
Hari ini Elang dan Lisna terbang ke London untuk menikmati bulan madu mereka. Elang memilih London, karena memang sejak dulu dia ingin mendatangi London bersama seseorang yang berarti dalam hidupnya.
"Ma, aku berangkat dulu ya." Lisna pamitan pada mama mertuanya.
"Iya sayang. Bahagia selalu ya di sana. Jangan memikirkan hal hal yang tidak bermanfaat. Nikmati saja bulan madu kalian." Saran Luna pada menantunya itu.
"Iya, ma. IsnyaAllah aku akan bahagia bahagia saja selama perjalanan."
Lalu, Lisna juga pamitan pada papa mertuanya yang sangat baik padanya.
"Jaga diri. Jangan berantem sama El."
"Iya pa."
Giliran Elang yang pamitan sama mamanya.
"Jaga Lisna. Jangan sampai buat Lisna bersedih."
"Iya ma. Mama juga doakan supaya kami bahagia terus selama di sana."
"Doa mama selalu menyertai kalian."
Luna memberikan pelukan hangat pada putranya itu dengan menepuk nepuk punggungnya.
"Pa, aku pamit ya. Jaga mama."
__ADS_1
"Soal jaga mama sudah pasti papa ahlinya. Kamu yang harus ingat untuk selalu menjaga Lisna. Jangan sampai kebahagaiaan Lisna hilang dari wajahnya."
"Siap pa. Mohon doanya juga ya pa."
"Papa selalu mendoakan kalian."
Lisna dan Elang mulai masuk kepesawat, meninggalkan Luna dan Sultan yang masih menunggu di bandara sampai pesawat yang ditumpangi mereka terbang.
Sementara itu, berita tentang kehamilan Disti yang mengakui bayinya adalah bayi Elang sudah menyebar keseluruh masyarakat. Ada yang menuding Elang pria tidak bertanggung jawab dan tidak sedikit juga yang merendahkan Disti karena tidak punya malu melaporkan kasus yang berakhir merendahkan dirinya sebagai seorang wanita.
Luna yang merasa terbawa oleh berita miring itu, langsung menelpon Elang dan menanyakan perihal tuntutan Disti yang mengaku diperkosa oleh Elang.
"Tidak ma. Demi Allah, berita itu hanya fitnah. Aku tidak pernah berbuat seperti itu pada wanita manapun."
Elang mencoba meyakinkan ibunya. Dia juga baru membaca berita yang menurutnya sangat dibuat buat dan sungguh murahan itu.
Lisna memeluk Elang dari belakang. Dia membenamkan wajahnya di punggung suami tingginya itu. Tangan Elang mengelus lembut tangan Lisna yang melingkar di perutnya.
"Sudah dulu ya, ma. Aku sangat merindukan mas Elang. Aku ingin berduaan dengan mas Elang." Teriak Lisna tiba tiba kearah handphone ditelinga Elang.
Luna merasa lega mendengar suara Lisna yang tampak baik baik saja. Barulah dia mengakhiri pembicaraannya dengan putranya itu.
Elang langsung berbalik badan untuk bisa memeluk Lisna dari depan.
"Kamu baik baik saja, sayang?" Elang menarik dagu Lisna agar bisa menatap wajah cantik nan imut itu.
__ADS_1
"Haruskah aku menangis setelah membaca berita rendahan itu?" Tanya Lisna.
"Tidak." Elang mengelus lembut wajah itu. "Jangan pernah percaya pada berita rendahan itu, meski sedikit saja."
"Tidak akan. Karena aku hanya percaya pada suamiku."
Lisna kembali melingkarkan tangannya erat untuk masuk dalam pelukan suaminya. Elang pun membalas pelukan itu dengan hangat. Mereka baru saja tiba di London sekitar satu jam yang lalu.
Setibanya di hotel, mereka hanya tiduran mengistirahatkan diri. Lalu terbangun saat mama menelpon menanyakan tentang kebenaran berita yang disebarluaskan oleh Disti.
"Apa yang akan terjadi pada Disti saat kita memberitahu bahwa apa yang dia katakan adalah kebohongan?"
"Tentu saja dia akan malu, sayang."
"Kalau begitu, jangan beri tanggapan apapun terkait berita itu, mas. Biarkan Disti berkoar koar sendirian sampai dia puas. Aku tidak ingin dia dipermalukan dan merasa frustasi saat kita membongkar semua kebohongannya."
Elang menatap wajah Lisna dengan tatapan bingung. Dia tidak mengerti bagaimana cara berpikir Lisna yang masih memikirkan kondisi mental seseorang yang telah berbuat jahat padanya.
"Tapi, kalau sampai dia menyakiti kamu atau malah menyeret kamu dalam masalah ini. Aku tidak janji untuk hanya tinggal diam saja, sayang. Tidak ada yang boleh menyakiti kamu termasuk diriku sendiri." Elang menegaskan.
Lisna hanya tersenyum manis, menatap wajah kesal Elang membuatnya merasa gemas, hingga akhirnya Lisna menempelkan bibirnya tepat dibibir suaminya itu. Mendapat ciuman dari Lisna membuat Elang merasa sedikit lebih tenang.
"Mau berpetualang, sayang?" Bisik Elang di telinga Lisna yang membuatnya merinding.
Tanpa perlu menunggu jawaban dari Lisna, Elang langsung menggendong tubuh Lisna menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Aku ingin berpertualang di kamar mandi." Ujar Elang. "Jangan membantah dan rasakan saja apa yang aku berikan padamu, sayangku, istriku tercinta."
Elang membawa Lisna ke kamar mandi. Tidak lupa dia mengunci pintu kamar mandi dengan rapat sebelum melakukan pertualangannya menuju dunia dogeng yang indah bersama istri tercinta.