
Pagi harinya, Lisna membuka mata. Dia bingung karena terbangun diatas ranjang yang luas dan jelas ini bukan kamarnya. Matanya melirik sekeliling kamar yang sangat luas bahkan lebih luas dari ruang tamu di rumahnya.
"Kakak sudah bangun?"
Suara itu milik El. Dia datang membawakan semangkuk bubur untuk Lisna lengkap dengan segelas air putih.
"Siapa kamu? Kenapa aku bisa ada di sini.." Lisna langsung merubah posisinya yang tadi berbaring menjadi duduk.
"Aku El, kak. Ini di rumahku dan ini kamar tamu. Tadi malam kakak pingsan, jadi aku sama mama membawa kakak ke sini." Jelas El dengan nada pelan namun cepat.
Lisna tampak mengingat kejadian tadi malam. Ya, dia ingat saat dia hampir terjun di jembatan, ada seorang wanita yang menyelamatkannya. Tapi, Lisna tidak mengingat bocah SMP ini sama sekali.
"Mama sudah berangkat ke kantor. Aku juga harus berangkat sekolah, jadi kakak tetap di rumah saja dulu. Makan buburnya, lalu nanti kakak bisa istirahat seharian di kamar ini. Kalau butuh sesuatu, kakak bisa menekan bel ini.." El menunjuk tombol on off di samping ranjang. "Saat kakak menekannya, seseorang akan datang menemui kakak."
Lisna tidak begitu fokus mendengarkan ocehan El. Dia malah mengingat semua runtutan kejadian yang dialaminya tadi malam. Dia teringat kedua orangtua dan juga kakaknya.
"Aku berangkat sekolah dulu, kak."
El tidak peduli Lisna mendengarkannya atau tidak. Dia sudah berusaha memberitahu gadis itu meski sebenarnya El tahu gadis itu tidak mendengarkannya karena gadis itu fokus pada hal lain yang berputar dipikirannya.
Begitu El menghilang dari balik pintu kamar itu, Lisna langsung bangkit dari tempat tidur. Dia meraih tas ranselnya yang tergeletak di atas sofa yang ada di kamar itu dan jelas tasnya basah, tapi Lisna tidak menyadari kini dia tidak lagi memakai seragam sekolahnya seperti tadi malam, dia memakai stelan piyama lengan panjang dan celana panjang milik El. Karena badan El sama tinggi dengan Lisna jadi piyamanya muat di tubuh Lisna.
Langkah Lisna membawanya membuka pintu kamar, lalu melangkah cepat hingga bisa mengejar langkah El yang sudah hampir tiba di ruang depan.
"Terimakasih atas bantuan kalian. Sampaikan terimakasihku pada mama kamu. Aku pergi dulu." Pamit Lisna langsung berlari menuju pintu utama rumah itu.
"Kak, tungguuu.." El mengejar langkah Lisna tapi sayang Lisna berlari dengan sangat cepat.
Bahkan saat El berhasil melewati pintu utama, Lisna malah sudah keluar dari pintu gerbang.
"Pak Jo, ikuti kakak itu." Tunjuk El kearah Lisna yang sudah naik angkot.
"Baik den."
Pak Jo supir pribadinya mengemudikan mobil mengikuti angkot yang ditumpangi Lisna.
__ADS_1
"Den, bukannya den harusnya berangkat ke sekolah?" Tanya Jo yang mulai khawatir El akan terlambat ke sekolah.
"Pikirkan nanti saja, pak. Sekarang kita ikuti saja dulu angkot itu. Kakak tadi ada di sana. Aku khawatir dia nekad mencoba bunuh diri lagi." Tutur El tampak sangat khawatir.
"Baik den."
Mobil mereka terus mengikuti angkot, hingga akhirnya angkot berhenti tepat di depan rumah sakit.
"Loh kok rumah sakit? Ngapain kakak itu ke rumah sakit?"
El yang bingung pun meminta pak Jo untuk masuk ke perkarangan rumah sakit dan parkir di depan rumah sakit.
"Pak Jo tunggu disini ya. Aku mau mengikuti kakak itu ke dalam." Titah El yang langsung keluar dari mobil dan berlari mengejar Lisna yang juga berlari di depan sana.
