Air Mata Terakhir Istri Pertama

Air Mata Terakhir Istri Pertama
Undangan pernikahan


__ADS_3

Usai memilih gaun, Elang membawa Lisna ketempat percetakan undangan pernikahan. Mereka kompak memilih jenis undangan yang bertema fairy tale juga. Tentu saja untuk menyesuaikan dengan konsep pesta pernikahan mereka nantinya.


Setelah selesai memilih design undangan, Elang mengajak Lisna menemui WO yang merupakan sahabat dekat mamanya.


Kali ini cukup lama Elang dan Lisna berada di tempat itu. Mereka memilih tema dekorasi untuk pernikahan mereka sesuai yang Elang inginkan.


"Apa tidak terlalu berlebihan, El?" Bisik Lisna.


"Tidak ada yang berlebihan sayang. Menikah hanya sekali seumur hidup. Aku ingin pernikahanku berkesan sampai anak cucu kita nanti. Dan jangan permasalahkan uang, insyaAllah uangnya ada kok. Kamu tenang saja, oke." Bisik Elang untuk membuat calon istrinya itu lebih tenang dan lebih santai.


Yang Lisna bisa lakukan hanya mengangguk setuju dan mencoba untuk mempercayakan semuanya pada calon suaminya itu.


Setelah menentukan konsep pernikahan, Elang juga menyewa gedung di salah satu hotel bintang lima.


Semuanya di persiapkan oleh Elang dengan sangat matang. Dia benar benar ingin membahagiakan Lisna seumur hidup Lisna semampu yang bisa dia lakukan. Itulah janjinya pada dirinya sendiri.


Usai mengurus semuanya, Elang mengajak Lisna makan siang di restoran mewah awalnya. Tapi Lisna malah minta makan siang di tempat biasa, kedai sambel lalap kesukaannya. Mau tidak mau Elang pun ikut saja yang penting Lisna bahagia.


"Ini pertama kali kamu makan disini ya, El?" Tanya Lisna yang mulai menyantap makan siangnya.


"Nggak juga. Pernah waktu itu ketemu klien yang minta bertemu di tempat seperti ini." Jawabnya.


Elang tampak bingung mau makan apa. Melihat itu, Lisna mencubitkan daging ikan gurame bakar lalu meletakkannya ke piring Elang yang sudah berisi sedikit nasi putih.


"Coba deh, rasanya enak loh. Apa lagi kalau makannya sama sambel dan lalapan." Celoteh Lisna mengajarkan pada Elang cara makan yang enak.


Akhirnya Elang mencoba mengikuti instruksi dari Lisna dan begitu makanan masuk ke mulutnya, lidahnya langsung disuguhi perpaduan rasa, pedas, manis, asin, asam dan segar dari sambel dan daging ikan yang empuk serta rasa bumbunya yang luar biasa meledak di mulutnya.


"Enak?" Tanya Lisna.


"Enak banget.." Jawab Elang sambil tergemu karena mulutnya penuh dengan makanan.


Lisna senang melihat Elang yang akhirnya suka makanan kedai pilihannya.


"Kenapa aku baru tahu kalau ada makanan seenak ini."


"Berlebihan."

__ADS_1


"Aku serius Lisna. Memang sih makanan restoran itu enak, tapi sensasi makan enak seperti ini baru kali ini loh aku rasa."


Elang benar benar menikmati makan siangnya. Dia bahkan sampai tambah nasi dan ikan gurame bakar lagi sangking sukanya.


Lisna hanya menatap sambil tersenyum. Elang benar benar pria yang telah dipilihnya untuk menemaninya seumur hidup. Lisna berharap, pilihannya kali ini tidak salah lagi.


"Sayang, kok malah bengong. Ayo lanjut makan, sampai kenyang."


Suara Elang membuyarkan lamunan Lisna. Dia pun kembali ikut menyantap menu makan siang yang lezat dan nikmat itu.


"Kenapa makannya dikit sayang?" Protes Elang melihat Lisna sudah menyelesaikan makan siangnya.


"Aku harus diet, nanti kalau banyak makan malah gemuk dan gaunnya gak akan muat." Ujar Lisna berbohong. Dia memang sudah kenyang bukan karena diet.


"Nggak usah diet diet segala. Nanti kalau gaunnya nggak muat kita bisa ganti gaun yang lain."


"Segampang itu?"


"Iya. Kenapa harus mempersulit. Kalau ada yang mudah ya harus di permudah kan?"


Elang bicara masih dalam keadaan mulut penuh dengan makanan, sehingga membuat Lisna merasa cara bicara Elang sangat lucu dan menggemaskan.


