
Akhirnya hari gajian tiba. Sore ini Lisna pulang dari kantor dengan hati gembira, karena ternyata gajinya telah dinaikkan dari yang awalnya 5 juta kini menjadi 6,5 juta.
"Mbak, terimakasih sudah membantu menaikkan gajiku." Ucap Lisna pada Mirna saat Mirna memberitahunya bahwa gajinya dinaikkan.
"Tidak perlu berterimakasih sama aku. Pak Tio bilang, bagian pusat menyukai cara kerja kamu yang rapi dan terstruktur. Makanya pak Tio menaikkan gaji kamu." Jelasnya.
"Siapapun itu, pokonya terimakasih banyak, mbak."
Tanpa sadar Lisna memeluk Mirna yang terdiam kaget tidak menyangka Lisna akan memeluknya. Tapi, kemudian Mirna membalas pelukan Lisna, wanita tangguh yang sangat dikaguminya sejak Mirna mengetahui kisah rumah tangga Lisna dua tahun lalu.
"Kamu berhak mendapatkan gaji lebih besar, Lis."
Pelukan mereka disudahi oleh Lisna. "Kalau begitu aku izin pulang duluan ya mbak."
"Nggak mau makan malam bereng nih?"
"Mmm.. lain kali ya mbak. Takutnya mas Fauzi sudah menunggu di rumah."
"Iya deh, yang paling taat suami." Sindir Mirna bercanda.
"Hanya mas Fauzi satu satunya keluarga yang aku punya, mbak." Jawab Lisna dengan mata berkaca kaca tapi bibir tersenyum lebar.
Mendengar pengakuan itu membuat Mirna merasa tidak enak. Dia lupa, bahwa Lisna yatim piatu dan memang sudah hidup sendiri sejak usia 17 tahun sampai usia 23 tahun dan dinikahi Fauzi saat itu. Lisna pernah menceritakan sedikit kisah hidupnya hingga akhirnya dinikahi Fauzi.
"Maafkan aku, Lis. Aku tidak bermaksud…"
"Iiih mbak Mirna kenapa malah minta maaf. Ada ada saja." Sambung Lisna memotong ucapan Mirna.
"Aku pulang duluan ya, mbak. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Hati hati di jalan, Lis."
Mirna melambaikan tangannya mengiringi kepergian Lisna yang akhirnya menghilang dibalik pintu ruangannya.
"Ternyata memang ada wanita sabar seperti Lisna. Bertahun tahun menikah tidak dinafkahi oleh suami, tapi dia tidak mengeluh atau marah. Dia malah bekerja keras untuk menafkahi dirinya sendiri dan juga suaminya. Kamu sungguh wanita yang dirindu surga, Lisna." Gumamnya memuji Lisna yang sangat dikagumi kepribadiannya.
Sementara itu, Lisna kini sudah melaju dijalan raya mengemudikan motor metiknya. Tidak berapa lama, dia berhenti di ATM untuk menarik uang, barulah dia mampir di toko sepatu.
Lisna tampak memilih sepatu pria, tapi dia tidak tahu harus memilih yang mana. Melihat Lisna kebingungan, seorang wanita muda penjaga toko pun menghampirinya.
"Ada yang bisa di bantu, mbak?" Tanya wanita itu sopan.
"Ee.. saya mau beli sepatu untuk suami saya, dek. Tapi saya bingung mau pilih yang mana."
"Mbak mau yang modelnya seperti apa?"
Sebentar Lisna melirik sepatu sport lalu, menyentuhnya untuk memberitahukan bahwa seperti itu model sepatu yang dia inginkan.
"Ukuran berapa, mbak?"
"41."
__ADS_1
Wanita itu melangkah menuju rak sepatu pria, lalu memberikan tiga contoh sepatu sport yang bagus untuk pria. Dan Lisna memilih yang ke dua. Sepatu sport warna putih.
"Tunggu sebentar saya cari ukurannya dulu ya, mbak."
"Iya."
Sembari menunggu wanita itu kembali, Lisna mencoba satu sepatu kets yang pas dikakinya.
"Bagus.."
Dia melihat harganya yang ternyata cukup mahal menurutnya. Jadi, Lisna mengurungkan niatnya membeli sepatu itu. Dia hanya membelikan sepatu untuk suaminya saja.
"Ini sepatunya, mbak. Ada yang lain lagi?" Tanya wanita itu sambil tersenyum ramah.
"Tidak, terimakasih dek."
"Semoga harinya menyenangkan dan sampai berjumpa lagi, mbak." Ujarnya sebelum Lisna melangkah menuju kasir membawa tas berisi sepatu yang akan dibelinya.
Alhamdulillah. Akhirnya aku bisa membelikan mas Fauzi sepatu yang dia inginkan selama ini.
*
*
*
Lisna sudah tiba di rumah satu jam yang lalu. Dan kini sudah pukul delapan malam tapi Fauzi belum pulang. Bahkan Lisna tidak bisa terhubung saat menelpon suaminya itu.
