
Ddrriiittttt…
Drriiiittttt…
Suara deringan handphone Elang mengusik tidur Lisna. Perlahan dia membuka matanya dan meraih hp yang ada di atas nakas.
Elang merasakan pergerakan Lisna malah mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Lisna.
"El, Disti menelpon." Ujar Lisna.
"Biarkan saja. Matikan hp-nya sayang." Titahnya.
"Tapi dia mengirim foto hasil tespeck…"
Kalimat itu membuat mata Elang terbuka lebar. Dilihatnya foto yang dimaksud Lisna.
"Lisna, sayang… kamu percaya kan sama aku?" Elang manarik tubuh Lisna untuk ikut duduk bersamanya masih diatas ranjang.
"Aku percaya."
"Sayang, demi Allah aku tidak pernah melakukan hal seperti itu dengan wanita manapun selain kamu.." Tutur Elang menjelaskan dengan raut wajah takut. Dia takut Lisna mempercayai apa yang dilihatnya.
Lisna melingkarkan tangannya di leher Elang. Dia memeluk erat tubuh suaminya itu.
__ADS_1
"Aku percaya kamu, El. Jangan takut. Aku akan tetap disini bersama kamu." Bisik Lisna mencoba menenangkan Elang.
"Aku takut, sayang. Aku takut kamu tidak percaya padaku. Aku takut aku menyakiti kamu lagi."
"Tidak El, kamu tidak menyakiti aku. Aku percaya kamu sepenuhnya."
Tentu Lisna percaya. Karena sebenarnya, sekitar dua bulan lalu, Lisna melihat Disti keluar masuk hotel beberapa kali dengan teman sesama artisnya. Dan pria itu tanpa Disti ketahui, sudah punya istri yang dia sembunyikan di luar negeri. Lisna tahu informasi itu, karena istri si artis pria yang menghamili Disti adalah kenalan Mirna.
"Aku akan menuntut Disti atas pencemaran nama baik. Aku tidak akan tinggal diam."
"Nggak mau." Rengek Lisna tiba tiba dengan suara manjanya.
"Kita harus liburan dulu, aku mau bulan madu sama suamiku. Jangan memikirkan masalah apapun dulu selama kita bulan madu, ya.."
"Keinginan di kabulkan."
Elang menggendong tubuh Lisna menuju kamar mandi. Mereka harus mandi karena sebentar lagi azan subuh akan segera berkumandang.
Sementara itu, Disti tampak frustasi di kamarnya. Dia tidak menyangka akan hamil secepat ini. Terlebih pria yang menghamilinya tidak mau mengakaui kehamilannya. Tidak ada pilihan lain selain Disti menyebarkan gosip bahwa dia sedang mengandung anak seorang Elang Pratama Putra yang baru melangsungkan pernikahan kemarin.
"Disti, apa kamu gila! Kenapa kamu harus mengganggu Elang. Dia baru saja menikah dan kamu malah menyebarkan gosip seperti ini." Teriak kakak Disti memaki adiknya itu.
"Aku tidak punya pilihan, mbak. Aku tidak mau anakku lahir tampa ayah."
__ADS_1
"Tapi bukan Elang juga yang kamu jadikan kambing hitam, Disti."
"Semua orang tahu aku dan Elang pernah punya hubungan dekat. Lagian netizen juga sangat mendukung hubunganku dengan Elang. Dengan begitu, anakku akan lebih mudah punya ayah, kak."
"Ya ampun, Disti sadar kamu, dek. Elang tidak akan mengakui anakmu. Dia sangat mencintai istrinya."
"Lisna itu mandul, mbak. Aku yakin Elang akan menerima bayiku karena si Lisna itu tidak akan bisa mengandung benih Elang sampai kapanpun.."
Disti benar benar kekeh untuk meminta pertanggung jawaban Elang. Dia akan menjadikan Lisna yang tidak bisa hamil sebagai senjatanya untuk bisa diterima di keluarga Elang.
"Mbak harus bantu aku. Aku akan mengusut masalah ini kepengadilan. Aku akan megakui kalau Elang memperkosaku dua bulan lalu tepat sebelum Lisna menerima lamarannya."
"Kamu gila Disti. Mbak tidak mau ikut campur rencana buruk kamu."
"Tolong aku mbak. Kalau tidak aku akan mati bersama bayi ini." Disti mengancam akan bunuh diri.
Sebagai kakak, tentu saja Dewi tidak akan tega hal buruk terjadi pada adiknya.
"Baik, dek. Baik, mbak akan ikuti skenario yang kamu inginkan. Tapi ingat, kalau nanti kamu kalah di persidangan, please lapaskan Elang dan jangan mengganggu hidupnya lagi. Kamu harus merawat bayi kamu sendiri."
Disti tidak mengubris omongan kakaknya. Yang jelas saat ini dia hanya ingin secepatnya mengusut permasalahan ini ke pengadilan sebelum Elang melakukan tuntutan lebih dulu padanya.
"Maafkan aku Lisna. Tapi, wanita miskin sepertimu tidak pantas bersanding dengan Elang. Aku satu satunya wanita yang pantas untuk menjadi istri Elang. Aku bisa memberikannya keturunan sebanyak yang dia inginkan." Ucap Disti seakan dia bicara langsung pada Lisna.
__ADS_1