Air Mata Terakhir Istri Pertama

Air Mata Terakhir Istri Pertama
Diikuti!!


__ADS_3

Lisna bangun lebih dulu dari suaminya. Karena dia mau sholat subuh, kemudian langsung bersiap untuk berangkat kerja.


"Mas, bangun!" Bisiknya lembut.


Fauzi membuka matanya dan mengedipkannya berkali kali sebelum akhirnya memeluk Lisna.


"Sudah siang, mas. Bukankah mas bilang ada rapat pagi ini?" Tutur Lisna mengingatkan.


"Oh sungguh aku tidak bisa lagi bangun terlambat." Rutuknya merengek bermanja pada Lisna.


"Jangan mengeluh. Itu sudah menjadi tanggung jawab mas sejak bekerja di perusahaan.."


"Kamu kok sekarang jadi bawel, lebih banyak bicara."


Lisna hanya tersenyum menanggapi omongan Fauzi. Dia melepaskan diri dari pelukan Fauzi untuk bersiap berangkat ke kantor.


"Kamu sudah mau berangkat se pagi ini?"


"Iya mas." Menyandang tas lusuhnya.


"Nanti saat aku gajian pertama kali, aku akan membelikan kamu tas yang baru." Ucap Fauzi.


"Benaran, mas?" Lisna tampak senang.


"Iya sayang. Mas janji."


"Baiklah, aku tunggu seminggu lagi."


Lisna pun meraih tangan Fauzi untuk diciumnya punggung tangan itu.


"Aku pergi dulu ya, mas. Assalamualaikum."


"Waaaikumsalam. Hati hati, sayang."


Fauzi melambaikan tangan mengiringi kepergian Lisna. Kemdian dia bangkit dari tempat tidur dan segera menuju kamar mandi untuk mandi.


Saat tiba di kamar mandi, matanya membola melihat seragam untuk dia berangkat ke kantor sudah disiapkan oleh Lisna. Stelan jas itu di hanger rapi di ruang ganti di sudut kamar mandi mewah itu.


"Lisna benar benar istri terbaikku. Meski aku sudah menyakitinya berkali kali, dia tetap menjadi istri terbaik untukku." Puji Fauzi pada istri pertamanya.


Sayangnya pujian Fauzi akan segera hilang dan terlupakan saat dia kembali bersama istri mudanya yang suka menghasutnya.


Waktu terus berlalu, Fauzi kini sudah siap untuk berangkat kerja. Dia menyusul Wulan yang masih dandan di kamarnya.


"Kamu sudah cantik sayang." Puji Fauzi.


"Mas. Kamu mengagetkan saja."


Langkahnya mendekati Wulan. Dipeluknya istri mudanya itu dari belakang.


"Aku merindukan kamu, sayang."


"Bohong."

__ADS_1


"Loh mas serius loh, sayang."


"Saat sama mbak Lisna mas lupa sama aku." Ujar Wulan merajuk.


"Tidak sayang, mas tidak melupakan kamu." Mengecup ceruk leher Wulan yang memiliki wangi memabukkan bagi Fauzi, bahkan sampai membuat Fauzi gerah meski masih pagi.


"Mas, kita berangkat yuk. Kita ada rapat pagi ini."


Fauzi mendengus kesal karena tidak bisa menyentuh Wulan pagi ini.


"Sabar ya mas. Nanti saja di kantor saat waktu luang." Bisik Wulan.


"Benaran? Janji ya.."


"Iya, mas. Udah ah yok kita berangkat."


Mereka pun segera berangkat, tentu saja juga bersama Queen. Pagi ini mereka melewatkan sarapan, karena harus tiba di kantor lebih pagi dari biasanya.


"Ma, pagi ini aku juga tidak melihat ibu?"


"Ibu berangkat kerja lebih awal seperti biasanya sayang."


"Mama tidak memalahi ibu kalena aku, kan?"


"Tidak, sayang."


Wulan mencoba meyakinkan putri kecilnya itu yang tampak sedih karena tidak lagi melihat Lisna seminggu terakhir.


*


*


*


Beruntunglah langkah pria itu terhenti saat mobil Gunawan memasuki area parkiran kantor.


"Sial. Tunggu saja sebentar lagi, aku pasti bisa menyingkirkan wanita itu." Gumamnya sambil berbalik arah meninggalkan perkarangan kantor.


Gunawan menyadari gerak gerik mencurigakan pria tadi. Tapi, dia belum tahu kalau pria tadi punya niat jahat pada Lisna.


