
Elang tampak fokus mengendalikan setir mobilnya. Kini dia akan membawa Lisna untuk makan siang, meski hari sudah cukup sore. Tidak apa terlambat dari pada tidak sama sekali.
Tidak ada pembicaraan antara mereka. Suasana menjadi canggung setelah El mengatakan Lisna calon istrinya. Tentu saja Lisna tidak setuju, tapi dia jadi malas untuk bicara sama Elang, takut El menanggapi berbeda dengan apa yang dia pikirkan.
Suara handphone Elang memekakkan telinga. Ada panggilan masuk dari salah satu teman club sepak bola-nya.
"Iya bro."
"Ini lagi di jalan, mau cari makan." Jawab Elang yang masih fokus menatap kedepan.
"Main? Sore ini.. oke. Siippp.."
Panggilan berakhir, menyisakan senyum sumringah di wajah Elang.
"Kak, temani tanding bola lagi ya?"
Lisna hanya mengangguk tanpa menatap pada Elang. Dan Elang pun ikut mengangguk, lalu dia menambah kecepatan laju mobil untuk tiba lebih awal di tempat makan.
Mereka makan di tempat makan sambal lalapan yang lagi terkenal itu. Nah di tempat ini duduknya lesehan, disuguhi pemandangan indah taman air dan bunga. Disini juga lengkap dengan fasilitas musholanya juga.
"El, aku ke toilet dulu. Kamu pesan saja dulu makanannya!" Seru Lisna yang langsung melangkah ke bagian toilet di dekat mushola kecil.
Ternyata Elang juga ikut melangkah ke mushola. Tapi, Elang tidak tahu kalau ternyata Lisna juga punya tujuan yang sama yaitu mushola, toilet hanya alasan belaka karena tidak enak mau bilang izin ke mushola, terlebih Lisna belum begitu mengenal Elang.
Rupanya, kini mereka berdua sholat hampir bersamaan. Elang sholat di depan sendirian, dan Lisna juga sholat di belakang sendirian.
Elang lebih dulu selesai sholat, tidak sengaja Lisna menatap ke depan dan melihat Elang yang sedang melipat sajadahnya. Tidak ingin Elang melihatnya, Lisna menutupi wajahnya dengan mukena seakan berpura pura sedang berdoa.
Untungnya Elang tidak menyadari bahwa itu adalah Lisna, meski dia sempat curiga dan memperhatikan dari jauh.
"Elang rajin sholat juga ternyata. Aku kira anak muda superstar sepertinya tidak mengenal yang namanya sholat." Bisik Lisna pada dirinya sendiri.
Setelah selesai, Lisna langsung kembali menemui Elang yang sudah siap memesan makanan sesuai menu yang ada. Jadi semua lauk dia pesan lengkap dengan lalapan.
"El, kamu memesan sebanyak ini?" Tanya Lisna kaget melihat meja mereka begitu penuh dengan makanan.
"Memang kenapa?"
El mulai menyentong nasi kedalam piringnya dan mulai menyantap nasi putih itu dengan ikan gurame bakar sambal mentah dan lalap terong, timun dan daun kemangi.
__ADS_1
Lisna juga ikut makan. Dia makan makanan yang sama dengan yang Elang makan. Jadi, mereka hanya menghabiskan satu ikan panggang gurame saja.
Elang tidak protes saat Lisna ikut makan ikan yang sama dengannya. Malahan dia merasa bahagia, kapan lagi bisa makan berdua dengan pujaan hati.
"Kalau kak Lisna mau nyicip lauk lain boleh kok kak. Ini semua makanan aku yang bayar." Ujar El menyarankan.
"Tidak usah, toh ikan guramenya enak. Aku suka."
"Ya sudah kalau tidak mau."
Mereka lanjut makan, menikmati makanan tanpa ada obrolan lagi sama sekali. Elang biasanya suka banyak bicara, tapi saat sama Lisna, terlebih status Lisna saat ini bukan lagi istri orang, membuat Elang merasa salah tingkah dan gugup. Sementara Lisna, dia hanya tidak mood untuk memulai obrolan karena sedang menikmati makan siangnya yang terlambat.
