
Lisna dan Elang baru saja usai membersihkan diri dan saat ini mereka sudah berganti pakaian. Elang memakai piyama yang disipkan hotel, begitu juga dengan Lisna.
"Sayang, kesini bentar deh!" Seru Elang yang berbaring diatas ranjang sejak tadi sementara Lisna masih sibuk merapikan jilbabnya di depan cermin.
"Ada apa?" Lisna menghampiri suaminya itu segera. Dia duduk di pinggir ranjang. "Kenapa wajahmu sepeti itu, El?" Tanya Lisna heran melihat wajah Elang tiba tiba bersemu merah sambil menatap layar handphone bergantian menatap kearahnya juga.
"Mmm, boleh tidak aku meminta sesuatu?" Tanya Elang ragu.
"Meminta apa?"
"Ini. Aku mau kamu memakai pakaian seperti ini."
Elang memperlihatkan contoh pakaian yang dia inginkan untuk Lisna pakai.
"Boleh." Jawab Lisna santai. Sebenarnya dia juga gugup dan sangat malu. Tapi, karena sudah pernah menikah sebelumnya, Lisna ingin terlihat lebih mahir saja di hadapan suaminya.
"Benaran?"
"Iya. Kamu tunggu sebentar ya."
Lisna kembali melangkah menuju kamar mandi. Di kamar mandi, pihak hotel sudah menyiapkan baju dinas yang luar biasa indahnya untuk pengantin baru itu. Tadinya Lisna sengaja menyembunyikan baju dinas itu karena malu. Tapi, setelah Elang memintanya untuk berpakaian seperti itu, Lisna merasa harus melakukannya. Dia akan memberikan yang terbaik untuk suaminya itu.
Elang tampak gugup menunggu Lisna yang cukup lama di kamar mandi.
"Apa yang harus aku lakukan?" Elang mondar mandir di depan pintu kamar mandi.
__ADS_1
"Sayang, haruskah aku matikan lampu?" Tanya Elang ragu.
"Tidak usah, sayang. Kamu berhak melihatku dengan jelas tanpa harus terhalang kegelapan. Aku milikmu suamiku!" Seru Lisna yang merasa geli sendiri mengatakan kata kata seperti itu.
"Begitukah?"
Ceklekk…
Pintu kamar mandi terbuka lebar. Lisna berdiri dengan anggunnya di sana tepat dihadapan suaminya. Tubuh Lisna sangat mempesona dibalut baju dinas itu. Elang terperangah melihat betapa cantiknya Lisna.
Rambut Lisna ternyata panjang dan bergelombang, dia biarkan terurai begitu saja tanpa merapikannya.
"Apa, suamiku suka?" Tanya Lisna yang mulai melangkah keluar dari kamar mandi.
"Tentu, aku suka. Kamu cantik sekali, sayang." Puji Elang.
Tanpa pikir panjang, dia pun mengangkat tubuh Lisna memeluknya erat, dan menyesap aroma tubuh Lisna untuk pertama kalinya.
Dengan perlahan Elang membaringkan Lisna di atas ranjang, dia ikut tengkurap di atas tubuh Lisna. Tentu saja dengan menjadikan kedua sikunya sebagai tumpuan agar tidak menghimpit tubuh Lisna.
"Kamu cantik sekali, Lisna."
"Tentu, dan mulai saat ini, semua yang ada padaku adalah milikmu, suamiku." Lisna memejamkan matanya setelah mengatakan itu.
Tangan Lisna melingkar di leher Elang dengan erat sejak tadi tidak pernah dia lepaskan.
__ADS_1
"Haruskah kita mulai sekarang?" Bisik Elang dengan suara seraknya yang tertahan mungkin karena menahan gejolak rindu yang telah menguasai seluruh dirinya.
Lisna tidak menjawab, dia hanya tersenyum dengan mata yang tetap tertutup rapat.
Elang mendekatkan wajahnya ke wajah Lisna. Lalu, dia mendekatkan bibirnya ke kening Lisna dan membaca doa untuk mulai melakukan kegiatan ibadah pertama mereka sebagai suami istri.
Setelah berdoa, Elang langsung mencium kening Lisna, mata, hidung, pipi dan berakhir di bibir lembut milik istrinya itu.
"Kamu tidak menyesal menikahi janda yang terpaut usia empat tahun lebih tua darimu, El?" Tanya Lisna tiba tiba saat Elang mulai menggerakkan tangannya menelusuri setiap inci tubuh indah istrinya itu.
"Tidak ada penyesalan sedikitpun, sayang. Aku sangat mencintaimu. Selama lamanya."
Setelah itu Lisna tidak lagi menanyakan apapun, dia sudah tidak punya kesempatan lagi untuk bertanya karena Elang terus memberikannnya belaian penuh cinta yang semakin membuat Lisna menggila bahkan sampai ingin menangis sangking bahagianya dia berada dalam pelukan Elang seutuhnya.
Elang tidak berpengalaman sama sekali dengan kegiatan ini. Meski begitu dia bisa membuat Lisna merasa dicintai seutuhnya. Lisna juga membantu memberikan saran pada Elang untuk menyentuhnya dibagian bagian tertentu yang dia sukai.
"Kamu menyukainya, sayang?" Tanya Elang berbisik menggoda Lisna. Dan yang bisa Lisna lakukan hanya mengangguk saja.
Pertualangan Elang berlanjut membuai Lisna bahkan sampai mengantarkan Lisna terbang tinggi. Setelah merasa Lisna nyaman, barulah Elang melakukan kegiatan yang sesusungguhnya.
Selama ini Elang tidak pernah tahu bagaimana rasanya wanita yang masih dara atau sudah janda. Tapi, bersama Lisna, dia bisa merasakan seperti apa dara yang dimaksud oleh teman temannya dulu. Memang Lisna tidak dara lagi. Tapi yang Elang rasakan malam ini, layak dia katakan bahwa Lisna memberinya kesan rasa seakan dia berhubungan dengan seorang dara.
Air mata Elang dan Lisna sama sama menetes. Mereka tenggelam dalam rasa mereka masing masing dan saling memberikan pelukan hangat penuh cinta, kasih dan sayang.
"Aku sangat mencintaimu, Lisna."
__ADS_1
"Aku juga. Aku mencintaimu suamiku."
Keduanya akhirnya terlelap setelah merasa lelah dengan kegiatan panas mereka di malam pertama. Meski tubuhnya terasa sangat gerah, Elang tidak berpikir untuk melepaskan pelukannya pada Lisna yang sudah lebih dulu masuk dalam dunia mimpinya.