Air Mata Terakhir Istri Pertama

Air Mata Terakhir Istri Pertama
Ya atau Tidak!


__ADS_3

Elang tidak menyerah begitu saja untuk membujuk Lisna agar mau menjadi menejernya. Hanya dua hari dia berhenti menemui Lisan. Hari ini dia kembali menemui Lisna berpura pura sebagai pasien yang akan konsultasi dengan dokter Yumna.


Lisna terdiam begitu melihat Elang kini berada di ruangan yang sama dengannya. Dia tidak habis pikir, bocah itu ternyata masih belum menyerah untuk menjadikannya menejernya.


"Kenapa diam saja? Apa tidak ada yang ingin kamu sampaikan?" Tanya Lisna bingung melihat Elang hanya duduk diam disana hampir setengah jam.


"Iya atau tidak."


Hanya kata itu yang keluar dari mulut Elang setelah begitu banyak waktu berlalu.


"Tidak." Jawab Lisna tegas.


"Iya atau tidak." Ulang Elang lagi.


"Tidak."


"Iya atau tidak."


"Tidak." Teriak Lisna tegas dengan raut wajah marah.


"Oke."


El berdiri dan dia langsung melangkah keluar dari ruangan itu tanpa sepatah katapun lagi.


"Tidak jelas." Rutuk Lisna.


Sebentar matanya melirik kearah sofa tempat tadi Elang duduk. Disana handphone Elang tergeletak dan ada panggilan masuk yang entah dari siapa.


"Ya ampun!"


Lisna meraih handphone itu, membawanya keluar dari ruangan itu untuk mengejar langkah Elang yang ternyata sudah tidak terlihat lagi.


Handphone itu berdering lagi, panggilan masuk dari nomor yang sama berkali kali. Dan entah dorongan dari mana, Lisna akhirmya menjawab panggilan itu.


"Halo."


Lisna ragu mengucapkan sapaan itu pada si penelpon diseberang sana.


"Iya, halo. Bisa bicara dengan mas Elang?"


"Maaf sebelumnya, ini siapa, ya?" Tanya Lisna penasaran.


"Oh kami dari pihak brand yang baru saja melakukan tanda tangan kontrak dengan mas Elang beberapa hari lalu. Kebetulan hari ini ada pemotretan dadakan.."


Lisna manggut manggut saja.


"Kalau boleh kami tahu, sekarang kami bicara dengan siapa?"


Pertanyaan itu membuat Lisna terdiam. Dia bingung harus menjawab apa. Takut salah jawab dan menjadi gosip lagi.


"Saya menenjer barunya mas Elang. Kebetulan mas Elang lagi di toilet, jadi saya yang menjawab panggilan ini."


Lisna memejamkan matanya meresa kesal pada dirinya sendiri karena mengakui sebagai menejer baru seperti yang Elang inginkan.


"Kak Lisna, ya?" Tebak wanita itu.


"Iya, mbak. Saya Lisna menejer barunya mas Elang." Ulang Lisna dengan raut wajah kesal.


"Ya sudah, kalau begitu kak Lisna bisa memberitahu mas Elang untuk datang pemotretan nanti siang."


"Baik, mbak. Nanti saya sampaikan."


"Terimakasih kak Lisna."


"Iya, sama sama."


Panggilan berakhir. Lisna malah berdiri diam dengan pikiran bingung tidak tahu harus melakukan apa.

__ADS_1


"Iya atau tidak."


Itu suara Elang yang muncul entah dari arah mana.


"El, kamu.."


"Iya atau tidak."


Lisna menarik napas dalam dalam lalu menghembuskan perlahan.


"Berapa gaji-ku perbulan?" Tanya Lisna.


Elang tidak langsung menjawab, dia malah mendekatkan wajahnya ke wajah Lisna hingga membuat Lisna melangkah mudur beberapa langkah menjauh dari Elang.


"Aku kira kak Lisna bukan wanita mata duitan, eh ternyata sama saja."


"Aku memang bukan mata duitan, tapi aku butuh duit untuk melanjutkan hidupku." Jawab Lisna tegas.


Elang tampak berpikir sejenak.


"Berapa yang kak Lisna inginkan?"


"Sepuluh juta perbulan." Sebut Lisna asal, supaya Elang membatalkan keinginaanya memaksa Lisna menjadi menejernya.


"Oke, deal!"


Mata Lisna membola menatap tangan Elang yang terulur padanya untuk melakukan deal tanda persetujuan.


"Kamu serius?"