*
*
*
Lisna tadinya naik angkot minta diantarkan pulang ke rumahnya. Tapi, saat angkot tiba di perempatan untuk menuju jalan ke rumahnya, dia mendapat telepon dari bude tentangga sebelah rumahnya.
"Apa? Bude tidak bohong kan?" Tanya Lisna khawatir. Wajahnya berubah menjadi sendu, tarikan napasnya naik turun tidak beraturan.
"Di rumah sakit mana, bude?" Air matanya mulai menetes.
Lisna merasa seluruh tubuhnya lemas dan dia merasa seakan dunia benar benar hancur mendapat kabar duka dari bude barusan.
Wanita itu mengabarkan bahwa kedua orangtua Lisna dan kakaknya mengalami kecelakaan mobil tadi malam. Mobil yang dikemudikan papanya jatuh terpeleset masuk jurang karena jalanan yang licin.
"Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan. Mengapa kau mengabulkan doaku yang tak seharusnya aku ucapkan." Ujar Lisna sambil terus menangis membuat penumpang lain dan sopir meresa heran bercampur khawatir.
"Pak tolong antar ke rumah sakit orangtua-ku kecelakaan." Ucapnya sambil menangis.
Begitu lampu kembali hijau sopir angkot langsung tancap gas menuju rumah sakit yang dimaksud Lisna yang memang kebetulan jalannya juga merupakan rute angkot tersebut.
__ADS_1
Saat angkot berhenti di depan rumah sakit, Lisna langsung keluar tanpa membayar ongkos. Lisna benar benar lupa sangking paniknya dia. Untungnya sopir angkot itu baik hati, jadi dia pun mengiklaskan kerugianya yang hanya beberapa ribu rupiah saja.
Lisna langsung menemui resepsionis dan menanyakan keberadaan kedua orangtua dan kakaknya. Saat itu juga El mendengar suara Lisna cukup jelas karena dia berada tepat di belakang gadis itu.
"Suster, dimana pasien kecelakaan mobil tadi malam. Mobilnya masuk jurang.." Tanya Lisna masih sambil menangis.
"Tunggu sebentar ya dek." Wanita itu tampak mencari pasien yang dimaksud Lisna melalui komputernya.
Setelah menemukan pasien yang dimaksud, wanita itu pun menanyakan siapa Lisna.
"Adek siapanya mereka?"
"Saya anak mereka." Jawab Lisna lemas.
"Ketiga pasien itu apakah atas nama bapak Wira, ibu Lita dan Lia?"
"Iya, mereka orangtua dan kakak saya.. dimana mereka?" Tanya Lisna sudah tidak sabar.
"Maaf adek, pasien sudah di pindahkan ke kamar mayat. Mereka telah meninggal dua jam yang lalu."
Lisna terdiam. Dia tidak bisa bernapas, sungguh dia lupa cara bernapas saat mendengar kenyataan bahwa mama, papa dan kakaknya telah meninggal.
Bruukkk…
Tubuh Lisna ambruk kelantai begitu saja. Dia kehilangan kesadaran.
"Kakak.."
El langsung mengejar Lisna dan memangku kepalanya. Sementara wanita resepsionis itu menghubungi suster untuk membawakan ranjang troli untuk pasien.
"Adek siapanya?" Tanya wanita itu pada El.
"Aku teman kakak ini. Tolong bantu kakak ini, buk. Mamaku akan membayar tagihan rumah sakitnya." Jelas El meyakinkan pihak rumah sakit agar mereka bersedia membantu Lisna.
Saat itu troli tiba, tubuh Lisna dinaikkan ke sana, lalu dibawa ke poli umum untuk diperiksa keadaannya. Sedangkan El langsung menelpon mamanya dan mengabarkan tentang Lisna dan juga keluarga Lisna yang telah meninggal.
__ADS_1
"Mama cepat kesini, ma. Kasihan kak Lisna." Ujar El yang ikut menangis merasakan duka yang dialami oleh Lisna.
Setelah mendapat jawaban dari mamanya, dia pun langsung menengok keadaan Lisna yang ternyata sudah diberi bantuan oksigen karena Lisna mengalami kesulitan bernapas.