Melihat Lisna tertawa membuat Elang merasa ikut senang.


*Aku harap kamu akan selalu bahagia seperti ini selamanya Lisna. Aku sangat sangat sangat mencintaimu.*


*


*


*


Undangan pernikahan Elang dan Lisna akhirnya di tebarkan hari ini ke semua teman, sahabat dan kerabat Elang. Juga pada sahabat dan teman teman Lisna.


Di kantor cabang PT Jati, hampir semua karyawan mendapatkan undangan pernikahan Elang dan Lisna. Mereka turut berbahagia atas kabar menggembirakan itu. Meski memang ada pihak yang kecewa, seperti Gunawan dan juga Aida.


Aida mengagumi Elang sejak lama. Dia merasa sedih karena tidak seberuntung Lisna yang dipilih Elang untuk menjadi istrinya. Sementara Gunawan, merasa patah hati. Lama menyukai Lisna, namun ternyata Lisna masih tidak bisa menjadi miliknya.

__ADS_1


Mirna justru orang yang paling bahagia mendapat berita pernikahan Elang dan Lisna. Mirna bahkan langsung menghubungi Lisna.


"Ya ampun, Lisna. Aku benar benar bahagia. Selamat ya sayang, akhirnya kamu akan menikah lagi. Kali ini aku berdoa semoga Elang akan selalu menjaga dan membahagiakan kamu seumur hidup." Celoteh Lisna melalui sambungan telepon.


"Terimakasih ya mbak."


"Pokoknya hari ini kita harus bertemu. Aku ingin mengobrol langsung sama calon pengantin cantikku ini."


"Ya sudah, kalau begitu kita ketemu pas makan siang saja, gimana mbak?"


"Oke deal. Aku akan jemput kamu ke kantor mu, oke."


"Iya mbak. Aku tunggu."


Panggilan berakhir. Lisna bahagia sekali, mendapat doa dari Mirna yang memang satu satunya sahabat yang sudah seperti keluarga baginya.


Berbeda dengan Mirna, di kediamannya Fauzi dan Wulan terdiam mendapat undangan pernikahan dari Lisna. Terutama Wulan, dia merasa Lisna tidak mungkin menikah dengan pria kaya raya seperti Elang.


"Halah, paling juga sebentar Lisna akan diceraikan sama Elang." Gumam Wulan.


"Loh kok kamu malah ngomong gitu sih, Wulan." Protes Fauzi tidak suka.


"Ya mas pikir aja. Mas sama mama saja nggak bisa menerima Lisna yang mandul itu. Apa lagi mereka keluarga kaya raya yang pastinya mereka sangat mengutamakan yang namanya keturunan. Garis keturunan selanjutnya."


"Doakan saja yang terbaik Wulan. Doakan semoga Lisna bisa hamil. Gitu saja kok susah." Rutuk Fauzi.


"Sekalinya mandul ya tetap mandul lah mas. Mas juga membuang Lisna karena dia tidak bisa hamil."


Fauzi terdiam, benar apa yang dikatakan Wulan. Dia meninggalkan Lisna karena Lisna tidak bisa memberinya keturunan. Tapi, bukan berarti Lisna mandul. Bisa saja nanti Lisna akhirnya bisa mengandung setelah menikah lagi.


"Nanti kita harus datang. Aku mau memakai gaun yang paling elegan dan mahal. Aku tidak mau terlihat gembel di hadapan Lisna, mas."


"Aku tidak punya banyak uang, Wulan. Uangku hanya cukup untuk membeli makanan dan bayar obat ibu." Ujar Fauzi.


"Ya itu urusan kamu mas. Pokoknya aku nggak mau tahu, masih ada dua minggu lagi menjelang pernikahan Lisna. Ya kamu usahakan dong untuk membelikan aku gaun yang bagus."


Wulan selalu memaksa Fauzi melakukan apapun yang dia mau. Padahal, kondisi Fauzi sudah sangat memperihatinkan. Tenaganya dan pikirannya terkuras habis sejak hidup bersama Wulan. Sangat berbeda saat masih bersama Lisna. Dia hanya tinggal di rumah menikmati semuanya dan Lisna akan memberinya uang berapapun yang dia mau.

__ADS_1


Inikah karmaku? Mungkin dulu Lisna juga sangat kelelahan dan pikirannya capek karena mengurusi aku. Maafkan aku Lisna. Kini aku sudah merasakan betapa kesusahannya kamu waktu hidup bersamaku. Aku doakan kamu bahagia dengan suami barumu, Lisna. Kamu berhak mendapat kebahagiaan.


__ADS_2