"Iya. Gaji kakak perbulan sepuluh juta. Akan aku transfer setiap akhir bulan."


"Kamu tidak waras, El."


"Loh kok kak Lisna malah mengatai aku tidak waras? Memang aku melakukan apa lagi kak.."


"Ada kok."


"Jangan bohong."


"Aku tidak bohong, kak. Aku serius."


"Terserah."


Lisna meberikan handphone kembali pada Elang, lalu dia melangkah kembali masuk ke ruangannya.


Elang tertunduk lesu. Tadi dia pikir akan berhasil merayu Lisna, ternyata masih gagal seperti sebelumnya.


"Siang nanti ada pemotretan dengan brand yang baru tanda tangan kontrak sama kamu, El. Jangan sampai telat jemput aku!" Seru Lisna yang memperlihatkan sedikit wajahnya dibalik daun pintu ruangannya.


"Maksudnya?"


"Deal, sepuluh juta perbulan." Ulang Lisna tersenyum dan mengedipkan mata pada Elang sebelum dia menutup rapat kembali pintu ruangannya.


"Yes! Yes, yes, yes!"


Elang bersorak kegirangan.


"Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa selangkah lebih maju." Gumamnya senang.


*


*


*


Hari pertama Lisna menjadi menejer Elang. Tugasnya simple, hanya menemani Elang ke lokasi shooting, memilihkan pakaian yang sesuai dengan gaya Elang dan ikut menemani Elang meeting dengan berbagai brand yang telah tanda tangan kontrak dengannya.

__ADS_1


"Kakak lapar nggak?" Tanya El yang baru saja selesai pemotretan.


"Lapar sih, tapi kan masih ada satu pemotretan lagi." Jawabnya.


El tersenyum gemas mendengar bagaiman cara Lisna bicara. Ada nada manja manja kesalnya gitu.


"Nih, pengganjal perut."


"Permen? Penggenjal perut.."


"Anggap saja begitu, kak. Maklumi saja di hari pertama ini, lain kali aku akan siapkan cemilan yang mengenyangkan buat kak Lisna. Oke."


El membuat gaya menembak dengan tangannya lengkap dengan kedipan matanya. Kemudian dia berganti pakaian untuk pemotretan terakhir.


Kenapa aku malah terjebak disini??


Lisna duduk sambil mengunyah permen karet yang diberikan Elang beberapa saat lalu. Matanya menatap Elang yang berpose di depan kamera.


"Tidak salah dia menjadi idola para gadis gadis. Sudahlah tinggi, bertubuh atletis, gagah dan manis." Gumam Lisna tanpa sadar memuji Elang.


Andai Elang mendengar langsung Lisna memujinya, mungkin dia sudah terbang tinggi menembus langit ke tujuh sangking bahagianya.


Ting…


Notif DM di handphone Elang. Lisna mengusap layarnya keatas dan nampaklah sekilas tulisan di layarnya.


(Hai, beb I miss you)


"Pacarnya kali ya."


Lisna menutup kembali layar handphone Elang.


Ting…


"Siapa lagi sih, sibuk amat."


Lisna melihat lagi notif kali ini di WA.


Disti:


#Hai, El. Aku kangen kamu.


"Mmh.. satunya bahasa inggris, satunya lagi bahasa ibu. Dasar playboy." Rutuk Lisna mengatai Elang playboy tanpa tahu cerita yang sebenarnya.


Ting…


"Lagi? Dari siapa lagi kali ini.."


Belum sempat Lisna melihatnya, Elang sudah lebih dulu meraih handphone-nya dari tangan Lisna yang berhasil membuat Lisna terkejut.


"El?!"


"Kak Lisna membacanya?"


Elang memeriksa pesan yang masuk ke handphone-nya.


"Dikit." Jawab Lisna merasa tidak enak hati.


"Mereka hanya cewek cewek yang suka merayu. Dan bukan siapa siapa untukku."


"Tidak usah main rahasia rahasian sama menejer sendiri kali, El. Toh ada bagusnya juga kan kalau menejer kamu ini tahu yang mana yang pacar kamu dan yang mana yang selingkuhan kamu. Ya, itung itu…"


Cekrekkk


Elang tiba tiba memotret Lisna. Lalu memperlihatkan hasil jepretannya pada Lisna.


"Ini calon istriku." Bisik Elang pada Lisna.

__ADS_1


Mata Lisna berkedip beberapa kali menatap wajahnya yang terpampang dilayar handphone Elang.


__ADS_2