"Mas Fauzi kemana ya. Biasanya saat aku gajian, mas Fauzi selalu menunggu di rumah." Ocehnya khawatir.
"Harusnya aku mengajak mas Fauzi makan malam romantis di restoran sekali kali. Tapi, takutnya nanti uang tidak cukup untuk sebulan kedepan.."
Tiba tiba telinga Lisna mendengar suara motor Fauzi memasuki perkarangan rumah kontarakan mereka. Dengan cepat dia berlari kedepan membuka pintu dan tersenyum sangat manis menyambut kepulangan suaminya.
"Mas, sudah pulang?" Menghampiri Fauzi dan mencium punggung tangan Fauzi yang malah memiliki aroma parfum cewek.
"Kamu sudah lama pulangnya, Lis?"
Lisna mengangguk masih sambil tersenyum. Kemudian, tiba tiba Fauzi menarik tubuhnya untuk dipeluknya. Lisna terkejut, tidak pernah Fauzi memeluknya seerat ini terlebih ini masih di teras. Lisna pun hendak melepaskan diri, tapi pelukan Fauzi semakin kencang.
"Mas, kenapa? Jangan seperti ini, kita masih di luar loh. Nanti kalau tetangga melihat, malu loh mas."
"Tetaplah seperti ini semenit saja, Lis. Aku sangat merindukan istriku hari ini."
Mendengar kalimat manis itu keluar dari mulut Fauzi, membuat Lisna merasa bahagia dan dia pun membiarkan pelukan itu sampai akhirnya Fauzi benar benar melepaskannya.
"Kamu wangi dan cantik sekali hari ini, sayang?" Puji Fauzi sambil mengendus endus bagian leher Lisna yang tertutup jilbab segi empat panjangnya.
"Iya dong mas. Malam ini aku punya hadiah untuk mas. Ayok kita masuk tapi mas tutup mata."
Dahi Fauzi berkerut menatap istrinya dengan tatapan heran bercampur penasaran. "Hadiah apa nih?" Ujarnya penasaran.
__ADS_1
"Ada deh. Mas tutup mata ya. Aku bantu mas jalan untuk masuk ke rumah."
"Baiklah. Nih aku tutup mata."
Fauzi memejamkan kedua matanya erat erat. Lalu Lisna memapahnya masuk ke rumah, menuju dapur dan mendudukkan Fauzi di kursi tepat di depan meja makan yang sudah dihiasnya sangat cantik. Sementara lampu di dapur sengaja dimatikan dan hanya diterangi oleh cahaya lilin saja.
"Sudah boleh buka mata belum nih?" Tanya Fauzi.
Dengan cepat Lisna duduk di kursi yang langsung berhadapan dengan Fauzi, dia juga meletakkan tas sepatu yang tadi dibelinya di atas meja.
"Aku hitung ya mas. Dalam hitungan ke tiga mas boleh buka mata."
"Siap, sayangku."
"Satu…"
Mata Lisna menatap wajah Fauzi dengan tatapan penuh cinta.
"Dua…"
Mata itu mulai berkaca kaca.
"Tiga…"
Air mata Lisna menetes berbarengan dengan Fauzi membuka matanya.
"Taraaaa…"
Lisna bertepuk tangan dengan bahagia. Dan Fauzi malah fokus menatap bulir bulir bening yang menetes dari pelupuk mata istrinya itu.
"Kenapa nangis, sayang?" Tangan Fauzi terulur tepat kewajah Lisna. Disapunya air mata yang mengalir dipipi istrinya.
"Aku bahagia, mas. Aku sangat bahagia.. mas tahu, gajiku dinaikkan." Ungkapnya senang.
"Benarkah?"
Lisna mengangguk pasti.
"Syukurlah. Selamat ya sayang." Mengelus lembut pipi Lisna yang hanya merespon dengan anggukan dan senyum bahagia.
"Ini untuk, mas. Semoga mas suka." Mengulurkan tas berisi sepatu pada Fauzi.
"Apa ini, sayang?"
"Buka dong, mas…"
Fauzi membuka hadiahnya. Matanya melotot dan kedua sudut bibirnya terangkat sempurna saat mengetahui hadiahnya adalah sepatu sport yang diinginkannya selama ini.
"Lisna, sayang… Terimakasih."
Fauzi bangkit dari kursinya. Dia menghampiri Lisna dan memeluknya lagi dengan erat, juga memberi ciuman di bibir istrinya itu.
__ADS_1
Oh Tuhan, apa yang aku lakukan. Betapa baiknya istriku. Betapa kejamnya aku yang telah mengkhianatinya. Bisik Fauzi dihatinya.
Seluruh tubuh mas Fauzi berbau parfum wanita. Apa yang sebenarnya mas Fauzi lakukan di belakangku. Ya Allah, sabarkan aku agar aku tidak menuduhkan hal yang belum tentu benar ini pada suamiku. Ampuni hamba ya Allah. Pikir Lisna yang merasa sesuatu yang buruk telah terjadi.