"Siapa pria itu? Kenapa preman sepertinya datang ke sini.."


Gunawan mulai memikirkan kemungkinan kemungkinan yang direncanakan pria bertato itu. Dia memikirkan itu sambil terus berjalan masuk menuju ruang kerjanya.


Saat tiba di ruang kerjanya, mata indahnya menatap sosok wanita yang disukainya sudah duduk rapi di sana dan mulai menyalakan komputernya.


"Pagi Lisna."


"Eh pak Gunawan, pagi pak."


"Saya sudah berusaha tiba di kantor lebih pagi dari kamu, tapi ternyata masih saja tetap kalah."


"Pak Gunawan bisa saja."

__ADS_1


Lisna kembali fokus pada layar komputer yang sudah menyala di depannya. Saat itu juga Gunawan duduk di kursi meje kerjanya dan mulai menyalakan laptopnya.


Suasana menjadi hening, waktu terus berlalu bahkan satu persatu karyawan telah tiba di kantor dan mulai mengerjakan tugas mereka masing masing. Tapi, ada yang mengganggu pikiran Lisna. Dia celingukan seakan mencari keberadaan seseorang.


"Mbak, Aida mana?" Tanya Lisna akhirnya pada teman di meja sebelah meja Aida.


"Dia sakit katanya."


"Sakit?" Ulang Lisna.


"Iya. Flu dan batuk." Jelas wanita itu.


"O gitu."


Lisna kembali melanjutkan pekerjaannya dan suasana kembalu hening seperti sebelumnya.


Di kantor, perusahaan Wulan. Fauzi tengah kesusahan mempelajari banyak file yang tidak dimengertinya. Asisten yang diperintahkan Wulan untuk mengajarinya malah semakin membuat Fauzi merasa kesusahan.


"Tolong kamu keluar dari sini. Panggilkan ibu Wulan, sekarang!" Titah Fauzi dengan gaya bos yang suka memerintah karyawannya.


"Baik pak, Fauzi."


Pria muda yang merupakan asistennya itu langsung keluar dari ruangan itu. Lalu dia menyampaikan pesan Fauzi pada Wulan yang juga sedang sibuk bekerja di ruang kerjanya.


"Bu, pak Fauzi meminta ibu untuk datang ke ruangannya."


"Ya. Kamu pergi sana!" Jawab Wulan tanpa bertanya apa apa pun lagi pada asisten yang baru diperkerjakannya selama dua minggu terakhir.


Kenapa lagi sih dengan mas Fauzi. Tinggal cek aja semua filenya kok susah.


Meski malas, Wulan tetap melangkah menuju ruangan Fauzi yang sudah dia tetapkan sebagai CEO perusahaannya.


"Ada apa lagi, mas? Aku sibuk loh, banyak pekerjaan yang menumpuk juga." Oceh Wulan.


"Sayang, boleh nggak sih mas istirahat bentaran. Dua puluh menit deh. Mau tidur, ngantuk banget ini mata." Celotehnya.


Sebentar Wulan tampak mengehala napas. "Ya sudah mas tidur saja. Tapi mas harus tahu peraturan kantor terbaru."


"Apa?"


"Karyawan yang ketahuan tidur saat jam kerja, akan mendapatkan pemotongan gaji sebanyak 5 persen."


Fauzi mendengus kesal. Niatnya untuk tidur dia urungkan. Rugi dong nanti menerima gaji pertama tapi tidak seutuhnya.


"Iya deh, nggak jadi tidur. Tapi, bisa tolong ajarin nggak sayang. Asisten yang tadi, suka berbelit belit kalau menielaskan. Jadi tambah bingung."


Wulan tersenyum, kemudian dia melangkah mendekati Fauzi, lalu duduk diatas paha Fauzi dengan wajahnya menghadap ke layar komputer.


"Aku bantu mas memahami file file ini, tapi dengan syarat."


"Apa syaratnya?"


"Nanti malam mas tidur di kamarku."

__ADS_1


Fauzi tediam, baru juga satu malam dia tidur di kamar Lisna, masak harus kembali ke kamar Wulan.


"Tapi, mas baru tadi malam loh sayang tidur di kamar Lisna. Kalau mas tidur ke kamar kamu lagi nanti malam, itu artinya mas menjadi suami yang tidak adil." Bisiknya di telinga Wulan sambil memberikan ciuman di ceruk leher Wulan yang wanginya selalu memabukkannya.


__ADS_2