untuk yang kedua kalianya."
Air mata Lisna menetes begitu saja. Hatinya terasa sakit, mengenang betapa wanita yang tidak bisa hamil sepertinya tidak diterima dengan baik di keluarga laki laki manapun.
*
*
*
Sedangkan Elang, dia mulai fokus mengambil alih perusahaan. Dia sudah memutuskan untuk berhenti didunia entertaimen dan fokus pada perusahaan.
Luna dan Sultan sangat senang akan keputusan Elang untuk kembali mengurus perusahaan. Namun, meski begitu ada putra pertama Luna yang merasa cemburu pada putra bungsunya. Kesehatan Erwin bertambah buruk dan dia hanya mengucapkan ingin menikahi Lisna.
"Apa yang harus aku lakukan mas?" Tanya Luna pada suaminya.
"Dokter bilang, kemungkinan Erwin tidak akan berumur panjang. Jadi, bagaimana kalau kita meminta bantuan Lisna untuk menikah dengan Erwin meski hanya sekedar pernikahan diatas kertas." Ujar Sultan memberi saran pada Luna.
"Itu akan menyakiti Lisna dan Erwin mas. Dan yang lebih tersakiti lagi tentu saja Elang. Dia sangat mencintai Lisna mas. Mana mungkin aku menikahkan Erwin dengan wanita yang dicintai oleh Elang. Rasanya aku menjadi ibu yang sangat jahat."
__ADS_1
Luna dilema. Dia bingung harus melakukan apa. Iya, dia bisa saja memaksa Luna untuk menikahi Erwin, tapi Luna terlalu menyayangi Lisna. Rasanya dia tidak sanggup memaksa wanita itu untuk menikahi putranya hanya karena egonya sebagai seorang ibu.
"Sayang, kita coba pikirkan cara lain. Cara yang bisa membuat anak anak bahagia." Sultan Muhdin memeluk Luna untuk memberikan ketenangan pada istrinya itu.
"Cara seperti apa yang bisa membuat mereka semua bahagia, mas?"
"Entahlah sayang. Saat ini mas juga belum bisa menemukan cara itu. Tapi, apa kamu lupa, doa tulus dari seorang ibu tidak akan ada yang dapat menghalanginya. Senjata kamu adalah doa. Berdolah untuk kebahagiaan anak anak."
Luna menghela napas, lalu dia beristighfar. Benar apa kata suaminya. Dia terlalu stres memikirkan masalah yang tidak tahu bagaimana solusinya. Padahal ada tempat untuknya mengadu dan meminta solusi penyelesaian dari masalah yang sedang di hadapinya.
Tidak jauh berbeda dengan Luna. Lisna juga sedang merasa buntu dengan permasalahan yang dia hadapi. Yang bisa dia lakukan hanya berdiam diri di rumah menghindari Elang yang berusaha meminta maaf dan ingin menemuinya.
"Lisna. Aku mohon, beri aku kesempatan sekali lagi. Aku minta maaf karena marah marah malam itu." Ujar Elang yang kini berdiri di depan pintu apartemen.
Lisna tidak menjawab. Dia mendengar apa yang dikatakan Elang. Hanya saja rasanya dia malas untuk menemui Elang dan membahas masalah yang membuatnya semakin stres.
"Lisna.. please!!"
Elang tampak benar benar menyesali kesalahannya yang terlalu buru buru memaksa Lisna untuk menerima perasaannya.
"Aku janji aku tidak akan memaksa kamu lagi, Lisna. Aku tidak akan marah marah atau membentak kamu lagi. Aku mohon, beri aku kesempatan sekali lagi…"
Cekleekkk…
Lisna membuka pintu itu. Tapi dia tidak mempersilahkan Elang masuk. Justru Lisna lah yang keluar dari rumahnya.
"Lisna. Aku minta maaf!" Elang memohon maaf dihadapan Lisna dengan wajah mengiba.
"Berjanjilah jangan memaksaku atau membentakku lagi, Elang. Aku tidak suka itu."
"Aku janji, Lisna. Aku janji akan menjadi lebih baik untuk kamu."
__ADS_1
Elang merasa lega karena akhirnya dia bisa kembali bersama dengan Lisna walaupun memang dia harus lebih banyak bersabar untuk bisa meyakinkan Lisna bahwa dia benar benar tulus mencintai Lisna.