Air Mata Terakhir Istri Pertama

Air Mata Terakhir Istri Pertama
Lio, Dio dan Kai


__ADS_3

Akhirnya kini Lisna dan Elang kembali kepelukan putranya lagi setelah dua minggu berjauhan. Saat turun dari mobil Lisna langsung berlari mengejar Lio dan Dio yang juga berlari kearahnya.


"Mama.." Panggil mereka pada Lisna, sementara Luna nenek mereka hanya mengawasi dari dalam rumah.


"Sayang, mama kangen banget!"


Lisna memeluk kedua putranya dan menciumi mereka bergantian. Sementara si kecil Kai digendong oleh suaminya.


"Kakak sehat?"


Lio mengangguk yakin. "Dio yang demam kemarin." Adunya.


"Oh sayang, Dio demam, nak?" Lisna menyentuh kening Dio yang sudah tidak panas.


"Hanya pilek, mama. Aku baik baik saja kok. Kak Lio saja yang heboh." Ocehnya gemas.


"Iiih Dio kemarin nangis, ma. Dia mau digendong mama katanya." Balas Lio lagi.


"Oya.. oh sayang. Ya sudah sini kak Lio sama kak Dio mama gendong."


Lisna hendak menggendong dua putranya tapi Dio langsung menjauh. Hal itu membuat Lisna bingung.


"Kenapa sayang? Katanya mau digendong mama.."


"Mama gendong kak Lio saja dulu. Nanti kalau gendong berdua juga berat. Mama capek." Ujar Dio yang membuat Lisna terharu. Betapa manisnya putra tengahnya itu.


"Ya sudah, sini kak Lio sama kak Dio papa saja yang gendong. Tentu papa lebih kuat dari mama." Sambung Elang ikut menimpali obrolan mereka.


Dio tersenyum, dia langsung berlari menghambur dalam pelukan papanya, diikuti juga oleh Lio.


"Oh jagoan papa!" Elang akhirnya menggendong sekaligus ketiga putranya.

__ADS_1


Lio digendong di punggung, sementara Dio dan Kai digendong kanan kiri oleh papa mereka.


"Ayo, mama. Kita masuk. Nenek sudah menyiapkan banyak makanan." Ujar Dio mengajak mamanya.


Segera saja Lisna ikut mengekor dibelakang mereka sambil sesekali menggelitik kaki si sulung yang membuat si sulung tertawa merasa geli.


"Ma gendong!" Seru Dio tiba tiba.


Lisna dengan segera mengambil alih Dio dari suaminya.


Dio langsung mengecup pipi mamanya. "Aku kangen mama." Bisiknya sambil merebahkan kepalanya di pundak sang mama.


"Mama juga kangen.." Sahut Lisna memberikan ciuman dipipi putranya.


Semakin bertambah usia anak anaknya Lisna semakin tahu dan jelas melihat seperti apa karakter masing masing putranya.


Lio, anak pertamanya sangat baik memerankan perannya sebagai kakak. Dia selalu melindungi adik adiknya terutama saat bermain bersama anak anak lain. Lio akan sangat marah jika ada anak lain yang mencoba menyakiti adik adiknya.


Nah kalau si bungsu Kai. Dia berhati lembut, manja dan tidak suka di ganggu, tapi cepat meminta maaf saat sudah membuat kakak kakaknya tersinggung atau marah karena ulahnya. Seperti saat ini, Lio dan Dio sedang membereskan mainan mereka yang berantakan. Sementara Kai malah asik duduk sambil makan.


"Kai, bantu bersihin. Kamu kan juga ikut berantakin ini!" Teriak Dio pada adik bungsunya itu.


"Malas, capek." Jawabnya cuek.


"Dasar manja." Ledek Dio.


Kai diam saja dan terus makan. Dia tidak peduli sama sekali pada kedua kakaknya yang sedang berberes. Kemudian, tiba tiba makanannya tumpah, nah Dio gunain saja untuk menjahili adik bungsunya itu.


"Mama, Kai menumpahkan makanan di karpet!" Teriak Dio mengadukan ulah adik bungsunya.


Kai yang kalap tanpa sadar melemparkan mangkuk makananya tepat mengenai kepala Dio. Alhasil kak Dio menangis lantang, karena memang rasanya sakit sekali.

__ADS_1


"Ya ampun anak anak, kenapa ini?" Lisna melihat keadaan Dio yang menangis guling guling di lantai, makanan berserakan di karpet dan Lio diam saja sambil terus mengumpulkan mainan yang berserakan.


"Kai melempar Dio, ma." Adu Lio menunjuk kearah Dio yang menangis meraung raung memegangi kepalanya.


"Kai, kenapa malah melempar kak Dio sayang?" Tanya Lisna berjongkok dihadapan putra bungsunya.


Hhikkss...


Tiba tiba Kai menangis. Dia melangkah perlahan mendekati Dio dan mengusak kepala Dio yang terkena lemparannya tadi. Melihat itu Lio pun mendekati kedua adiknya.


"Dio jangan nangis lagi. Kai jadi nangis juga nih.." Lio membujuk Dio. "Kai tidak sengaja, kan Kai?" Sambung Lio.


"Kamu juga Kai, harus minta maaf sama kak Dio. Tidak boleh melempar barang sembarangan apa lagi ke kepala." Lanjut Lio mengomel pada Kai.


Kai yang masih menangis sambil mengusak kepala Dio pun akhirnya bertambah menangis histeris.


"Maaf kak Dio. Aku tidak sengaja, hhiikkkss.." Ucap Kai meminta maaf sambil menangis.


Sontak saja Dio langsung diam. Dia duduk dan menatap wajah Kai, lalu menghapus air mata di wajah adik bungsunya itu.


"Lain kali jangan hanya diam saja saat orang orang bekerja. Itu perbuatan buruk namanya." Ujar Dio pada adiknya dan Kai hanya menganggukkan kepalanya menanggapi ocehan kakaknya.


Lisna hanya diam melihat interaksi ketiga putranya. Kini usia Lio sudah enam tahun, Dio lima tahun dan Kai empat tahun. Mereka semakin menggemaskan setiap pertambahan umur mereka masing masing.


"Jadi sekarang kalian sudah berbaikan?" Tanya Lisna menatap ketiga putranya sambil tersenyum.


Mereka mengangguk serentak. Lisna membuka tangannya dan memberi kode agar tiga jagoaannya itu memeluknya.


"Maafkan kami, mama.." Mereka berhamburan masuk dalam dekapan Lisna.


Mata Lisna berair. Hatinya sangat bahagia melihat pertumbuhan ketiga putranya dari hari ke hari. Interaksi mereka juga semakin menggemaskan. Tidak ada hari yang membuat Lisna berhenti mengucap syukur pada Allah atas kebahagiaan yang dititipkan pada keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2