*
*
*
Lapangan bola kaki.
Elang sudah berganti pakaian, dia siap untuk bertanding bola sore ini. Lisna duduk paling depan menonton pertandingan itu bersama pasangan dari teman teman tim Elang.
Pertandingan sangat seru. Lawan main mereka sangat hebat juga, kumpulan pemain nasional yang telah di pilih langsung dalam seleksi. Sementara tim Elang hanya pemain bentukan karena sangking senangnya mereka main bola. Tapi meski begitu mereka tampak seimbang, bahkan hingga waktu terus berjalan, babak awal hampir selesai, masih belum ada yang berhasil mencetak gol. Pertahanan mereka sama sama kuat.
Pritttt…
Priiitttt…
Babak pertama pertandingan selesai dengan skor masih kosong kosong.
Semua orang berjalan kedepan ke pinggir lapangan untuk menghampiri kekasih mereka atau sahabat mereka atau malah anak mereka yang selesai main untuk memberikan minum, handuk ataupun pelukan.
Sementara Lisna tetap duduk diam di kursinya. Toh dia lihat ada seorang selebritis yang juga di gosipkan dekat dengan Elang, sudah memberikan Elang handuk kecil dan sebotol air mineral. Jadi, untuk apa juga Lisna menghampiri artisnya itu.
"Kak!" Seru Elang lantang dari pinggir lapangan.
Tangannya melambai kearah Lisna. Dia tersenyum manis pada Lisna hingga membuat tangan Lisna otomatis ikut melambai dan bibirnya tersenyum.
Cukup lama Elang menatap Lisna sambil tersenyum, sampai akhirnya selebritis tadi menarik Elang untuk duduk disampingnya.
__ADS_1
"Apa dia yang bernama Disti?" Gumam Lisna penasaran.
Langsung saja Lisna stalking google dan mencari nama artis Disti Wilita.
"Oh iya, dia Disti."
Lisna manggut manggut. Membaca berita berita terkait Disti dan Elang yang sempat di jodoh jodohkan fans karena mereka sering terlihat bersama. Tapi keduanya sama sama menyangkal dan hanya mengaku sebagai sahabat saja, begitu yang tertulis diartikel itu.
Sebentar Lisna menatap lagi kearah Elang dan Disti di bawah sana. Mereka tampak asyik mengobrol sambil saling tertawa dan Disti tampak bergelantungan di lengan Elang.
"Cantik dan ganteng. Pasangan yang serasi." Ujar Lisna.
Lalu tiba tiba handphone-nya berdering. Ada panggilan masuk dari Mirna.
"Halo, mbak Mirna."
"Kamu dimana, Lis?"
"Aku lagi di stadiun lapangan bola mbak. Ada apa?"
"Nggak ada apa apa sih, cuma mau ngasih tau aja. Kayaknya mantan suami kamu sama istrinya terlibat penggelapan uang perusahaan. Rumah dan mobil mereka di sita bank." Tutur Mirna memberitahu Lisna tentang keadaan Fauzi dan Wulan.
"Mbak dengar beritanya dimana?"
"Dari saudaraku. Kan, aku punya saudara yang rumahnya tetanggaan dengan rumah mertuamu."
"Mmh, gitu."
"Satu lagi Lis, beberapa bulan lalu mantan adik ipar kamu juga terlilit hutang rentenir. Hampir dibawa dia sama rentenir."
"Fitri, dia memang terlalu suka menghambur hamburkan uang." Ujar Lisna merasa kasihan atas nasib yang menimpa keluarga itu.
"Kamu baik baik saja kan, Lis?"
"Alhamdulillah aku baik baik saja, mbak."
"Ya syukurlah. Kamu berhak mendapatkan yang lebih baik dari Fauzi dan keluarganya, Lisna."
"Iya mbak. Semoga Allah mengirimkan yang terbaik dan bisa menerima aku dengan segala kekuranganku."
__ADS_1
Lisna mengakhiri pembicaraan itu karena pertandingan babak kedua akan segera dilanjutkan.